Armada dan Alat Minim, Sampah di Pangandaran tak Teratasi

20/02/2014 0 Comments
Armada dan Alat Minim, Sampah di Pangandaran tak Teratasi

Timbunan sampah di bilangan Kantor Kebersihan Pangandaran menimbulkan bau tidak sedap. Minimnya alat dan armada pengangkut ditengarai menyebabkan sampah menumpuk. Photo : Madlani/ HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Timbunan sampah di bilangan Kantor Dinas Binamarga Cipta Karya Tata Ruang dan Kebersihan Kabupaten Pangandaran, menimbulkan bau tidak sedap yang begitu menyengat. Tidak jarang pengendara yang melintas, begitu juga pegawai yang bekerja di kantor tersebut terpaksa harus menutup hidung.

Usut punya usut, hal itu terjadi lantaran minimnya alat loader (pengeruk) dan armada pengangkut sampah. Akibatnya, timbunan sampah yang berada di sekitar kantor tersebut belum terangkut secara maksimal ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Kasi Kebersihan dan Pertamanan, Salimin, beberapa waktu lalu, mengatakan, saat ini pihaknya masih menyewa 1 loader dan 1 dum truk untuk menangani sampah di Pangandaran. Biaya sewa sehari, dum truk Rp 500 ribu, sedangkan loader perjam Rp 300 ribu.

“Dua armada ini kita masih sewa. Inipun atas inisiatif sendiri. Tapi sudah dikonsultasikan dengan pimpinan. Awalnya memang karena banyak masyarakat yang komplen
akibat bau sampah yang menyengat,” ungkapnya.

Salimin menyebutkan, dari total 4 armada yang ada, 2 diantarnya sudah tidak bisa dipakai. Inisiatif sewa muncul lantaran bila menunggu pengadaan dari kantor, tentu memakan waktu lama. Soal biaya sewa itu, pihaknya mengambilnya dari alokasi anggaran pembelian BBM.

Menurut Salimin, idealnya kebutuhan kontainer untuk penanganan sampah di Pangandaran mencapai 10 kontainer. Rinciannya, 2 di Batukaras, 2 di Green Canyon, 2 di Parigi, 2 di Cijulang, dan 2 lagi di Padaherang. Kemudian, dum trruck, 1 loader, dan 1 doser untuk di TPA.

Dalam sehari, kata Salimin, pihaknya hanya mampu menangani 6 kontainer sampah. Dengan volume sampah yang terangkut 40 meter kubik, dari total 60 kubik sampah yang harus diangkut. Itupun belum termasuk sampah dari kawasan perumahan.

“Pengolahan sampah juga masih terhambat, karena tanah yang digunkaan TPA, masih milik Desa Purbahayu,” kata Salimin.

Soal personil pasapon, lanjut Salimin, di wilayah pangandaran saja membutuhkan sekitar 45 orang pasapon, sedangkan yang sudah ada baru 30 orang.

Desi, pasapon asal Desa Pananjung, mengaku, seiring Pangandaran menjadi Daerah Otonomi baru (DOB), volume sampah semakin hari semakin mengalami peningkatan. “Perasaan sampah makin bertambah, jalan-jalan juga cepat kotor,” katanya.

Sri Mulyani, pasapon yang dinyatkan lulus tes CPNS K-2, mengatakan, sangat membutuhkan penambahan tenaga personil pasapon di lapangan. Diakuinya, kerjaan penanganan kebersihan semakin hari semakin bertambah. (Mad/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!