Banjar Kedepan Mau Dibawa Kemana?

24/03/2014 0 Comments
Banjar Kedepan Mau Dibawa Kemana?

Skuad Secangkir Kopi Panas berfoto bersama dengan mantan walikota Banjar sekaligus tenaga ahli Pemkot Banjar Dr. H. Herman Sutrisno.

Oleh : Nanang Supendi

100 hari kerja Asih Katadji sudah selesai dilalui, dalam perjalanannya bisa dikatakan masih kurang greget. Baru sebatas menjalankan penataan kedisiplinan birokrasi dengan mengadakan sidak kesetiap OPD sampai ke pemerintahan Desa/Kelurahan. Serta baru sebatas memenuhi janji politiknya, mengeluarkan kartu Asih, berupa pelayanan Kartu Raskin, Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), Kartu Sehat, Asuransi Pekerja Non-Formal (Pasapon, Tukang Ojeg, Penarik Becak, Sopir Angkot dan Kuli Pasar), Kartu Bantuan Lanjut Usia, dan Bantuan Usaha Ekonomi Produktif (UEF). Itu pun baru sebatas launcing program. Diharapkan tidak berhenti sampai disini.

Dengan pencapaian segudang prestasi di usia melewati 10 tahun Kota Banjar, itu merupakan check yang terisi. Apakah Asih Katadji mampu mengisi kembali check yang sudah tersedia? Banjar kedepan mau dibawa kemana? Tentunya beban Kota Banjar kedepan jauh labih berat, apakah nanti masih bisa dipertahankan atau tidak.

Jangan sampai setelah menginjak 11 tahun, saat ganti kepala daerah prestasi dan pembangunan jadi turun. Yang jelas dengan bukti yang dirasakan masyarakat, berbagai pelayanan kesehatan, pendidikan, dan pelayanan publik sudah bagus.

Memang dengan melihat Rancangan awal Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMD) Kota Banjar Tahun 2014-2018, Asih Katadji mengangkat sepuluh isu strategis yang menjadi arah pembangunan untuk lima tahun kedepan. Yaitu peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), Penanggulangan kemiskinan dan pengangguran,Peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, Peningkatan daya saing produk dan daya tarik daerah, peningkatan ketahanan panganm pembangunan infrastruktur penujang Banjar Agropolitan, Penyedian sarana dan prasarana kota yang memadai, Pembangunan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan, Penegakan hukum dan perlindungan hak azasi manusia, Reformasi birokrasi untuk mewujudkan pelayanan prima kepada masyarakat.

Kita tunggu saja…  kepemimpinan Asih Katadji melewati 100 hari kerja mengundang banyak harapan dan komentar dari berbagi kalangan masyarakat, Banjar mau dibawa kemana 5 tahun kedepan?Seperti halnya disampaikan Dr.dr.H.Herman Sutrisno,MM, mantan Walikota Banjar dan sekarang menjadi tenaga ahli di pemerintahan kota Banjar, yang dirangkum dalam sebuah diskusi Secangkir Kopi Panas  digagas koran mingguan HR  digelar di aula pertemuan DCTKLH, Kamis (14-03-2014).

“Dari pemerintahan sekarang ini yang terlihat baru sekedar pencitraan atau lebih banyak euforia. Harus optimalkan kerja, buktinya penyusunan RPJMD pun tidak bisa selesai dibuat dengan cepat, karena dengan lambannya penetapan RPJMD perlu disadari birokrasi dalam bahaya. Malah pemerintahan sekarang memberikan komentar bahwa dalam RPJMD pemerintahan sebelumnya mengenai isu strategis pembangunan Kota Banjar hasilnya masih rendah dan kurang baik”, kata Herman.

Lebih lanjut dirinya mengatakan, memang saya ini di dalam kepemimpinannya dari awal menjalankan kebijakan pembangunan larinya kenceng, alhasil 10 tahun Kota Banjar hasilnya banyak manfaat dirasakan masyarakat. Dalam lima tahun pertama kota Banjar berdiri pembangunan infratruktur perkotaan dan perkantoran, tahun berikutnya baru merambah kesehatan lingkungan. Saat ini, jalan 90% dalam kondisi bagus, sekarang tinggal pemeliharaan saja yang harus diperhatikan. Kalaupun membuat akses jalan baru  bisa mengungkit daya ekonomi.

Bagaimana pun keberlanjutan pembangunan yang bisa mengungkit ekonomi Banjar? Untuk pembangunan infrastruktur jalan, buka akses jalan Pangandaran-Jawa Tengah melalui jalur Batulawang. Ini mah malah berfikir aksesbility jalan lingkar utara, itukan tidak ada daya ungkit ekonomi, justru akan membunuh ekonomi Banjar.

Kemudian kita pikirkan membuat kawasan industri, bisa kita buat kawasan itu di Sinartanjung. Sesuai RPJP terus buat pembangunan untuk mendukung Agropolitan, harus bisa membuat Terminal Agro dan Pasar Agro. Selain alasan  menuju Kota Agropolitan, karena Banjar wilayahnya didukung daerah sekitar Ciamis dan Jawa Tengah, dimana hasil pertaniannya keluar masuk berorientasi ke Banjar.

Langensari sebagai Kota keduanya Banjar, pasar Langensari harus segera menjadi pasar harian dan dipindahkan tempatnya. Daerah yang tepat untuk membangun pasar Langensari kembali  bisa di daerah Kantor BPP dan Kelurahan Muktisari, dan kantor yang ada disitu dipindah tempatnya, sedangkan tempat semula pasar Langensari dibikin untuk terminal dan pasar Agro. Kembangkan Puskesmas Langensari menjadi Rumah Sakit.

Kemudian dengan hasil-hasil pembangunan yang ada seperti pusat-pusat kegiatan dipikirkan bagaimana maintenannya? Tempat wisata Waterpark kembangkan dan pelihara, malah kurang peduli atas keberadaannya, padahal hasilnya bagus. Sport Center, yang sudah selesai, tinggal melengkapi kekurangan yang sudah dibuat besteknya seperti tribun penonton, pembuatan pagar sekeliling kawasan dan lainnya. Itu penganggarannya bisa kita serap dari provinsi dan pusat, untuk menangkap peluang anggaran itu di kota Banjar harus membuat SOTK Kantor Pemuda dan Olaharaga, artinya harus terlepas dari dinas Pendidikan. Kemudian untuk pemeliharaan dan pengelolaannya harus dibuat kelembagaan. Islamic Center, bisa digunakan untuk kepentingan publik lain seperti disewakan sebagai tempat resepsi hajatan, pemberangkatan haji dan hal lainnya.

Tak kalah penting untuk mendukung pembangunan Banjar kedepan yaitu birokrasi yang  berfikir inovatif untuk kemajuan kota Banjar juga paham atau sedikitnya mengetahui dan mengikuti sejarah. Artinya birokrat jangan stagnan, tapi bagaimana ditanamkan komitmen yang kuat dan berkompeten yang bagus. Bisa diibaratkan kalau TNI besi, maka birokrat itu semennya. Disini kesempatan para birokrat muda untuk unjuk diri kemampuannya dan ada potensi peluang menguji komitmen dan kompetensinya, terlebih akan diberlakukannya UU no 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN).

Wawan Setiawan, pembangunan birokrasi itu memang penting dilakukan, masalah kompetensi harus betul-betul kredibel dan penempatan birokrasi mesti dilaksanakan sesuai tempat dan bidangnya. Temasuk juga isu perubahan SOTK semestinya harus dilaksanakan, seperti halnya untuk meningkatkan olahraga dikota Banjar dan mengoptimalkan sarana olahraga Sport Center, harus mempunyai kantor khusus yang membidanginya yaitu dibuatkan kantor pemuda dan olahraga. Dengan demikian harus terlepas dari dinas induknya dari dinas pendidikan.

Agus Nugraha, Asih Katadji kedepan dalam menjalankan pemerintahannya untuk menjadikan Banjar lebih baik, harus dilihat dua periode hasil pembangunan kepala daerah sebelumnya, dan wajib mengevaluasi 100 hari kerjanya. Diibaratkan chek 10 tahun pembangunan Banjar sudah tutup buku, artinya sekarang chek yang ada harus bisa diisi kembali, juga yang sudah terisi jangan sampai digerogoti. Semua chek yang ada bisa diproteksi oleh masyarakat. Kita sekarang bukan hanya sekedar membangun lagi, tapi dipikirkan bagaimana maintenannya. Seperti Sport Center dan Islamic Center mau digimanakan dan mau dibawa kemana. Harus dibuat struktur kelembagaannya.

Di Dinas PU, untuk akses jalan yang sudah dibuat 200 km harus berfungsi dan buat anggaran pemeliharaannya. Jangan sampai dengan membuat maintenan yang salah. Selanjutnya program yang dibuat seperti raskin gratis, pendidikan gratis, kesehatan gratis itu bukan program asih katadji, tapi setidaknya walaupun bukan sepenuhnya program yang dimilikinya, harus membuat bagaimana maintenannya.

Basir, dengan lahan yang persawahan tersedia; 1600 sawah non teknis dan 1700 sawah teknis, ini bisa dijadikan modal untuk peningkatan daya beli masyarakat. Hasilnya sampai saat ini Banjar ketersedian beras surplus atas perhitungan konsumsi pangan beras di masyarakat kota Banjar. Tapi kita harus berpikir kedepan, apakah kita bisa mengoptimalkan sawah teknis bisa dipake untuk kebutuhan makan. Keterkaitan antisipasi masalah itu, PU jangan hanya memikirkan akses jalan, tapi akses irigasi untuk mengairi sawah harus terus diperhatikannya atau dimaving dengan baik. Sehingga diharapkan ketersedian pangan akan semakin mapan. Betul di Kota Banjar untuk mendukung Kota Agropolitan harus dibuatkan terminal agro sebagai usaha meningkatkan daya beli masyarakat nantinya. Di dinas Pertanian pun ada beberapa UPTD, seperti balai benih padi, balai benih ikan dan yang lainnya bisa juga dibuat BLUD.

Iwan Syarifudin pengamat sosial di kota Banjar yang hadir dalam diskusi Skuad Secangkir Kopi Panas menyebutkan, Asih Katadji harus tetap fokus bagaimana Banjar kedepan untuk lebih maju dan berkembang. Jadi semangat dari berdirinya kota ini harus ditanamkan, seolah-olah jalan ditempat. Akses jalan yang sudah tersedia, tinggal perawatan dan peningkatan kualitas. Bagaimana menciptakan peluang ekonomi dan mendongkrak ekonomi Banjar.

Menurutnya, Kinerja Asih Katadji ada empat strategi yang dilakukannya; pertama, bulan madu (euforia jabatan), kedua, kalkulasi atau itung-itungan, ketiga, strategi politik dan keempat, pemantapan politik. Untuk birokrat,  para kadis jangan sampai menjadi pemasok kegiatan (proyek). Sebagai parameter birokrasi yang berpikir kemajuan kota Banjar harus rajin baca, karena kedepannya birokrasi ini akan diuji kelayakannya oleh UU ASN, hal ini dilakukan sebagai bentuk peningkatan reformasi.birokrasi. Mengenai akan diberlakukannya UU Desa, bisa saja kelurahan kembali mengingnkan menjadi desa, itu harus diantisipasi hati-hati.Pesannya. Dalam diskusi Secangkir Kopi panas Iwan merasa tertarik pada forum diskusi itu,dan mengacungkan jempol pada Koran HR membuka ruang diskusi cerdas dan menarik untuk diikuti,ucapnya.***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply