Inilah Cerita Bioskop Kenanga Banjar Tempo Dulu

Inilah Cerita Bioskop Kenanga Banjar Tempo Dulu

Inilah foto dokumentasi keramaian bioskop kenanga Banjar, di era tahun 70-an yang masih menjadi magnet keramain di Kota Banjar. Foto: Dokumentasi salah seorang warga Banjar untuk HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Tempo doeloe, Banjar adalah ibu kota Kewadanan (Pembantu Bupati) di Kabupaten Ciamis. Wilayahnya terdiri Kecamatan Banjar, Cimaragas, Cisaga, dan Rancah. Kewadanan Banjar merupakan wilayah penghasil pendapat asli daerah (PAD) terbesar di Kabupaten Ciamis. Waktu itu Kecamatan Banjar dikenal sebagai kota yang tak pernah tidur.

Salah satu penunjang keramaian di Kec. Banjar adanya Gedung Bioskop Rialto, terakhir berganti nama menjadi Bioskop Kenanga, terletak di dusun Gudang, Kelurahan Hergarsari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar sekarang. Di zaman penjajahan Belanda tempat itu sebuah gudang pabrik tenun, dulu jalan itu bernama jalan Gudang, sekarang menjadi jalan R. Hamara Efendy.

Gedung bioskop itu dibangun pada tahun 1947 bernama Rialto, pemiliknya orang Belanda bernama tuan Bosca tinggal di Jalan Pasirkaliki Bandung, beberapa gedung bioskop di bangun di sekitar alun-alun dan di jalan Braga, Bandung. Tuan Bos ini juga membangun bioskop di Karawang, Garut, Ciamis dan Banjar.

Bioskop Rialto, dibangun di Banjar awalnya untuk tempat hiburan orang-orang Belanda yang bekerja di perkebunan karet Batulawang di Kabupaten Ciamis, dan perkebunan karet Montjolimo, Mergo Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap.

Bangunan bioskop milik tuan Bos ini, arsitektur Belanda (art-deco), termasuk bioskop Rialto, letaknya sangat strategis berdekatan dengan pasar, stamplatl angkutan umum, stasiun KA, losmen/penginapan, dan tempat hiburan lainnya seperti sandiwara.

Waktu itu Kecamatan Banjar, merupakan daerah perdagangan dan pergudangan kebutuhan pokok sandang pangan dan papan. Di perbatasan daerah Jawa Barat dan Jawa Tengah, geografisnya berada di pertigaan antara jurusan Bandung ke arah barat, Yogyakarta dan Jateng ke arah timur, dan selatan Pangandaran.

Seperti orang dari Ciamis selatan, bila ingin berlibur atau berbelanja ke kota tujuan utama ke Banjar, begitu juga daerah yang masuk ke wilayah Kewadanan Banjar, dan daerah Kabupaten Cilacap barat, Majenang, Dayeuhluhur, Wanareja, dan Sidareja. Dulu tidak sedikit orang Tasikmalaya dan Ciamis mencari hiburan dan pelesiran ke Banjar. Meluangkan waktu untuk menginap di losmen atau di keluarga.

Kenapa begitu, film yang diputar di bioskop Rialto Banjar, film yang telah diputar di Kota besar seperti Bandung, langsung ke Banjar pada waktu itu film kita didominasi oleh film dari Amerika. Sekitar tahun 1960-an, berdiri satu bioskop lagi yaitu Bioskop Saudara yang sekarang menjadi toko modern di Jl. Letjen Suwarto dahulu Jl. Merdeka. Waktu itu lengkap Banjar menjadi kota perdagangan dan jasa yang terbesar di timur Provinsi Jabar.

Memasuki tahun 1980, masa kejayaan bioskop di Banjar memulai memudar. Tersaingi dengan masuk televisi sampai ke pelosok daerah. Dan juga pengaruh politik muncul G 30 September. 1965 Bioskop Rialto berganti menjadi Bioskop Kenanga, bahkan dijadikan tempat penahanan yang terlibat PKI (Partai Komunis Indonesia), sekitar tahun 1969 baru kembali lagi menjadi bioskop Kenanga. Kepemilikan Bioskop Kenanga, karena tuan Bos orang asing (Belanda) pada tahun 1959 diambil over oleh Provinsi Jabar dan tuan Bos pindah ke Amerika.

Di seluruh Indonesia bioskop yang berada di daerah, perlahan tapi pasti matisuri karena film yang diputar film-film lama. Pemutaran film beralih tidak lagi di gedung, tapi menjadi bioskop keliling ke daerah pedesaan juga masuk ke tempat hajatan dan lesunya perfilm nasional juga menjadi penyebab.

Tahun 2005 bioskop Kenanga berhenti total terlindas kemajuan zaman bidang teknologi. Dengan banyaknya bermunculan televisi swasta yang memberikan hiburan gratis bisa ditonton di rumah. Memasuki tahun 2014, bangunan bioskop Kenanga dihancurkan. Dan akan dibangun kembali gedung bioskop modern dan toko modern, juga ada pusat kuliner di tengah kota Banjar.

Dalam pembongkaran gedung Bioskop Kenanga yang dimulai pada Desember 2013, berkembang cerita misteri jurig Belanda bertanduk mengganggu pekerja pembongkaran gedung itu. Menurut Ade, pedagang lama di sekitar Bioskop Kenanga, soal jurig mah sudah tidak aneh. Makanya pekerja yang membongkar gedung bioskop Kenanga, orang Banjar engga ada yang mau ikut bekerja. Jelas Ade.

Pekerja pembongkaran gedung Kenanga, dari luar Banjar menurut keterangan seorang mandor pekerja pembongkaran gedung itu membenarkan orang Banjar tak ada yang ikut bekerja sampai harus mencari dari luar. Soal jurig Belanda bertanduk memang ada. Dan selalu menggangu pekerja bila sedang istirahat, seperti menarik-narik kaki dan memindahkan barang-barang milik pekerja.

Pada akhirnya di awal tahun 2014 gedung bioskop bersejarah itu hancur, diganti dengan yang serba modern. Memang pembangunan infrastruktur dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, pesat pembangunannya.

Dari tahun 2014 ini kota Banjar harus melakukan finising sebuah kota dengan tata ruang estetika kota kecil yang mewujudkan sebuah kota bersih, hijau, dan sehat serta nyaman dan memberikan kemudahan sarana kepada warganya. Salah satunya dengan membangun bioskop dan toko modern yang juga ada pusat kuliner. (BH/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles