Begini Kronologi Penganiayaan Soal Pabrik Semen di Padaherang

06/01/2014 1 Comment
Begini Kronologi Penganiayaan Soal Pabrik Semen di Padaherang

Iin Hindiana (baju hitam), korban penganiayaan yang dipicu dari polemik rencana pabrik semen di Padaherang. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Padaherang, (harapanrakyat.com),-

Setelah rencana penambangan bahan baku semen sekaligus pendirian pabriknya, di Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, digulirkan, beberapa waktu lalu, memunculkan pro dan kontra di masyarakat setempat. Akibatnya, masyarakat Padaherang menjadi ‘terbelah dua’.

Dari informasi yang dihimpun HR di lapangan, meski di permukaan tampak banyak masyarakat yang menolak dengan menggelar berbagai aksi unjuk rasa, namun tak sedikit pula masyarakat setempat yang pro atau mendukung terhadap pendirian pabrik semen.

Namun, masyarakat ‘pendukung’ pabrik semen tidak menampakan diri. Mereka melakukan gerakan penggalangan dukungan dengan cara ‘geriliya’ dan dari mulut ke mulut.

Ketika rencana pabrik semen ini semakin menguat, menyusul pihak investor semen sudah memiliki surat ijin lokasi pendirian pabrik semen, membuat intensitas gerakan unjuk rasa dari masyarakat yang kontra semakin tinggi. Polemik pun mulai muncul, masyarakat ‘pendukung’ pabrik semen mulai meradang.

Puncaknya, saat sekitar 250 massa yang kontra, Jum’at (03/01/2014) malam, menggelar aksi unjuk rasa dengan melakukan pemblokiran jalan di lintasan jalan raya Padaherang. Selain unjuk rasa, mereka pun memasang spanduk yang berisi penolakan terhadap rencana pabrik semen. Spanduk itu dipasang di rumah warga, warung dan sejumlah fasilitas umum.

Iin Hindiana, warga Desa Kedungwuluh, Kecamatan Padaherang, yang merupakan kelompok massa yang kontra terhadap pendirian pabrik semen, harus mendapat ‘bogem mentah’ dari salah seorang ‘pendukung’ pabrik semen.

Iin dianiaya karena dianggap sebagai provokator massa saat aksi unjuk rasa dan pemasangan spanduk. Sementara pelaku penganiayaan adalah Dik alias Uyo. Dia adalah salah seorang ‘pendukung’ pendirian pabrik semen. [Baca: Polemik Pabrik Semen di Padaherang Timbulkan Aksi Penganiayaan]

Menurut Iin, kejadian penganiayaan yang dialaminya terjadi sekitar pukul 01.30 WIB, Sabtu (04/01/2014). Setelah usai menggelar unjuk rasa, dia bermaksud membeli rokok di sebuah warung, tepatnya di depan SPBU Padaherang.

Ketika berada di depan warung, Iin tiba-tiba didatangi Dik alias Uyo. Tanpa basa basi, Dik langsung memaki Iin dengan perkataan kasar.  “Sia jadi provokator pemasangan spanduk, wani sia ka aing (Kamu jadi provokotar pemasangan spanduk, berani kamu ke saya),” kata Iin yang menirukan perkataan Dik saat memakinya.

Ternyata tak hanya memaki, Dik pun langsung memukul wajah Iin sebanyak 2 kali. Pukulan Dik mengarah tepat di pipi kiri Iin. “Setelah dipukul, kemudian Dik mencekek leher saya sembari berkata akan mengajak preman untuk menutup paksa bengkel saya,” katanya. Iin di sekitar SPBU Padaherang membuka usaha bengkel las.

Iin mengatakan, saat dianiaya, dirinya langsung berpura-pura mengalah dan memohon kepada Dik untuk menghentikan aksinya, dengan alasannya anaknya tengah sakit di rumah. “Akhirnya, dia melepaskan saya. Setelah itu, saya langsung kontak teman saya Supardi, dan langsung bergegas ke Puskesmas untuk dilakukan visum. Setelah itu, kami melapor ke Polsek Padaherang,” ujarnya.

Setelah itu, merebak informasi bahwa ada warga Desa Kedungwuluh dianiaya. Kontan saja, sekitar 500 massa yang merupakan warga Kedungwuluh kembali turun ke jalan, Sabtu (04/01/2014) sekiar 20.00 WIB. Massa kemudian mendatangi Polsek Padaherang untuk menanyakan sejauh mana penanganan proses hukum kasus penganiayaan dengan korban salah seorang warganya.

Saat itu, Kapolsek Padaherang langsung menggelar pertemuan dengan sejumlah tokoh masyarakat Desa Kedungwuluh, bertempat di Madrasah Al furqon, di jalan Raya Pangandaran. Dalam pertemuan itu, Kapolsek mengatakan bahwa penanganan kasus penganiayaan itu langsung ditangani oleh Polres Ciamis.

Kapolsek pun meminta warga tetap tenang dan menjaga kondusifitas. Setelah itu, hasil pertemuan dengan Kapolsek, langsung diumumkan di pengeras suara masjid oleh Sekdes Desa Kedungwuluh.

Setelah mendengar informasi dari pengeras suara mesjid, massa kemudian bergerak ke rumah Her yang tidak jauh dari mesjid tersebut. Namun Her saat itu tidak ada di tempat. Rumah Her ini disinyalir oleh warga sebagai tempat koordinasi Dik bersama rekan-rekan yang pro terhadap pendirian Pabrik Semen.

Tidak berhasil menemui Her, kemudian ratusan massa dari Desa Kedungwuluh ini kembali berorasi di jalan raya Padaherang. Saat menggelar orasi, tiba-tiba melintas mobil truk Dalmas Polres Ciamis. Kontan saja, massa yang tengah marah itu langsung menghadang mobil truk Dalmas tersebut. Massa saat itu mengira bahwa pelaku penganiayaan berada di dalam mobil truk tersebut.

Kabag Ops Polres Ciamis, Kompol Sutisna, yang ikut dalam rombongan truk Dalmas, langsung menemui kerumunan massa. Dia langsung menjelaskan bahwa pelaku penganiayaan sudah dibawa ke Polres Ciamis. “Apabila warga tidak percaya, silahkan datang ke Mapolres Ciamis,” kata Kompol Sutisna saat menjelaskan kepada massa.

Sementara itu, Sekdes Desa Kedungwuluh, Setiawan Mulyana, membenarkan bahwa ada warganya yang dianiaya oleh seseorang terkait pro kontra rencana pendirian Pabrik Semen. Pihaknya atas nama warga berharap pihak kepolisian agar menyelesaikan kasus tersebut secara hukum.

“Tidak hanya dianiaya, tetapi korban pun diancam akan ditutup bengkelnya kalau ikut sebagai penggerak pemasangan spanduk penolakan pabrik semen,” katanya.

Setiawan juga menegaskan, Pemkab Pangandaran harus segera turun tangan untuk menyelesaikan  polemik rencana pabrik semen yang sudah melebar menjadi konflik horizontal di masyarakat. “ Kami warga Desa Kedungwuluh sudah harga mati menolak rencana pendirian pabrik semen dan pengambilan bahan bakunya,” tegasnya. (Mad/R2/HR-Online)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Akun January 12, at 22:53

    Pelakunya sudah bebas. Tadi saya liat pake motor mio :D

    Reply

Leave a Reply