(Nasib Pasien Jamkesmas) Belum Sembuh, Afika Harus Pulang Karena Sudah 10 Hari

08/01/2014 2 Comments
(Nasib Pasien Jamkesmas) Belum Sembuh, Afika Harus Pulang Karena Sudah 10 Hari

Afika saat dalam pangkuan sang ibu. Photo : Dicky Heryanto/ HR

Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, seorang Balita bernama Afika Awalia Ramadhani, yang berusia 6 bulan dengan tinggi  badan 47 cm dan berat 3 kilogra, menderita kelebihan cairan di kepalanya atau mengidap Hydrocephalus, sejak usia dua bulan. Akibatnya, hingga kini kepala Afika membesar dengan diameter kepala 40 cm.

Anak pertama dari pasangan, Herman (30) dan Ika Nurtika (28) warga Desa Utama, Kecamatan Cijeunjing Kabupaten Ciamis ini, diasuh oleh pasangan Kama Rukama (55) dan Mamah Fatimah ( 52) yang tak lain adalah Kake dan Nenek Afika.

“Sempat kami bawa ke RSUD Tasik, namun ditolak meski dengan Jamkesmas atas nama Ibunya (Ika-red) , baru kami bawa ke RSUD Ciamis untuk dirawat dari tanggal 20 Desember hingga 1 Januari 2014 kemarin.” Papar Kama, sang Kakek, kepada HR.

Masih dengn menggunakan fasilitas Jamkesmas,imbuh Kama,  cucunya, akhirnya dirawat di Ruangan Kelas Dua Mawar RSUD Ciamis tersebut, harus dipulangkan sebelum kondisinya sembuh .

“Kalau saran Dokter harus tetap dirawat sampai sembuh. Hanya, saran dari petugas perawat harus pulang, karena Cucu kami sudah melebihi sepuluh hari, atau melebihi jadwal program Jamkesmas,” tambah Kama yang diamini Mamah.

Kama mengatakan, keluarganya akhirnya menyerah karena keterbatasan biaya berobat, dengan terpaksa sang cucu tercinta dibawa pulang ke rumahnya pada tanggal 1 Januari lalu.

“Namun, sebelum pulang kami diminta membayar uang administrasi sebesar Rp. 175 ribu, “ katanya. Menurut petugas RSUD, ada aturan baru yang berlaku pada tanggal 1 Januari. “ Kami pun akhirnya menuruti permintaan petugas tersebut,” ujarnya.

Menurut Kama, upaya kesembuhan cucunya hingga kini belum mendapat jalan terang, hingga menantunya yang tak lain Ayah, Afika, yakni Herman, mendaftar program JKN pada Senin (06/01) lalu. Meski Herman yang sehari –hari bekerja sebagai penjual es keliling di Desa Utama.

“Saya nekat saja, dari mana saya harus membiayai premi asuransi sebesar 50 ribu per bulannya untuk saya dan anak saya. Gimana nanti saja, yang penting anak saya sembuh ” katanya dengan mata berkaca-kaca, saat mengantri di kantor BPJS Ciamis.

Herman mengaku ia tak tahu menahu bahwa dalam program JKN tersebut ada kepesertaan PBI, yakni Penerima Bantuan Iuran dimana Premi asuransi kesehatannya ditanggung pemerintah.

Setelah ditelisik lebih jauh, ternyata tak hanya Herman yang tidak mengetahui kepesertaan PBI, Kama dan Mamahp un yang nota bene peserta Jamkesmas tidak tahu menahu soal PBI dalam program JKN. “Saya pun bingung, sebagai orang kecil, uang dari mana harus bayar premi asuransi, kenapa dihapuskan yah program Jamkesmas,” pungkasnya dengan polos. (Dicky Heryanto/Koran-HR)

About author

Related articles

2 Comments

  1. Deni January 08, at 14:41

    Upami Alamat Berita ieu di Twet keun kana Twet Pak SBY Wiios'?!! Supaya Pak SBY trangeun Bahwa Sistem BPJS di Ciamis tdak Sesuai dgn apa yg di Rencanakan

    Reply
  2. ihsas nurfitri January 08, at 21:16

    Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan BPJSnya adalah produk liberalisasi sektor kesehatan, dimana kesehatan dijadikan komoditas/ajang bisnis, masyarakat harus membayar premi setiap bulan untuk mendapatkan layanan kesehatan. Padahal kesehatan adalah hak dasar dari seluruh rakyat baik kaya maupun miskin. Menurut aturan Islam pemerintah wajib memelihara urusan rakyatnya, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas hal tersebut, sehingga tidak boleh berpikir untung rugi. Yang terjadi sekarang dengan penerapan sistem kapitalisme demokrasi, pemerintah hanya berperan sebagai regulator bukan pengurus/pelayan urusan rakyatnya. Sungguh sangat bertolak belakang dengan syariat Islam.

    Reply

Leave a Reply