Menelisik Komunitas Gay di Kota Banjar

31/03/2014 0 Comments
Menelisik Komunitas Gay di Kota Banjar

Photo Ilustrasi

Banjar, (harapanrakyat.com), –

Perkembangan kota Banjar yang cukup pesat, membuat para pelancong atau tamu yang datang menjadi betah. Bahkan mereka enggan meninggalkan kembali kota mungil ini. Hal ini lantaran kehidupan masyarakatnya yang ramah dan terbiasa dengan multi etnis.

Hiruk pikuk rutinitas kerja masyarakatnya tidak terhenti, baik siang maupun malam, sehingga membuat kota ini makin hidup dan menggeliat.

Seiring dengan perkembangan kota, dari segi sisi kehidupan masyarakatnya pun banyak mengalami perubahan. Mulai gaya hidup  biasa, hingga gaya hidup metropolitan sudah masuk ke kota Idaman ini. Bahkan beberapa diantara mereka membuat perkumpulan yang terbentuk dalam suatu wadah yang disebut dengan komunitas.

Di kota Banjar sendiri banyak  bermunculan kelompok atau komunitas, diantaranya seperti komunitas seni, komunitas otomotif, komunitas arisan ibu-ibu, serta komunitas-komunitas lainnya.

Namun ada satu komunitas yang mungkin jika didengar serasa tidak percaya, atau bahkan masih tabu untuk sekelas kota kecil seperti Banjar, komunitas tersebut adalah komunitas penyuka sesama jenis laki-laki (Gay).

Sekumpulan laki-laki yang mencintai sesama jenis, namun untuk menyembunyikan perilaku menyimpangnya, mereka menjalin juga hubungan dengan lawan jenis. Pria Gay seperti ini biasanya disebut dengan sebutan “ACDC”.

Cara berpakaian mereka sama seperti pria pada umumnya, tapi mereka berpakaian lebih ketat dan lebih rapih. Hal ini untuk menarik perhatian sesama jenisnya.

Ironisnya, di Banjar pun diduga ada pegawai negeri sipil (PNS) yang berperilaku menyimpang, bahkan ada yang tergabung di dalam komunitas tersebut.

Berdasarkan investigasi HR di lapangan, perilaku menyimpang kian sangat memprihatinkan. HR berhasil mewawancarai seorang pria Gay di kawasan Taman Kota, Minggu (23/3/2014) sekitar pukul 09.00 WIB. Sebut saja Boy (26), Pria berparas tampan ini tidak canggung untuk mengakui perilakunya tersebut.

Menurutnya, dia menjadi seperti itu lantaran mengalami kegagalan dalam menjalin hubungan dengan kekasihnya, hingga membuat dirinya menjadi trauma jika berpacaran dengan lawan jenis.

“Dulu memang tidak seperti ini, tapi setelah diputuskan pacar jadi sakit hati, dan menjadi trauma untuk menjalin hubungan dengan perempuan,”ujarnya.

Lebih jauh menurut Boy, bahwa di kota Banjar telah banyak pria penyuka sesama jenis. Tidak sedikit yang tergabung dalam komunitas, lantaran hal tersebut masih dianggap tabu, maka komunitas ini keberadaannya terselubung, bahkan nyaris masyarakat umum tidak tahu keberadaannya.

Lain cerita dengan Boy, Lanang (24) (bukan nama sebenarnya) lebih tragis lagi. Dia mengaku menjadi Gay karena pernah mengalami hal buruk saat bekerja di sebuah toko di Bandung sekitar tahun 2010 lalu. Dia di sodomi majikan laki-laki hingga mengalami trauma, kemudian ia menjadi bergaul dengan penyuka sesama jenis.

“Itu masalah pribadi Mas, saya tidak mau banyak cerita. Dan kalau ingat masa lalu, masih sakit hati terhadap majikan saya,”katanya

Koordinator Tatabu Muslimah Hizbut Tahrir kota Banjar, Reni Renia Devi S.kep. M.K. Dirinya merasa prihatin dengan adanya kaum Gay dikota Banjar. Menurutnya, adanya laki-laki Gay itu berawal dari pergaulan bebas atau bisa juga dari tuntutan hidup, sehingga mereka ada rasa tertarik secara perasaan terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama. Hal itu harus mendapat penanganan serius supaya tidak menimbulkan penyakit sosial yang meresahkan di masyarakat.

Jika dilihat dari sudut pandang agama, lanjut Reni,  melakukan hubungan intim dengan sejenis adalah adalah perilaku yang tidak sesuai dengan fitrah manusia. Allah menciptakan manusia untuk hidup berpasang-pasangan, dan pasangan laki-laki adalah perempuan.

“Saya merasa prihatin dengan adanya beberapa pelaku Gay di kota Banjar. Namun, terlepas dari semua itu, solusi yang bijak dalam menangani masalah ini adalah dengan melakukan pendampingan religius secara serius, dan secara sistematis terhadap mereka,”jelas Reni.

Reni menambahkan, pelaku Gay dapat disembuhkan lantaran bukan faktor genetik, melainkan hanya pengaruh dari lingkungan, serta gaya hidup, asalkan mereka ada keinginan untuk berubah, maka Inysa Allah sesuai dengan keyakinan dan keimanan pasti bisa sembuh. (Hermanto/R3/Koran HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply