Komunitas Underground Selalu Dipandang Sebelah Mata

12/01/2014 0 Comments
Komunitas Underground Selalu Dipandang Sebelah Mata

Kaum underground dari Kota Banjar berfoto bersama usai mengikuti acara Bandung Berisik beberapa waktu lalu di Ujungberung, Bandung. Foto: Hermanto/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kaum Underground selalu terkesan sebagai perkumpulan kalangan muda pemberontak yang mengemas protesnya melalui karya musik keras, bergaya urakan, dan lain sebagainya yang menimbulkan persepsi buruk terhadap mereka.

Meski demikian, semangat mereka untuk merubah pandangan buruk dari masyarakat terus dilakukan. Terbukti kini banyak bermunculan komunitas underground yang jauh dari imej buruk di dalamnya.

Mereka berkreatifitas, membuka lapangan kerja, serta lebih mendalami ajaran agama. Hal-hal semacam itu seharusnya patut dibanggakan oleh daerah dimana mereka tinggal dan berkembang.

Kota Banjar sendiri sebagai kota yang berkembang pesat, tidak lepas dari sentuhan atau dengan hadirnya para kaum underground. Dengan berkumpul, silaturahmi, membuat acara bakti sosial, hingga menyelenggarakan suatu pertunjukan/konser yang secara tidak langsung menjadi ajang promosi bagi Kota Banjar.

Sejauh ini, tanpa diketahui masyarakat ada sebuah grup musik metal asal Kota Banjar yang sudah mampu mengibarkan nama Kota Banjar diberbagai panggung di kota-kota besar seperti Bandung, Solo, Surabaya, bahkan sampai Kota Tenggarong, Kalimnatan Timur.

Grup musik cadas tersebut adalah Hajar Aswad yang digawangi Dona (vocal), Yana (guitar), Ganjar (bass), dan Akametal (drum). Dalam perjalanannya, prestasi mereka sayangnya tidak didukung, bahkan sering dipandang sebelah mata oleh berbagai pihak, termasuk oleh Pemerintah Kota Banjar.

Saat ditemui HR di basecamp Hajar Aswad, yakni di bukit 666, tepatnya di Lingkungan Wargamulya, RT. 12/14, Kel/Kec. Purwaharja, Selasa (07/01), sekitar jam 17.00 WIB, mereka menyambut dengan ramah.

Trisna (26), salah satu pentolan musik metal, menuturkan beberapa keluhannya. Dia menyebutkan, selama ini banyak pihak yang menilai mereka dari sisi luarnya/penampilannya saja.

“Kami banyak dipersulit dalam bergerak, misalnya dalam membuat perijinan, tempat berkumpul, sampai menyelenggarakan musik underground, banyak gedung di kota ini sulit untuk kami gunakan dengan alasan takut rusak dan lain-lain,” ungkap pria yang akrab dipanggil Akametal ini.

Sementara di kota lain seperti Tasikmalaya, Bandung dan Solo, pemerintahannya banyak membantu kegiatan mereka. Bahkan, beberapa grup band dari kota tersebut bisa terkenal dan menjadi kebanggaan kotanya.

Hal senada juga diungkapkan Dona (25). Dia mengatakan bahwa Hajar Aswad ingin seperti band-band  dari kota lain yang selalu diperhatikan oleh pemerintahnya.

“Pada saat Kota Tenggarong berulang tahun, saya angkat jempol kepada Ibu Walikotanya yang menghadiahi warganya pecinta musik underground dengan menggelar konser Sepultura, salah satu band cadas asal Brazil yang mendunia,” ujar Dona.

Mereka berdua mengharapkan kepada berbagai pihak, khususnya Pemerintah Kota Banjar, untuk membuka mata terhadap keberadaan dan kreatifitas kaum underground. Mereka ingin dipermudah dalam berkreatifitas sehingga bisa mengharumkan kota yang dicintainya.

“Irama kami menyuarakan kesetaraan dan protesnya pun tidak membuat macet jalan. Kami hanya ingin diperhatikan dan dipermudah dalam berkreatifitas. Karena kami juga bisa mengharumkan kota yang kami cintai ini dengan cara kami, dunia kami dan musik keras kami,” pungkas Dona. (Hermanto/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply