Mewujudkan Kota Banjar Sebagai Kota Kompak

04/03/2014 0 Comments
Mewujudkan Kota Banjar Sebagai Kota Kompak

Oleh : Husen

Pernahkah anda mendengar kata kompak. Jawabannya pasti pernah atau malah sering. Kata kompak sering muncul dan diidentikan dengan kebersamaan, bersatu padu (dalam menanggapi atau menghadapi suatu perkara dsb). Kata kompak juga sering melekat pada sesuatu yang dianggap mewakili suatu tujuan. Masih ingat dengan istilah Mobil Kompak!! Mobil multi fungsi dengan beberapa keunggulan dan salah satu keunggulannya adalah hemat energi.

Masih ada beberapa statment yang sering dikaitkan dengan kata Kompak. Tetapi penulis pada kesempatan ini akan mengajak pembaca untuk mencermati tentang istilah Kota Kompak, serta bagaimana Mewujudkan Kota Banjar menjadi Kota dengan Konsep Kota Kompak.

Kota Kompak dapat diartikan sebagai sebuah strategi kebijakan kota yang sejalan dengan usaha perwujudan pembangunan berkelanjutan untuk mencapai sebuah sinergi antara kepadatan penduduk kota yang lebih tinggi pada sebuah ukuran ideal sebuah kota, pengkonsetrasian semua kegiatan kota, intensifikasi transportasi publik, perwujudan kesejahteraan sosial-ekonomi warga kota menuju peningkatan taraf dan kualitas hidup kota.

Pada tahun 1970, ide tentang keberlanjutan (sustainability) mulai menjadi topik penting dan aliran utama di setiap literatur perencanaan kota. Maka ide kota kompak (compact city) muncul dan dipandang lebih berkelanjutan dan sebagai respon dari pembangunan kota acak (urban sprawl development). Kota kompak ini memang digagas tidak sekedar untuk menghemat konsumsi energi, tetapi juga diyakini lebih menjamin keberlangsungan generasi yang akan datang.

Sejarah memperlihatkan bahwa model kota kompak pun telah ada di Indonesia sejak ratusan tahun yang lalu. Pada jaman kerajaan-kerajaan di Jawa, pola ruang wilayah kerajaan sudah bisa dikatakan kompak. Adanya pemusatan kegiatan, batas wilayah yang jelas (benteng), kepadatan penduduk, fungsi campuran, dll. Dimana area di dalam benteng dikhususkan bagi keluarga kerajaan dan abdi dalem. Pola yang khas yaitu benteng sebagai pemisah, terdapat alun-alun, lalu pusat kegiatan yang mencakup pasar, tempat ibadah, pusat pemerintahan, dll.

Kebijakan kota kompak di Indonesia seharusnya diaplikasikan sebagai strategi pembangunan kota untuk mengendalikan perluasan (pengembangan) kota akibat cepatnya laju pertumbuhan penduduk.

Kota Banjar sebagai daerah otonom baru, secara prinsip sudah memiliki dasar-dasar untuk mengarahkan  pengembangan kota-nya menjadi Kota Kompak yang memiliki karakteristik yang khas.

Dasar-dasar Kebijakan Kota Kompak yang adaKota Banjar dapat dilihat pada :

Penyediaan infrastruktur yang efisien

Tingkat pelayanan dan kemantapan Infrastruktur di Kota Banjar sudah relatif baik, dimanaefisiensi ini ditunjukkan dengan adanya pembangunan infrastruktur yang  berkorelasi positif dengan perkembangan ekonomi dan menjadi modal dasar menuju Kota Kompak

Kenyamanan berlalu lintas

Sebagai kota yang memiliki jumlah dan kepadatan penduduk yang relatif masih rendah dan ditunjang dengan infrastruktur transportasi yang relatif baik (ditunjukkan dengan kualitas jalan yang relatif baik dan stabil), jumlah kendaraan yang belum begitu banyak menjadikan Kota Banjar sebagai Kota yang memiliki tingkat kenyamanan berlalu lintas yang tinggi.

Penggunaan Lahan yang Efektif

Dengan luasan kota yang relatif tidak begitu besar, aksesibilitas yang tinggi antar desa/kelurahan, Pusat Kecamatan, dan Pusat Kota, sarana pendidikan, kesehatan, serta pusat penggerak ekonomi yang tersebar secara merata dan mudah diakses oleh seluruh penduduk Kota Banjar, menjadikan penggunaan lahan di Kota Banjarlebih efektif dan penggunaan energi fosil untuk mobilitas warga menjadi berkurang, serta kerekatan sosial dapat terbangun.

Sarana pejalan kaki

Adanya sarana pejalan kaki (pedestrian way) atau biasa disebut dengan trotoar yang hampir merata di setiap Kecamatan terutama di jalan-jalan protokol, menunjukkan keberpihakan pembangunan pada kepentingan masyarakat danmerupakan salah satu ciri Kota Kompak dan Humanis.

Bersepeda

Walaupun Pemerintah Kota Banjar belum membangun jalur khusus untuk bersepeda, tetapi budaya bersepeda sudah menjadi ikon kegiatan rutinitas masyarakat Kota Banjar, aktivitas ini yang sering dilakukan pada  akhir pekan atau hari libur  Nasional, sedangkan khusus pada Hari Jum’at sudah diberlakukankebijakan Car Free Day untuk lingkup Pemerintah Kota Banjar (kawasan tertentu). Budaya dan Kebijakan ini sudah menunjukkan salah satu tujuan dari Kota Kompak yaitu efisiensi Energi Fosil.

Partisipasi Masyarakat

Ciri lain dari kota menuju kota berkelanjutan dan Kota Kompak adalah adanya pelibatan masyarakat, pemerintah dalam mengambil pilihan atau tindakan harus mengikutsertakan masyarakat. Hal ini sudah dilakukan oleh Pemerintah Kota Banjar yang dikenal dengan Perencanaan Partisipatifdiantaranya pelaksanaan Musrenbang, penerapan  konsep reduce, reuse, dan recycle sampah, dll

Beberapa peluang yang terdapat di Kota Banjar  dalam mewujudkan kota yang hemat energi dengan mengacu pada Kota Berkelanjutan (sustainable city)sebagai bagian dari Konsep Kota Kompak adalah:

  1. Memperbaiki dan membangun kota secara vertikalmelalui pembangunan Rusunawa merupakan salah satu solusi dari permasalahan kepadatan penduduk yang tinggi di Pusat Kota, kualitas lingkungan yang rendah, tumpang karang dan slum area.
  2. Tata bangunan dan lingkungan hemat energi, dan ruang kota yang berorientasi pejalan kaki dan bersepeda untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor.
  3. Sistem transportasi umum yang intensif akan membantu dalam menyelesaikan masalah kerusakan lingkungan dalam kota akibat transportasi manusia ini, selain mendorong berbagai kegiatan kota lebih aktif juga menyediakan infrastruktur dan servis publik yang efisien.
  4. Peningkatan kepadatan penduduk dan lingkungan berkaitan erat dengan optimalisasi lahan dan infrastruktur dalam kotaakan mempunyai efek positif untuk melindungi lahan-lahan produktif di luar pusat kota.
  5. Aktivitas kota yang tidak pernah berhenti (terutama pada malam hari) menjadi suatu tantangan tersendiri sebagai identitas suatu kota.

Akhirnya dalam menentukan pilihan kompak atau tidak kompak dalam menjawab masalah keberlanjutan dalam sebuah “organisme” kota sebenarnya sangat bergantung pada kecenderungan, perilaku, kapasitas, fleksibiltas, dan tentunya kebijakan dalam sebuah kota.

Jadi dalam mewujudkan Kota Banjar sebagai Kota dengan Konsep KotaKompak ini diharapkan  tidak sekedar untuk menghemat konsumsi energi, tetapi juga diyakini lebih menjamin keberlanjutan lingkungan, sosial dan ekonomi untuk generasi yang akan datang. Wawlahhua’lambissawwab. ***

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!