Soal Pabrik Semen, Pj. Bupati Pangandaran Mengaku Dilematis

12/01/2014 1 Comment
Soal Pabrik Semen, Pj. Bupati Pangandaran Mengaku Dilematis

Penjabat Bupati Pangandaran, Endjang Naffandi. Foto: Dokumentasi HR

Parigi, (harapanrakyat.com),-

Penjabat Bupati Pangandaran, Endjang Naffandi, meminta masyarakat Padaherang untuk menjaga kondusifitas, meski ada perbedaan pendapat dalam menyikapi rencana pendirian pabrik semen di daerah tersebut.

Dia pun mengatakan, dirinya sudah memerintahkan kepada Camat Padaherang untuk melakukan pembinaan kepada masyarakat menyusul terjadinya kasus penganiayaan pasca aksi unjuk rasa yang menolak terhadap pendirian pabrik semen.

“Kita meminta kepada massa yang pro ataupun yang kontra terhadap pendirian pabrik semen untuk bisa menahan diri. Perbedaan pendapat harus disikapi dengan pikiran dingin, tanpa harus melakukan tindakan anarkis,“ terangnya, kepada HR, ketika dihubungi via telepon selulernya, Selasa (07/01/2014).

Menurut Endjang, untuk mengantispasi terjadinya konflik horizontal di masyarakat, pihaknya sudah memerintahkan kepada camat dan kepala desa untuk membentuk tim 10 yang terdiri dari tokoh masyarakat yang dapat merefresentasikan perwakilan warga.

“Tim 10 ini akan dibentuk di 4 desa yang akan dijadikan penambangan bahan baku semen dan pabriknya. Jadi, di setiap desa akan dibentuk tim 10, untuk menjembatani komunikasi dengan warga,” katanya.

Endjang menegaskan, tim 10 ini nantinya akan menjadi wadah aspirasi warga dalam menengahi pro dan kontra terhadap pendirian pabrik semen. “Dengan dibentuknya tim 10 ini diharapkan bisa menjadi penengah apabila terjadi gesekan di masyarakat. Tim 10 ini pun nantinya akan menyimpulkan apakah warga di desanya sepakat atau tidak dengan kehadiran industri pertambangan semen, “ ungkapnya.

Pihaknya, lanjut Endjang, tidak dalam posisi mendukung ataupun menolak terhadap rencana pendirian pabrik semen. Mengenai keputusan apakah di Padaherang dijinkan atau tidak mendirikan industri pertambangan semen, pihaknya akan menyerahkan sepenuhnya kepada masyarakat setempat.

“Meski tampak di permukaan banyak masyarakat yang menolak, tetapi sebenarnya lebih banyak masyarakat yang mendukung terhadap pendirian pabrik semen. Hanya, massa yang mendukung ini tidak tampak di permukaan. Sebenarnya kita dilematis, karena baik massa yang pro maupun yang kontra adalah warga kami, “ ungkapnya.

Menurut Endjang, dirinya belum lama ini kedatangan perwakilan warga dari Desa Karangmulya. Saat itu, perwakilan warga tersebut meminta Pemkab untuk menjelaskan kepada masyarakat bahwa pendirian pabrik semen itu bukan di Desa Karangmulya.

“Rencana pendirian pabrik semen kan ada di Desa Karangsari. Artinya terjadi miskomunikasi  informasi yang sampai ke telinga warga. Sementara Desa Karangsari melalui kepala desanya menyatakan menyambut pendirian pabrik semen di daerahnya, “ terangnya.

Endjang pun mengaku terkejut ketika mendengar pernyataan dari Kepala Desa Karangsari yang menyatakan warganya sudah mendukung terhadap pendirian pabrik semen yang rencananya akan didirikan di daerah tersebut. Dia terkejut karena yang ramai saat ini adalah aksi penolakan. Sementara warga di daerah yang akan dijadikan lokasi pabrik semen malah menyatakan setuju.

“Pak Kuwu Karangsari bilang kepada saya bahwa yang menolak itu warga di luar Desa Karangsari. Sementara warganya sudah mendukung kehadiran pabrik semen. Bahkan, saat ini sudah mulai diproses pembebasan lahan untuk pendirian pabrik semen. Di sini yang membuat kami bingung. Karenanya, kami menyerahkan sepenuhnya kepada warga,” ujarnya.

Pihaknya, kata Endjang, akan menunggu hasil kerja dari tim 10 dalam menjaring aspriasi warga di 4 desa tersebut. “Biarkan tim 10 bekerja dulu. Apapun hasilnya kita akan mendukung. Yang pasti, apapun keputusannya kami berharap yang terbaik untuk masyarakat setempat, “ pungkasnya. (Bgj/Koran-HR)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Akun January 12, at 22:50

    Pemimpin kok dilema!? Jangan cuma mengandalkan laporan, turunlah ke lapangan, dialog dengan warga kenapa sampai menolak. Kalo Bupati tidak tegas seperti ini, akan menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat. Pabriknya memang di Desa Karangsari, tapi pengambilan bahan bakunya dari Desa Karangmulya dan Kedungwuluh. Yang diprotes oleh warga Desa Karangmulya dan Kedungwuluh adalah pengambilan bahan baku pembuatan semen. Kalau bahan bakunya diambil dari Desa Karangsari mungkin warga Desa Karangmulya dan Kedungwuluh tidak akan protes. Jadi, kalau Kuwu Karangsari setuju, silahkan sekalian bahan bakunya diambil dari Desa Karangsari, jangan dari Desa Karangmulya dan Kedungwuluh yang warganya menolak.

    Reply

Leave a Reply