Sepenggal Cerita “Ayam Kampus” di Kota Banjar

07/02/2014 0 Comments
Sepenggal Cerita “Ayam Kampus” di Kota Banjar

Kawasan Rest Area Banjar Atas (BA), Parungsari, Kota Banjar, menjadi tempat ketemuan para Wanita Pekerja Seks (WPS) kelas “Ayam Kampus” dengan pelanggannya. Photo : Hermanto/ HR

“Sejak dulu, kehidupan malam di Kota Banjar selalu menarik perhatian. Bahkan, gemerlap malam di kota kecil ini tak pernah lepas dari dunia esek-esek-nya.”

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Banjar adalah sebuah kota kecil yang tidak pernah mati dengan segudang aktivitas warganya, baik siang maupun pada malam hari. Kota Banjar juga sebagai pintu gerbang Provinsi Jawa Barat dari arah Timur, sehingga sering dijadikan tempat transit bagi para pelancong dari luar kota.

Walaupun terbilang kota kecil, namun jika ditelisik lebih dalam dari segi kehidupan malamnya, kota ini tidak kalah dengan kota-kota lain. Apalagi sempat terdengar julukan bahwa Kota Banjar dikenal dengan “ayam kampus” yang siap memanjakan para lelaki hidung belang.

Dalam dunia prostitusi, mungkin setiap orang akan mudah menemui wanita pekerja seks (WPS). Biasanya bila malam tiba, mereka nongkrong dan menjajakan diri di tempat-tempat tertentu, atau bahkan di pinggir jalan.

Namun tidak demikian dengan ayam kampus, sebab mereka beroperasi tidak seperti WPS lainnya. Ayam kampus lebih terselubung dan biasanya menggunakan jasa “mamih” atau “papih.”

Tarifnya pun tentu jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan WPS biasa, tergantung usia dan kecantikannya. Bila masih muda dan menarik, pasti harganya lebih mahal.

Sekali kencan dengan lelaki hidung belang, “Si Ayam Kampus” dibayar mulai Rp.1 juta, bahkan bisa sampai Rp.5 juta. Sudah pasti pemesannya berasal dari kalangan kelas atas seperti pengusaha, atau oknum pejabat pemerintah. Transaksinya pun dilakukan melalui telepon. Kalau sudah deal, mereka akan menentukan tempat untuk bertemu.

Seperti beberapa waktu lalu, tepatnya Sabtu malam (01/02/2014), sekitar jam 21.30 WIB, HR berhasil menemui Mawar (bukan nama sebenarnya), salah seorang “Ayam Kampus” dengan ditemani sang mucikari, Ujo (bukan nama sebenarnya), di Rest Area Banjar Atas, yang saat itu akan bertransaksi dengan pelanggan.

Walaupun cuaca pada malam itu hujan deras, namun tak menyurutkan niat “Si Ayam” untuk bekerja demi segepok uang. Tidak lama kemudian, Si Bos (sebutan pelanggan) yang ditunggu-tunggu datang dengan menggunakan sebuah mobil sedan berkelas.

Menurut Ujo, fenomena ayam kampus sudah ada sejak dulu, apalagi sekarang dengan adanya tekhnologi canggih, tinggal kontek via telepon selular maka pesanan siap antar sesuai selera. “Biasanya mereka kencan keluar kota seperti Pangandaran, Majenang, atau bahkan sampai Purwokerto,” ujarnya kepada HR.

Selama menjadi mucikari, dia selalu berhati-hati sekaligus memberikan perhatian khusus kepada peliharaannya, dan harus pilih-pilih tamu sehingga tidak sembarangan. Menurut Ujo, pernah suatu hari dapat pelanggan yang mempunyai kelainan seks, yakni setiap akan beraksi dengan “Si Ayam,” si bos tersebut melakukan pemanasannya dengan cara disiksa dulu.

“Waduh, itu kejadian paling ngeri yang pernah saya alami selama menjadi mucikari, kasian si ayam keluar kamar dengan tubuh penuh lebam akibat pukulan si bos,” kata Ujo, yang mengaku memiliki peliharaan empat “ayam kampus.”

Dilain tempat, mucikari lainnya, Isan (bukan nama sebenarnya), mengaku dirinya lebih enjoy dengan memelihara “ayam kampus” daripada memelihara WPS yang sering nongkrong.

Walaupun dari segi profesi sama-sama menjual diri, namun ayam kampus lebih terdidik dan tidak sembarangan dalam memilih tamu atau pelanggan, selain itu juga dalam penghasilan sudah pasti lebih besar. “Lebih enak bekerjasama dengan ayam kampus Mas, dalam urusan penghasilan sudah tidak diragukan lagi,” ujar Isan sambil tertawa.

Isan menambahkan, tidak sedikit pula dari mereka yang menjadi istri simpanan seorang pengusaha atau seorang pejabat. Sebab, mereka menjadi ayam kampus lantaran tuntutan gaya hidup jaman sekarang. Tetapi ada juga yang mengaku hanya untuk membantu orang tua dalam memenuhi biaya kuliahnya.

Seperti diungkapkan Neng (22) (bukan nama sebenarnya), salah seorang “ayam kampus.” Dirinya terjun ke dunia prostitusi motifnya ikut tren gaya hidup anak muda jaman sekarang. Selain itu, dari penghasilannya yang cukup lumayan besar sehingga dirinya mampu membantu meringankan beban orang tuanya.

“Semua itu sudah menjadi urusan saya mas, dan saya tidak munafik. Semua orang pasti butuh uang, mengenai ada yang bilang ini itu, saya gak peduli,” ujarnya.

Disinggung mengenai adanya beberapa ayam kampus yang menjadi istri simpanan, Neng menanggapinya dengan enteng. Menurut dia, kalau menjadi istri simpanan justru malah akan lebih rumit, lantaran harus terikat terus dengan si bos. “Aduh, kalau itu malah terikat mas, jadi kita tidak bisa bebas dapat pelanggan dong,” ujar Neng sambil tertawa manja.

Dengan pendapatan dan penghasilan yang melimpah hingga jutaan rupiah membuat mereka terlena, sehingga dalam kehidupannya sehari-hari selalu serba mewah. Lantaran, apa pun yang mereka mau bisa tercukupi dengan uang.

Sementara itu dilain pihak, Koordinator Tatabu Muslimah Hizbut Tahrir Kota Banjar, Reni Renia Devi, S.Kep., M.Kep., menilai, adanya “ayam kampus” berawal dari pergaulan bebas yang mengarah pada perilaku seks di luar nikah, serta adanya perubahan gaya hidup yang ingin berbeda dengan orang lain.

“Saya sangat prihatin dengan beberapa kaum perempuan yang menganut gaya hedonisme. Dalam hal ini pemerintah pun punya tanggung jawab besar terhadap perempuan, bagaimana supaya mereka tidak membangun relasi hanya dengan dasar uang,” tuturnya.

Reni menyebutkan, penyakit seperti itu sudah mewabah, baik di kampung maupun di kota. Hal itu merupakan dampak negatif dari kemajuan tekhnologi saat ini, lantaran dengan canggihnya tekhnologi maka situs-situs porno di internet jadi semakin mudah diakses.

Dia menambahkan, masalah tersebut bukan hanya peran pemerintah saja yang harus mengawasi pergaulan para remaja, namun peran orang tua jauh lebih penting untuk memberikan perhatian dan mengawasi putra-putrinya. Jangan sampai mereka bergaul terlalu bebas. (Hermanto/ Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!