Menjelajah Gua di Selasari Pangandaran, Temukan Batu & Satwa Unik

09/03/2014 0 Comments
Menjelajah Gua di Selasari Pangandaran, Temukan Batu & Satwa Unik

Liputan Khusus (Lipsus) Koran HR Edisi 5 Maret 2014

Anggota tim GAMAPALA Universitas Galuh Ciamis saat melakukan penelitian terhadap bebatuan stalgmit dan stalaknit yang terdapat di Gua Sutra Reregen, Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Foto: Asep Kartiwa/HR

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Sejumlah Mahasiswa Universitas Galuh (Unigal) Ciamis yang tergabung dalam Mahasiswa Galuh Pecinta Alam (GAMAPALA) melakukan penelitian ke sejumlah gua yang terdapat di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran. Penelitian yang dilakukan selama dua hari ini, Sabtu- Minggu (22-23/02/2014) lalu, menemukan beberapa fakta unik terkait keberadaan satwa dan ornamen batu yang terdapat di dalam gua tersebut.

Wartawan Koran HR, Asep Kartiwa, bersama tim GAMAPALA, ikut menjelajahi sejumlah gua yang saat ini tengah dikembangkan menjadi objek wisata baru di Kabupaten Pangandaran tersebut. Dengan menelusuri lorong gelap di dalam gua, wartawan HR mengisahkan pengalamannya saat menemukan sejumlah keunikan yang terdapat di gua tersebut. Berikut laporannya:

Hari pertama, tim GAMAPALA melakukan penelitian ke Gua Sutra Raragen. Penelitian pertama, yakni melakukan pengukuran letak titik koordinat gua, mengukur ketinggian gua dari permukaan laut dan mempelajari batuan-batuan pembentuk gua serta meneliti satwa yang ada di dalam gua tersebut.

Temuan pertama, tim menemukan satwa Kodok Gua yang hidup di atas bebatuan. Kodok gua ini tampak berbeda dengan kodok biasanya. Struktur mulutnya lebih monyong dan lebih besar. Kemudian tim pun menemukan Udang Galah, Jangkrik Gua, Laba-laba Gua, Burung Walet dan Kelelawar yang menambah keindahan di dalam Gua Sutra Reregan tersebut.

Menurut Rangga peneliti GAMAPALA, satwa yang berada di dalam gua itu, meskipun jenisnya sama, namun bentuknya berbeda dengan satwa yang berada di luar gua. Seperti jangkring gua, bentuknya lebih besar dan kakinya terlihat tegak. “ Mirip-mirip kasir besarnya. Namun, ini benar-benar jangkring, tapi bentuknya besar. Kemudian laba-laba gua, juga berbeda bentuknya. Selain itu, laba-laba gua tidak beracun,” jelasnya.

Setelah meneliti satwa, tim MAGAPALA pun melakukan penelitian terhadap bebatuan yang berada di dalam gua. Menurut Rangga, batu stalagmit dan stalaktit yang berada di Gua Raragen 90% masih hidup. Artinya, bebatuan tersebut masih terus tumbuh besar dan panjang seiring proses alam.

“Batu pembentuk Gua adalah batuan jenis Kars atau batu kapur (bahasa Inggris: limestone) (CaCO3). Batu itu merupakan batuan sedimen terdiri dari mineral calcite (kalsium carbonate). Sumber utama dari calcite ini adalah organisme laut. Organisme ini mengeluarkan shell yang keluar ke air dan terdeposit di lantai samudra sebagai pelagicooze. Batuan –batuan inilah yang kemudian membentuk speleothem seperti stalagmit dan stalaktit,” terangnya.

Menurut Rangga, bebatuan ini mirip seperti halnya batu yang berada di dasar laut. Diduga, ribuan tahun yang lalu daerah tersebut merupakan perairan laut. Setelah terjadi pengikisan dan pergeseran lempeng bumi, membuat permukaan bumi semakin meninggi. Kemudian daerah tersebut menjadi daratan seiring proses alam.

“Batuan kapur di gua ini jenisnya kapur muda. Hal itu terlihat dari perbukitan kapur di luar gua yang tidak terlalu tinggi. Berbeda dengan batuan kapur yang ada di Papua yang sudah sangat tua, dimana bantuan kapurnya menjulang tinggi seperti pegunungan,” ujarnya.

Menurut Rangga, ketinggian di sekitar Gua Sutra Reregan berdasarkan pengukuran GPS adalah 178 meter dari permukaan laut.  Dan jika GPS-nya disimpan di dasar tanah, ukurannya sekitar 176 meter dari permukaan laut. Namun sayang, ketika tim GAMAPALA melakukan pengukuran koordinat di dalam gua, alat GPS tidak menemukan sinyal internet. Pengukuran pun urang dilakukan.

Pada hari kedua, tim GAMAPALA berhasil meneliti 3 buah Gua lainnya di daerah tersebut. Gua-gua yang ada di Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran, memiliki batuan pembentuk yang sama, yaitu batu kapur (Bahasa Inggris : limestone).

Hal itu sama dengan gua yang telah diteliti sebelumnya. Dengan begitu, tim menyimpulkan, ada dua katogori jenis gua di daerah tersebut, yaitu gua yang berbentuk vertikal dan horizontal.

Gua pertama yang diteliti oleh tim GAMAPALA, di hari kedua, adalah Goa Santirah atau penduduk setempat menyebutnya Gua Surupan Santirah. Menurut Rangga, Gua Santirah termasuk katagori gua horizontal. Gua ini memiliki panjang 223 meter, lebar 2 -3 meter dan tinggi 0,5 m -1,5 meter.

Satwa yang hidup di dalam gua tersebut, yakni jangkrik, kodok gua, ikan udang galah. Gua ini pun berair, kerena merupakan sungai di dalam tanah. Rangga menyarankan, khusus gua ini, jangan sampai dimasuki wisatawan saat turun hujan. Karena volume air bisa bertambah dan mengenangi seluruh permukaan di dalam gua. Gua Santirah ini terletak di Dusun Giriharja, Desa Selasari.

Berjarak sekitar 1 km dari Gua Santirah, tim GAMAPALA melanjutkan penelitian ke Gua Aul (Gua Gajah). Menurut warga setempat, gua tersebut adalah jenis gua vertikal. Gua Aul ini berada di 400 meter dari permukaan laut dan memiliki panjang 26,10 meter.

Namun, hasil penelitian tim GAMAPALA, gua ini jenis gua horizontal. Hal itu berbeda dengan pendapat warga setempat. Batu stalagmit dan stalaktit di dalam gua ini pun tidak kalah bagusnya dengan yang berada di gua lainnya, masih di daerah tersebut.

“Bebatuannya masih hidup. Bentuk Stalaktit yang terdapat di mulut gua mirip belalai gajah dengan kepalanya menghadap ke luar. Sehingga kami dan warga setempat yang ikut melakukan penelitian sepakat menyebutnya Gua Gajah atau Gua Ganesha. Karena memang bebatuannya mirip patung Ganesha,” terangnya.

Berjarak sekitar 500 meter dari Gua Aul, tim GAMAPALA melanjutkan penelitian ke Gua Gede. Saat tim sampai di gua ini, tampak jelas berbentuk vertikal. Kedalaman gua ini dari mulut gua sampai ke dasar tanah mencapai 50 meter. Di dasar gua ini terdapat dua buah lorong horizontal. Lorong pertama sepanjang 60 meter dan lorong kedua sepanjang 46 meter dengan lebar 4 -5 meter.

Dalam perjalanan menuju ke dasar gua, ditemukan beberapa ruangan yang menyerupai kamar –kamar dengan dihiasi batuan kristal yang gemerlap bagaikan berlian. Ornamen batu di dalam gua ini sangat luar biasa indahnya. Ada dua buah batu stalagmit yang mirip patung manusia, satu berwajah gempal dan satu lagi mirip patung perempuan.

Namun, untuk turun ke dasar gua yang dalamnya sekitar 50 meter ini, tim harus menggunakan tali pengikat badan, karena curamnya medan. Tak cukup peralatan, nyali pun sangat dibutuhkan agar sampai ke dasar gua tersebut. Saat penelitian, tidak semua anggota tim dan warga berani turun ke dasar gua tersebut.

Ajak Tim Peneliti dari Perguraan Tinggi Lain

Rangga mengatakan, waktu yang terlalu sempit saat meneliti puluhan gua yang ada di Desa Selasari, membuat pihaknya belum berhasil menggali seluruh fakta. Mereka pun berencana akan mengajak rekannya dan menginformasikan ke tim pencinta alam dari Perguruan Tinggi lainnya untuk bersama-sama melakukan penelitian lanjutan terhadap sejumlah gua yang berada di Selasari Parigi.

Menurut Iis Siti Sopiah, peneliti GAMAPALA, sebelummya timnya telah meneliti sejumlah gua yang berada di Cibalong Tasikmalaya, Pacitan Yogyakarta, Sulawesi dan daerah lainnya. Sementara yang melakukan penelitian di sejumlah gua di Selasari, baru tim GAMAPALA dan sebelumnya belum pernah ada yang melakukan penelitian.  (Asep Kartiwa/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!