Mainan Tradisional Khas Orang Ciamis Kian Terlupakan

19/03/2014 1 Comment
Mainan Tradisional Khas Orang Ciamis Kian Terlupakan

Agus sedang menjajakan dagangan berupa mainan tradisional berbahan dasar bambu. Photo : Heri Herdianto/ HR

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Dari tahun ke tahun mainan atau permainan tradisional banyak ditinggalkan oleh generasi muda. Anak-anak sekarang selalu mengekor budaya barat dengan permainan yang dilengkapi kecanggihan teknologi. Seolah-olah, jika tidak mengikuti trend yang berkembang, mereka dikatakan tidak mengikuti perkembangan jaman.

Salah seorang penjual mainan tradisional yang terbuat dari bambu, Agus Salim (50), ketika ditemui HR di sela-sela berdagang, Sabtu (15/3/2014), mengatakan, jaman sekarang mainan seperti ini (gangsing bambu) sangat jarang ditemui.

Entah mengapa, kata Agus, anak-anak muda sekarang cenderung melupakan permainan lokal. Padahal permainan lokal tidak kalah menariknya dengan mainan modern. Mainan tradisional seperti misalnya gangsing bambu atau peluit suara burung, walaupun hanya sederhana, tetapi menyenangkan.

“Karena bukan hanya harganya murah, tetapi mainan tersebut dapat mengasah kratifitas dan mendidik anak,” katanya.

Dia berharap, mainan tradisional diperkenalkan pada anak-anak sejak dini. Sebab mainan lokal ini merupakan lambang kebudayaan Indonesia. Untuk itu, anak-anak harus diperkenalkan dengan mainan lokal sejak mereka mengenal lingkungan sekitar.

Agus, menjelaskan, mainan tradisional juga bisa memanfaatkan sumber daya alam yang ada, sehingga menghemat biaya produksi. Misalnya bambu bisa dibuat mainan tradisional yaitu gangsingan, seruling, peluit suara burung dan lain-lain.

Menurut Agus, dengan banyaknya melihat mainan tradisional yang dimainkan anak- anak di sekitar, membuktikan bahwa permainan lokal bisa membentuk pendidikan karakter anak. Sebab anak bisa menciptakan mainan sendiri melalui ketrampilan yang mereka miliki.

Agus yang hampir 25 tahun berkeliling untuk menjual mainan tradisional bertekad, akan terus menjual mainan tradisional sampai ke pelosok negeri. Walaupun sekarang  terpaksa menjual permainan seadanya.

“Mainan seperti ini saya jual cuma Rp 1000 hingga Rp 10.000,  tergantung ukuran. Tetapi tetap saja peminatnya masih kecil, hanya beberapa anak saja. Padahal dulu peminat mainan ini cukup banyak,” ungkapnya.

Di tempat terpisah, Tati (20) mahasiswa sejarah Unigal, mengatakan, mainan tradisional saat ini sudah terkikis karena banyaknya mainan modern, serta lahan bermain yang semakin sempit.

Tati mengatakan, orang tua sekarang jarang yang memperkenalkan permainan tradisonal karena menganggap permainan tersebut sudah ketinggalan jaman. Kebanyakan diantara mereka merasa gengsi bila membelinya, dibandingkan dengan membeli mainan modern.

Menurut Tati, tidak jarang beberapa remaja jaman sekarang yang memang sama sekali tidak mengenal mainan tradisional, karena menganggap permainan tradisional yang sudah kuno. Mungkin, karena sejak kecil mereka sudah diperkenalkan mainan modern (dunia maya), seperti Playstation dan Game Online.

Tati menjelaskan, bahwa permainan tradisional, sudah ada sejak jaman nenek moyang. Permainan tersebut tercipta oleh sekelompok anak-anak tanpa mengenal status ekonomi. bahkan, dalam permainan tradisional juga terdapat pesan mendidik, yakni kebersamaan dan persaingan secara sehat.

“Ini dapat membentuk jiwa seorang anak untuk lebih menyatu dengan teman tanpa ada perbedaan,” katanya.

Dia berharap, pemerintah dapat memfasilitasi permainan tradisional dengan cara membuat pasar khusus untuk menjual mainan tradisional, serta menggelar even tahunan untuk pelombaan mainan tradisional. (Heri/Koran-HR)

About author

Related articles

1 Comment

  1. Novita Rahma September 16, at 09:23

    Wahh artikelnya bagus dan bermanfaat banget nih Kunjungi juga www.smartkiosku.com atau www.serbamultimedia.com

    Reply

Leave a Reply