Sekelumit Cerita Tukang Pijat Tuna Netra di Ciamis

28/01/2014 1 Comment
Sekelumit Cerita Tukang Pijat Tuna Netra di Ciamis

Edi, tukang pijat tuna netra, saat bersama istri dan anaknya, di rumahnya, di RT 03 RW 07 Dusun Mekarsari, Desa Mekarjaya, Kecamatan Baregbeg, Ciamis. Foto: Dicky Heryanto Adjid/HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Edi, pria kelahiran 21 Januari 1963 ini awalnya berprofesi sebagai kernet truk pengangkut kayu gelondongan hingga tahun 1986 silam. Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Ditahun tersebut, suatu hari Edi terserang panas secara tiba-tiba. Setelah diobati panasnya pun mereda. Namun berbarengan dengan kesembuhannya, secara tiba-tiba, dua matanya mengeluarkan cairan darah dan nanah.

Sejak itu pula Edi kehilangan penglihatan secara berangsur-angsur, hingga ia mengalami kebutaan total. Guratan takdir  mengisyaratkan agar dia rela menyandang diri sebagai penyandang tunanetra.

Dua tahun lamanya, Edi merenungi musibah yang menimpanya. Namun bukan Edi namanya jika menyerah begitu saja dari keadaan. Pada tahun 1988, Edi bertekad pergi ke Kota Malang, Jawa Timur untuk belajar ilmu pemijatan.

Satu tahun di Kota Pelajar tersebut, Edi hijrah ke Kota Bandung, Jawa Barat. Edi menginjakan kaki pertama di Kota Kembang ke Panti Sosial Bina Netra (PSBN) Wiyata Guna, yang beralamat di Jalan Padjadjaran No 52  Bandung.

“Waktu itu saya ingin mencari kerja, sekaligus memperdalam ilmu di panti tersebut,” kenang pria berperawakan tinggi itu, kepada HR, di kediamannya, di RT 03 RW 07 Dusun Mekarsari, Desa Mekarjaya, Kecamatan Baregbeg, Ciamis.

Seiring berjalannya waktu di Kota Kembang, Edi tak hanya berguru sekaligus bekerja pada satu majikan. Edi berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pelanggannya pun beragam dari berbagai kalangan.

Bermitra dengan abang becak adalah kiat Edi dan rekan-rekannya untuk mengais tambahan rezeki. Mengingat keterbatasan alat komunikasi yang tidak secanggih saat ini, informasi panggilan pijat ia peroleh dari dari para abang becak.

“Bayaran pertama memijat yang saya terima kala itu, enam ribu rupiah,” ujar pria lulusan SPG  Sekolah Pendidikan Guru) Ciamis tahun 1984 itu.

Dalam hal menerima upah pijat, Edi selalu menyetorkan hasil jerih payah keringatnya tersebut ke majikan tempat ia bekerja. Sebelum dia mendapatkan bayaran bersih, uang yang terkumpul di majikannya, dipotong cicilan uang kontrakan, iuran makan dan iuran listrik.

Edi mengaku tidak berani mematok tarif untuk memijat pada pelanggannya. Tak kenal kaya tak kenal miskin, tak kenal dekat dan jauh, setiap ada panggilan Edi akan datangi pelanggannya.

“Terserah majikan, berapa rupiah mau memberi ke saya,” katanya.

Rupanya selain bekerja, di Kota Bandung, Edi dan rekan sejawat ikut mengembangkan organisasi Pertuni (Persatuan Tuna Netra Indonesia). Dari sana Edi dan rekannya tak hanya menerima panggilan pijat, tapi juga menghadiri acara keorganisasian yang kerap diadakan Pemkot Bandung dan Pemprov Jabar kala itu.

Karena kemampuan berkomunikasi yang baik, edi sering dipercaya oelh majikan, organisasi dan rekan-rekannya bila berhubungan dengan pihak pemerintah ataupun swasta. Tak heran, Edi pernah seorang diri bertemu dengan pimpinan cabang perusahaan rokok dan farmasi.

“Tapi ada juga oknum majikan yang menjual dan sekedar memanfaatkan kami. Tapi saya ikhlaskan saja, uang dan makanan bantuan dari pengusaha atau donatur kadang dipotong secara tidak jelas,” paparnya.

Perjalanan Edi mengarungi Kota Bandung menuntun dirinya bertemu tambatan hati. Hanya menjalin kasih selama beberapa bulan dengan seorang gadis, akhirnya Edi mengakhiri masa lajangnya di Bulan April 1997.

Nama gadis yang kini menjadi pendamping hidupnya bernama Aisyah, kelahiran bulan Juli, tahun 1963. Aisyah berasal dari Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya.

“Bertemu istri saat keliling. Kebetulan Aisyah seorang pembantu rumah tangga di salah seorang pelanggan saya di Bandung. Akhirnya kami berjodoh,” ungkapnya dengan roman wajah tersipu.

Saat Indonesia dalam hiruk-pikuk politik pergantian rezim Soeharto, tahun 1998, Edi dan istri tercintanya memutuskan untuk hijrah ke Kota Jakarta. Mengadu nasib dalam kerasnya persaingan hidup ibu kota.

Di Jakarta, Edi memberanikan diri membuka praktek pijat keliling sendiri dengan berkantor di kawasan Stasiun Tanah Abang. Banyak sudah  pelanggan yang Edi jaring, mulai dari pegawai stasiun kereta hingga pedagang asongan. Praktek pijatpun ia jalani di stasiun, bahkan dalam gerbong kereta.

Perjalanan Edi dan istri mengarungi Ibu kota harus terhenti dengan teguran Sang Maha Kuasa. Pada Hari Senin tanggal 1 Bulan Mei 2000, terjadi tabrakan maut. Dua Kereta Diesel (KRD) KA 209, jurusan Merak–Jakarta dan KA 906 Jurusan Jakarta-Rangkas Bitung, di lintasan Stasiun Sudimara-Stasiun Serpong Tangerang, di kampung Ciater, Desa Rawa Mekar, Serpong, Tangerang. Empat penumpang tewas seketika dan 31 penumpang mengalami luka berat dan ringan.

“Sebelum kecelakaan terjadi, kaki kanan saya sudah menapak di pintu Gerbong KA 906, mau ke Serpong. Tapi ada firasat tiba-tiba saya harus mengurungkan niat,” ungkapnya.

Beruntung, Edi membatalkan niatnya saat itu. Meski ia hilang kesempatan mengais rezeki dari seorang pedagang rokok keliling dalam gerbong.

“Setelah kejadian saya merenung, selang beberapa hari, bersama istri saya niat untuk pulang kampung ke Ciamis,” tandasnya.

Sepulang dari Ibu Kota, Edi membeli sebidang tanah seluas 5 bata. Membangun satu rumah panggung berbahan kayu dengan panjang ukuran 7 meter dan lebar  5 meter. Hingga kini Edi merasa bersyukur hidup dengan istri, dan dua anaknya bernama Tarwana (11) dan Aryanti (6).

Sampai kini panggilan pijat masih dia lakoni. Jam berapapun pelanggan meminta, dia siap berangkat. Dengan ditemani seorang tukang ojek bernama Karlim, warga Saguling, Bargebeg. Meski tak melihat, SMS atau panggilan telepon kerap ia jawab secara cekatan langsung melalui telepon gengamnya. Pelanggannya biasa menghubungi nomor ini, 081323320587.

“Kalau lagi ramai bisa empat pelanggan seminggu. Tapi kalau sepi, satu pelangganpun tak ada. Yah itulah namanya juga rezeki. Yang penting tetap semangat,” pungkasnya. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Nunung January 18, at 11:06

    Cerita yang memberikan inspirasi untuk tidak menyerah dengan keadaan

    Reply

Leave a Reply