11 Tahun Menuju Kota Idaman “Speechless dech Gue”

28/02/2014 0 Comments
11 Tahun Menuju Kota Idaman “Speechless dech Gue”

Oleh : Subakti  Hamara

Speechless…., hampir setengah jam untuk memulai tulisan ini. Merangkum dan merajut sebuah cerita kota kecil di ujung selatan provinsi Jawa Barat, yang mempunyai cita-cita menjadi Banjar Agropolitan. Dimana juga kota Banjar menjadi salah satu kota peningkatan yang terbilang sukses.

Pembangunan dalam sepuluh tahun terakhir dikebut bak layaknya sebuah mobil Lamborghini yang ditancap kencang, tentunya bukan oleh seorang artis berparas cantik nan seksi. Berbagai penghargaan mengalir deras, baik tingkat nasional dan regional dibabat abis dalam sepuluh tahun terakhir ini.

Dimasa kepemimpinan periode ketiga, yaitu kepemimpinan Hj. Ade Uu Sukaesih dan drg. Darmadji Prawirasetia,  telah sejak awal berbagai program pro-rakyat digulirkan. Mulai dari kartu Asih yang terdiri dari; Kartu Sehat, Kartu Raskin, Kartu Bantuan Lanjut Usia (Lansia), Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEP) dan Asuransi Bagi Pekerja non Formal, diantaranya untuk petugas pasapon, tukang ojek, penarik becak, sopir angkot, serta kuli pasar.

Belum lagi melihat rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kota Banjar tahun 2014-2018, yang memuat sepuluh isu strategis akan menjadi arah pembangunan selama lima tahun mendatang, heemmm…..speechless dech gue.

Lalu apa itu speechless?. Setelah membuka-buka beberapa kamus baku maupun gaul; speechless itu seperti kehilangan kata-kata, dengan berbagai penyebab yang mengikuti dibelakangnya. Bisa karena gugup, terlalu mengagumi, bahkan takut, lupa dan seolah tidak ada kata-kata yang pas untuk diucapkan. Teruuusss apalagi; speechless dech gue.

Tapi, speechless menurut kamus bahasa inggris artinya sangatlah pendek yaitu: Diam. Kata Diam itupun bila dikaitkan dengan speechless, bisa diartikan diam seribu bahasa, dan tidak mengeluarkan kata-kata. Apa kalau ditanya juga harus Diam yaaa?, heemmm… lagi-lagi speechles dech gue.

Jari jemari ini pun ikut-ikutan…., akh lagi-lagi kata itu. Lebih baik kita sedikit mencermati sepuluh isu strategis yang akan diluncurkan dalam RPJMD lima tahun kedepan. Yang pertama itu, Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, terutama peningkatan rata-rata lama sekolah dan daya beli masyarakat.

Mudah-mudahan point pertama ini juga diikuti dengan peningkatan SDM aparatur pemerintahnya. Sebab, jika SDM aparatur pemerintah lemah, maka apa yang akan dicapai tak bisa terrealisasi cepat. Berkualitasnya SDM aparatur menjadi sebuah mesin percepatan pencapaian tepat sasaran sebuah program pro-publik.

Isu kedua adalah sebuah isu klasik dan menjadi beban bagi negara manapun yaitu; Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran. Meski pihak Pemkot Banjar telah menggulirkan program kartu Asih yang akan berfungsi sebagai perlindungan sosial bagi penduduk miskin dan rentan miskin. Sebaiknya program ini pada akhirnya mampu memproduktifkan warganya untuk mandiri berdiri dikaki sendiri. Alias tak bermultiplier effect menjadi masyarakat yang manja dan ingin selalu disantuni, semoga.

Ketiga, Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Laju pertumbuhan ekonomi dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir paling tinggi mencapai angka lima persen. Mudah-mudahan dengan berbagai program pro-rakyat laju pertumbuhan ekonomi bisa meroket dua kali lipat dari sebelumnya, tentunya dengan menciptakan iklim bisnis yang merata. Investor masuk dengan nyaman dan mudah, tapi tidak juga membungkam sektor UMKM.

Meningkatnya laju pertumbuhan ekonomi dengan tidak membunuh UMKM, rupanya menjadi pointer keempat yaitu; Peningkatan daya saing produk unggulan, dan daya tarik daerah. Lagi-lagi sektor ini memerlukan peningkatan SDM pelaku UMKM. Sebab, jika hanya dibantu pendanaan dan pasar saja, belum tentu usaha kecil menengah ini mampu bertahan dan maju. Dan segeralah ciptakan produk unggulan daerah untuk perangsang nilai tambah.

Kelima, Peningkatan ketahanan pangan. Banyak indikator untuk mewujudkan ketahana pangan itu sendiri. Tetapi, minimalnya kota Banjar mampu tercukupi kebutuhan pangan bagi masyarakat. Dan bahkan, harus mampu juga menjadi penyuplai keberagaman pangan yang beragam bagi daerah perkotaan dengan memanfaatkan daerah penunjang sekitar yang masih berbasis pertanian. Tidak hanya berusaha menjadi industri pengolah, tapi juga menjadikan Banjar kawasan perdagangan hasil pangan terkemuka di Priatim.

Keenam, Pembangunan infrastruktur penunjang Banjar agropolitan. Meski di kota Banjar pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan dan lainnya telah mantap. Akan tetapi, kedepan harus lebih fokus kepada penunjang tercapainya Banjar agropolitan. Dan tentunya, membangun sangatlah mudah bila ada uang. Merawat justru lebih berat, apalagi jika perencanaan pembangunan infrastruktur diawal tidak dibarengi dengan perencanaan perawatan yang telah dibangun.

Penyediaan sarana dan prasarana kota yang memadai, menjadi isu strategis ketujuh. Meski program ini menitikberatkan pada penyediaan air bersih dan listrik dan peningkatan sarana prasarana kota lainya, meski tak dijelaskan terperinci. Kota Banjar diharapakan menajdi kawasan agropolitan yang memiliki ruang publik memadai. Kelak, tak hanya jadi idaman tetapi menjadi kawasan nyaman lingkungan.

Nyaman lingkungan, menjadi pendorong isu kedelapan yaitu; Pembangunan ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain tak memiliki sumber daya alam untuk eksploitasi penambangan, bukan tidak mungkin sektor industry yang tak ramah lingkungan akan memberikan kesan gersang, tentu itu yang bukan diharapkan sebagai sebuah kota idaman.

Isu kesembilan yaitu; penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia. Isu ini penting untuk menciptakan good and clean governance. Bila sudah baik, program pro-rakyat akan semakin terasa jelas, nyata dan berkeadilan. Pelayanan prima terwujud terhadap public, yang merupakan hak setiap warga negara.

Pelayanan prima dapat terwujud dengan isu kesepuluh yaitu; Reformasi Birokrasi. Artinya, Pemkot Banjar harus terus berusaha meningkatkan kinerja secara efektif, efisien, dan akuntanbilitas. Dengan demikian aparatur yang professional dapat melayani publik secara baik dan tepat.

Bila semua itu tercapai dalam lima tahun kedepan, sudah barang tentu bukan hanya saya yang bakalan speechless. Ratusan ribu warga kota Banjar pun akan terkena wabah speechless. Namun, bila tak terwujud atau malah menyimpang jauh dari isu strategis tersebut; masyarakat pun akan speechless, akan tentunya dengan arti yang lain. Dan silahkan pembaca untuk memilihkan artinya. ****

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply