Di Ciamis, 60 Persen Koperasi Gulung Tikar

15/03/2014 0 Comments
Di Ciamis, 60 Persen Koperasi Gulung Tikar

Logo Koperasi

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Sungguh ironis dan mengenaskan, dari jumlah 862 unit koperasi yang tercatat berada di Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Pangandaran, sebanyak 508 unit diantaranya (60 persen), dikategorikan tidak aktif atau gulung tikar.

Otomatis dari total jumlah unit koperasi, hanya 354 unit koperasi yang aktif. Padahal total volume usaha koperasi di dua kabupaten mencapai angka 173,8 milyar rupiah. Dengan angka penyerapan tenaga kerja sejumlah 687 orang, terdiri dari 24 manajer koperasi dan 663 orang karyawan.

Spektakulernya, jumlah koperasi yang gulung tikar tentu mengundang sejumlah pertanyaan akan nasib sekaligus penanganan perkoperasian di dua kabupaten. Bayangkan saja, dari 862 unit koperasi, total jumlah anggota mencapai 73.888 orang. Dengan jenis koperasi dari mulai koperasi konsumsi, pemasaran, produksi, simpan pinjam, jasa, serba usaha, KUD, BMT, serta Pusat/ Skunder.

“Memang bisa dikatakan gulung tikar,” ungkap Kabid Koperasi dan UKM Disperindagkop Kabupaten Ciamis, Erwan, didampingi Kasi Koperasi, Iman, kepada HR, pekan lalu.

Sayangnya, Erwan enggan menjelaskan secara lebih detil soal sebab dari gulung tikarnya ratusan koperasi tersebut. Dia mengaku sulit karena banyak faktor yang harus diidentifikasi. Namun dia memastikan, mayoritas koperasi yang bubar disebabkan persoalan manajerial.

Saat ini, kata Erwan, yang bisa ditangani ihaknya adalah melakukan pendampingan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) terhadap koperasi yang masih aktif, sampai akhir bulan Maret tahun 2014.

“Hingga Desember 2013, baru ada 150 unit Koperasi yang melakukan RAT,” paparnya.

Langkah itu, ungkap Erwan, sebagai salah satu solusi untuk menyelamatkan koperasi yang masih aktif. Langkah konkret pihaknya untuk menyehatkan koperasi yang gulung tikar, yakni melakukan sosialisasi UU Koperasi No. 17 Tahun 2012.

“Dengan UU baru ini, koperasi yang tidak aktif atau gulung tikar bisa disehatkan kembali dengan syarat dan ketentuan yang diatur dalam UU baru tersebut,” ujarnya.

Dalam UU Koperasi No 17 tahun 2012, koperasi dibagi empat jenis badan hukum, meliputi Koperasi Jasa, Koperasi Produksi, Koperasi Simpan Pinjam, dan Koperasi Konsumen. Menurut UU tersebut, koperasi merupakan badan hukum dan bukan badan usaha.

“Otomatis akan ada pemutihan data koperasi yang tidak aktif. Makanya kami lakukan sosialisasi ke semua koperasi, tidak terkecuali koperasi yang sudah tidak aktif,” ujarnya.

Masih menurut Erwan, pihaknya kini sudah menyiapkan tenaga pendamping ahli bagi koperasi, sehingga resiko salah pengelolaan bisa dikurangi. “Mengurangi resiko Miss Managemen,” imbuhnya.

Menurut data yang diperoleh HR dari Disperindagkop Kabupaten Ciamis, per Desember 2013, tercatat dari sisi permodalan, Koperasi di dua Kabupaten banyak mengandalkan modal dari luar dibanding modal dari sendiri (internal).

Dimana jumlah permodalan koperasi dari anggotanya sendiri sebanyak 91 milyar rupiah, sementara jumlah modal dari luar mencapai angka 94 milyar rupiah. Perlu diketahui, dalam UU No 17 tahun 2012, sumber permodalan selain modal pokok, bisa bersumber dari hibah, bantuan pemerintah, pinjaman dari anggota dan koperasi lainnya, juga dari lembaga keuangan dan bank. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!