Belajar Mengelola Sampah ke Surabaya

08/03/2014 Berita Terbaru
Belajar Mengelola Sampah ke Surabaya

Oleh : Redaksi

Kota Surabaya di Jawa Timur, dipilih menjadi tuan rumah Hari Peduli Sampah 2014. Di antara alasannya, Kota Surabaya dinilai berhasil mengelola sampah. Bagaimana cara kota ini mengelola sampahnya?

Menurut Walikota Surabaya Tri Rismaharini, Surabaya menghasilkan rata-rata 1.200 ton sampah per hari. Sampah tersebut tidak dibuang tapi dimanfaatkan kembali. Pemanfaatan kembali itu berupa mengolah sampah menjadi kompos untuk tanaman di taman kota, untuk bahan pembangkit listrik, dan sebagian lagi direproduksi menjadi bahan yang bernilai ekonomis.

“Kami mau bangun tempat pengolah kompos dan tempat khusus pengolah sampah menjadi bahan pembangkit listrik berkapasitas 40 ribu Watt di tiga kecamatan,” kata Risma usai Deklarasi Menuju Indonesia Bersih 2020 di halaman Balaikota Surabaya, Senin (24/2/2014).

Konsep pemanfaatan sambah sebagai bahan pembangkit listrik sebelumnya juga sudah ada di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kecamatan Keputih. “Bahkan di sana kapasitasnya sudah 60 ribu kilo Watt,” tambahnya.

Risma mengaku bersyukur, bahwa warga kota sudah mulai berpikir memanfaatkan sampah menjadi bahan yang bernilai ekonomis baik oleh lembaga maupun perorangan.

Pemerintah Kota Surabaya juga banyak melatih fasilitator lingkungan, dari ibu-ibu rumah tangga sampai kalangan pelajar. Selain itu, kerap pula digelar lomba kebersihan di kampung-kampung, yang memicu masyarakat peduli pada lingkungan.

“Prinsipnya, semakin sedikit sampah dibuang ke TPA, semakin baik,” pesan Risma.

***

Sejumlah menteri lingkungan hidup dan perwakilan negara se-Asia Pasifik menggelar diskusi membahas solusi permasalahan lingkungan, khususnya pengelolaan limbah dan sampah dalam konsep 3R, yakni “reduce, reuse, recycle” ke-5 di Surabaya pada 25-27 Februari 2014.

“Forum ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan sinergi kegiatan antarnegara di Asia Pasifik,” ujar Menteri Lingkungan Hidup RI Balthasar Kambuaya di sela pembukaan Forum 3R di Surabaya, Selasa (25/2).

Prinsip 3R, yakni pengelolaan sampah yang lebih baik untuk lingkungan dengan mengurangi sampah (reduce), menggunakan kembali sampah (reuse) dan mendaur ulang sampah (recycle).

Forum ini diikuti sekitar 400 peserta yang terdiri dari 100 peserta internasional perwakilan negara maupun ahli dalam bidang 3R dan manajemen sampah serta perwakilan bilateral, multilateral, dan perwakilan PBB.

Kemudian, 280 peserta undangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Kementerian Lingkungan Hidup yang mencakup perwakilan pemerintah pusat dan daerah, perwakilan sektor swasta, lembaga penelitian dan akademisi, serta LSM.

Menurut dia, masyarakat dunia saat ini, khususnya di kawasan Asia dan Pasifik memiliki kemajuan cepat dalam mewujudkan manfaat penerapan 3R pengelolaan limbah dan sampah.

“Beberapa negara di kawasan ini sudah mengadopsi penerapan prinsip-prinsip 3R dalam bentuk kebijakan, peraturan, strategi serta proyek percontohan skala nasional maupun daerah,” kata dia.

Di tempat yang sama, Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum RI, Imam Santoso Ernawi mengatakan bahwa forum ini merupakan peluang yang baik bagi proses pertukaran pengalaman dan gagasan tentang pengembangkan koalisi serta kemitraan 3R.

“Sebagai negara berkembang, Indonesia telah mengembangkan berbagai kebijakan terkait pengelolaan sampah dan 3R. Namun untuk mencapai hasil yang diharapkan maka dibutuhkan dukungan dan kemitraan dengan berbagai pihak,” katanya.

Sementara itu, disinggung dijadikannya Surabaya sebagai tuan rumah, Deputi Bidang Pengelolaan Bahan Berbahaya Beracun, Limbah Bahan Berbahaya Beracun dan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup RI Rasio Ridho Sani mengatakan karena kota ini sudah menunjukkan kepedulian terhadap lingkungannya.

“Surabaya masuk kriteria dan sudah membuktikannya. Ini terbukti dari banyaknya program-program yang berhasil dilakukan oleh Pemerintah Kota dan masyarakatnya,” kata dia.

Tidak itu saja, alasan lainnya menjadikan Surabaya sebagai tuan rumah karena pihaknya menerima laporan bahwa setelah melihat Surabaya secara langsung pasti terkesima dan kagum. “Wow, Surabaya ternyata luar biasa penataan lingkungan dan pengelolaan limbah serta sampahnya. Itu laporan yang saya terima, sehingga tidak hanya teori saja,” kata Rasio. ***

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles