Inilah Sekelumit Kisah Hidup Seorang Waria di Kota Banjar

12/01/2014 0 Comments
Inilah Sekelumit Kisah Hidup Seorang Waria di Kota Banjar

Dini seorang waria di Kota Banjar tampak sedang melayani pelanggan di salon miliknya. Foto: Eva Latifah/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Waria kerap diperlakukan tidak menyenangkan karena status mereka, dan dianggap marjinal karena stereotipe. Namun, bukan berarti waria tidak bisa memiliki masa depan. Salah satunya Dini, pemilik usaha salon.

Komunitas waria (wanita pria) di Kota Banjar sudah ada sejak lama. Pada malam hari biasanya mereka terlihat nongkrong di sekitar Jembatan Viaduct dan Taman Pahlawan.

Di kota ini, jembatan tersebut memang dikenal sebagai tempat ngonde (mangkal dengan dandanan selayaknya wanita) kaum waria, maupun wanita penjaja seks (WPS) yang mencari pria hidung belang.

Selain ngonde mencari pria hidung belang, bila siang hari kaum waria juga sering terlihat ngamen di sekitar daerah perkotaan dan di Rest Area Banjar Atas. Semua itu mereka lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Namun tidak bagi Dini, seorang waria kelahiran Desa Panulisan, Kec. Dayeuh Luhur, Kab. Cilacap, tahun 1979 silam yang mengaku sejak kecil sudah hidup mandiri ini memiliki prinsip, bahwa hidup menjadi waria harus punya keahlian. Sebab, dengan keahlian maka seorang waria pun bisa memiliki masa depan yang layak.

Saat ditemui HR, Sabtu (04/01), Dini, pemilik Salon DN Geulis di Jl. Grilya, Sumanding Kulon, Kota Banjar, menuturkan sekelumit kisah hidupnya menjadi seorang waria.

Anak bungsu dari tujuh bersaudara ini mengaku lebih dekat dengan tiga orang kakak perempuannya, sehingga sejak kecil dirinya sudah menyukai hal-hal yang biasa dipakai/digunakan anak perempuan, baik mainan maupun pakaian.

Bahkan, Dini enggan sekolah lantaran harus memakai pakaian seragam anak laki-laki. Namun, atas nasehat dari guru dan kakak-kakaknya dia pun mau sekolah hingga akhirnya lulus.

Menginjak bangku SMP, Dini pindah ke Kuningan. Di sana dia tinggal bersama salah seorang kakak perempuannya. Maklum saja, kedua orang tuanya telah meninggal saat dirinya masih duduk di bangku kelas 4 SD.

Selama tinggal di Kuningan, Dini sering main ke salon yang lokasinya tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal kakaknya. Keinginannya kuat untuk belajar nyalon. Tak jarang dia pun membolos dari sekolah dan pergi ke salon.

“Sejak kelas satu SMP saya sudah bantu-bantu di salon sambil belajar nyalon. Bahkan terkadang saya tidak masuk sekolah tapi malah pergi ke salon, padahal kakak di rumah tahunya berangkat ke sekolah,” tuturnya dengan gaya bicara khas seorang waria.

Lebih lanjut dia menuturkan, sebelum membuka salon sendiri pada tahun 2012 lalu, dia bekerja di salon milik orang lain yang juga sesama waria. Lepas dari SMP, Dini diminta oleh salah seorang pemilik salon di Jakarta. Selama kurang lebih 3 tahun dia bekerja di tempat tersebut.

Namun, karena sesuatu hal, dia pun pulang ke Banjar. Di Banjar Dini bekerja di salon milik teman sesama waria di daerah Jelat, Kec. Pataruman. Keinginannya memiliki salon sendiri semakin kuat. Dia pun selalu menyisihkan uang yang didapatnya selama bekerja.

Akhirnya pada tahun 2012 keinginannya terwujud. Pertama kali dia membuka salon di daerah Jelat, tidak jauh dari salon milik temannya itu. Kemudian tak lama berselang pindah ke Jl. Setia, namun di sana tidak lama.

Karena ingin salonnya lebih mudah dikenal, maka Dini pun mengontrak sebuah ruko di Jl. Letjen. Soewarto, tepatnya dekat Jembatan Viaduct. Setelah menempati tempat baru itu, pelanggan, baik pria maupun wanita, setiap hari selalu bertambah, dan Dini pun dibantu satu orang pekerja.

Lagi-lagi Dini harus pindah lantaran harga kontrak ruko yang ditempatinya di Jl. Letjen. Soewarto dinaikan oleh pemiliknya, akhirnya dia pun memutuskan untuk pindah ke Sumanding Kulon pada awal Oktober 2013 lalu.

Selain sibuk bekerja di salon pribadinya, Dini juga bekerja sebagai Community Organizer (CO) dan Petugas Lapangan di LSM Viaduct yang menangani masalah HIV-AIDS di Kota Banjar.

Dalam kegiatannya di LSM, dia tak pernah bosan untuk memberikan pemahaman mengenai bahaya HIV-AIDS kepada teman-teman sesama waria yang menjadi kelompok dampingannya, sekaligus menganjurkan agar mereka mau melakukan VCT (tes HIV).

Karena, waria merupakan salah satu kelompok yang sangat rentan terkena penyakit mematikan ini. Permasalahan HIV-AIDS memang menjadi momok bagi waria, sebab bukan rahasia lagi kalau kehiduapan seks bebas para waria menjadi penyebab utama tingginya angka kematian itu.

Perilaku semacam itu harus dihentikan meski memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Waria menurutnya adalah orang-orang terbuang, orang yang tidak diinginkan oleh masyarakat dan keluarga.

“Siapa yang menginginkan waria. Dunia kerja, sosial tidak mau. Kalau waria tidak punya keahlian, satu-satunya cara bertahan hidup adalah menjajakan seks pinggir jalan. Tetapi kita ingin apapun cara mereka mendapatkan uang, waria harus terhindar dari HIV-AIDS,” ujarnya.

Salah satu cara diantaranya adalah melalui Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) yang mengumpulkan sesama waria untuk saling berbagai pengalaman, baik kepahaman mereka akan bahaya HIV-AIDS, atau kegiatan sehari-harinya.

“Jadi intinya, seorang waria sebenarnya mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Makanya saya selalu mengajak kepada teman-teman sesama waria supaya mau belajar, misalnya belajar keahlian dalam usaha salon. Itu untuk bekal masa depannya, jangan sampai waria itu dikenalnya hanya bisa mangkal dan ngamen, eimm,” kata Dini dengan nada bicaranya yang sedikit binal.

Selain itu, dia juga aktif mendampingi Odha (Orang dengan HI-AIDS) saat melakukan pengambilan obat Antiretroviral (ARV) ke RSU Banjar, sekaligus memberikan support kepada mereka.

Kemudian, Dini pun selalu mengunjungi kader-kader di PIKM (Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat) yang sudah terbentuk di beberapa desa/kelurahan, untuk membantu para kader dalam melakukan sosialisasi HIV-AIDS kepada masyarakat. (Eva/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply