Tahun 2014, Ciamis Krisis Buah Kelapa?

17/01/2014 0 Comments
Tahun 2014, Ciamis Krisis Buah Kelapa?

H. Endut, seorang Pengusaha Galendo asal Ciamis, menunjukan barang daganganya yang habis beberpa waktu lalu. Dalam sebulan ia membutuhkan bahan baku kelapa tua sebanyak 27 ribu butir. Photo : Dicky Heryanto/ HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Kebutuhan Kelapa di wilayah Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, tahun 2014 ini diprediksi bakal meningkat tajam. Kebutuhan kelapa itu diantaranya bagi pengrajin gula merah, UKM galendo, produsen kopra, pengrajin nata de coco, bahkan penjual es kelapa muda dan dawegan yang kini marak.

Daya serap buah kelapa yang tinggi, tidak diimbangi oleh ketersediaan buah kelapa. Seperti contoh, pengusaha Galendo terkemuka dari Ciamis, H. Endut, menuturkan, kebutuhan rumah produksi galendonya akan buah kelapa mencapai 27 ribu butir perbulan.

“Sepuluh ribu diantaranya saya ambil dari Palembang, karena sulit sekali mencari buah kelapa di Ciamis termasuk daerah pakidulan,” paparnya beberapa waktu lalu.

Secara terus terang, Endut menuturkan, sulitnya buah kelapa di Ciamis saat ini bisa dikategorikan sebagai krisis kelapa. “Selain kebutuhan seperti galendo, kopra, gula merah, juga fenomena banyaknya buah kelapa yang dijual ke luar Ciamis, seperti Bandung, Cilacap, dan Jakarta,” paparnya.

Senada dengan Endut, pengrajin Nata De Coco, dari Ciulu Banjarsari, Dede Supriadi, mengatakan, bahwa para pengusaha nata de coco khususnya di Banjarsari, kesulitan suplai air kelapa dari Ciamis. Dari sekira 30an pengrajin Nata de Coco di daerahnya, banyak mengambil air kelapa dari Cineam Tasik.

“Terpaksa kami mengambil air kelapa dari Cineam, Tasik. Tentunya dengan harga yang lebih tinggi. Kalau di Ciamis harga air kelapa perjerigennya Rp. 7 ribu. Tapi kalau di Cineam berkisar Rp. 9 ribu, karena biaya transportasi dengan jarak lebih jauh,” ucapnya.

Dede mengaku, sulitnya mendapatkan air kelapa termasuk buah kelapa, ditenggarai karena tingginya kebutuhan kelapa tidak diimbangi dengan penanaman pohon kelapa. “Banyak petani juga yang beralih, tidak lagi menanam kelapa, tapi lebih memilih menanam pohon albasiah,” katanya.

Ditemui terpisah, Kepala Bidang  Rehabilitasi Lahan, Konservasi Sumberdaya hutan dan Perkebuna, Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Ciamis, Ir. Cece mengakui adanya kebutuhan kelapa yang tinggi di masyarakat.

“Kami juga tidak membantah bila pengrajin atau pengusaha yang memerlukan bahan baku kelapa menyatakan saat ini krisis kelapa. Karena fenomena kebutuhan buah kelapa termasuk airnya tinggi, sementara pasokan terbatas,” ungkapnya.

Cece menjelaskan, pihaknya sudah mengupayakan program penanaman pohon kelapa di daerah Ciamis dan Pakidulan saat tahun 2013 lalu. Program penanaman sepuluh ribu pohon kelapa di luasan areal 100 hektar sudah dilakukan. Program itu bersumber dari Tugas Pembantuan APBN tahun 2013.

Namun Cece enggan berkomentar lebih jauh, ketika ditanya soal dihentikannya pengajuan program penanaman kelapa di tahun 2014. “Kami hentikan pengajuannya di tahun 2014 ini,” pungkasnya.

Akademisi Fisip Unigal, yang juga peneliti LPPM Unigal, Agus Dedi, mengatakan, Pemerintah Daerah harus membuat tata niaga perkelapaan di daerah Ciamis, Banjar dan Pangandaran.

Ia berpendapat, kelapa Ciamis banyak diminati oleh daerah lain. Banyak UKM di Ciamis yang memerlukan bahan baku kelapa. Akibat kurangnya pasokan, mereka mengambil kelapa dari daerah lain.

“Padahal kita tahu, Ciamis termasuk Pangandaran adalah daerah penghasil kelapa. Solsusinya Pemkab baik Ciamis, Pangandaran dan Banjar harus membuat kerjasama regional soal perkelapaan, juga membuat tata niaga kelapa di masing-masing daerah,” katanya.

Agus menambahakn, tataniaga ini untuk melindungi kebutuhan bahan baku kelapa di daerah Ciamis. “Dampaknya, juga agar petani kelapa tidak beralih menanam tanaman lain, karena dengan tataniaga, akan didapatkan tingkat kesejahteraan bagi petaninya juga,” tandasnya. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!