Waduh! Banjar Jadi Tempat Strategis Transaksi ‘Esek-esek’

Waduh! Banjar Jadi Tempat Strategis Transaksi ‘Esek-esek’

Taman Kota Lapang Bakti menjadi salah satu tempat mangkalnya Wanita Pekerja Seks Langsung (WPSL) di Kota Banjar. Foto: Eva Latifah/HR

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kota Banjar sebagai kota transit dianggap menjadi tempat paling strategis untuk melakukan transaksi ‘esek-esek’ atau praktek prostitusi bagi Wanita Pekerja Seks (WPS), khususnya WPS yang langsung bisa dihubungi oleh pelanggannya, atau biasa disebut WPSL.

Sejumlah lokasi yang dijadikan tempat mangkal atau biasa disebut hotspot oleh WPSL untuk bertransaksi diantaranya Rest Area Banjar Atas (BA), Taman Kota Lapang Bakti, warung di sekitar Terminal Bis Banjar, dan di sekitar taman tugu perbatasan Batulawang, Taman Pahlawan, Jalan Buntu, serta di sejumlah hotel kelas melati yang ada di Kota Banjar.

Menurut Ade Daud, Petugas Lapangan (PL) sekaligus Community Organizer (CO) di LSM Viaduct yang melakukan pendataan dan pendampingan terhadap komunitas WPS di Kota Banjar, mengatakan, WPSL yang sudah terdata ada sebanyak 20 orang.

Namun, dari jumlah sebanyak itu, sekitar 70 persennya merupakan pendatang dari luar. Mereka sengaja tinggal dan menyewa kamar kost di Banjar, karena tempat transaksinya pun selalu dilakukan di kota ini.

“Sedangkan tempat untuk chek in biasanya dibawa ke luar kota, seperti Majenang atau Pangandaran. Tapi ada juga yang langsung chek in ke hotel yang ada di Banjar,” tutur Daud, kepada HR, Selasa (13/01).

Lanjutnya, perlu diketahui pula, bahwa selain WSPL, ada juga WPS tidak langsung atau biasa disebut WPSTL. Jumlahnya pun lebih banyak dari WPSL, yakni tercatat ada 61 orang, dan mereka kebanyakan asli warga Kota Banjar.

Daud menyebutkan, tamu yang ingin memakai WPSTL harus menghubunginya melalui teman si WPSTL-nya sendiri. Sebab, WPSTL biasanya lebih tertutup lantaran mereka tidak mengakui kalau dirinya sebagai pekerja seks. Hanya teman-teman terdekatnya saja yang mengetahui status pekerjaannya.

“Rata-rata usia WPSTL itu masih sangat muda, artinya banyak diantara mereka yang masih sekolah, dan ada pula yang putus sekolah. Makanya mereka lebih tertutup,” ujarnya.

Berbeda dengan WPSL. Daud mengatakan, untuk menghubungi komunitas ini tidak lah sulit. Selain bisa langsung menghubungi mereka di tempat mangkalnya, juga bisa melalui jasa mamih/germo.

Namun, tingkat kesadaran komunitas WPSL maupun WPSTL untuk melakukan tes HIV sampai saat ini masih sangat rendah, alasannya karena malu. Padahal, kata Daud, mereka sudah paham mengenai bahaya HIV-AIDS dan penularannya.

Cuma pemahaman masalah IMS (Infeksi Menular Seksual) yang mereka belum begitu paham. Padahal masalah itu sangat penting bagi para pekerja seks. Tapi, meskipun mereka tidak mau di tes HIV, tingkat kesadaran memakai alat pengaman sudah tinggi.

“Hal itu setelah adanya program pemahaman HIV-AIDS di Kota Banjar, dimana kami terus melakukan pendekatan dalam memberikan pemahaman kepada mereka. Jadi kalau ada tamu yang tidak mau memakai alat pengaman, mereka langsung menolak,” kata Daud.

Seiring dengan kemajuan sebuah kota, tentu tidak terlepas dari masalah sosial di dalamnya, seperti halnya keberadaan WPS, baik penduduk lokal maupun warga pendatang. Begitu pula di Banjar, dimana kota ini sudah sejak dulu terkenal dengan dunia esek-esek-nya.

Maka tidak heran bila sekarang Kota Banjar dianggap menjadi tempat paling strategis untuk melakukan transaksi esek-esek. Tinggal bagaimana masyarakat dan pemerintahannya menyikapi permasalahan tersebut. (Eva/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles