Politik Machiavellis Karakter dan Cara dari Politikus Zaman ini

04/03/2014 0 Comments
Politik Machiavellis Karakter dan Cara dari Politikus Zaman ini

Oleh: Hilman Al-Hakim (Ketua Umum HMI Cab. Ciamis)

Pada zaman politik ini, banyak hal yang perlu kita kaji bersama dan analisa bersama perihal perpolitikan zaman sekarang. Rakyat harus tahu kebenaran atau lebih tepatnya rakyat harus lebih membuka mata lebar-lebar bahwa pandangan politiknya sekarang mendorong untuk para politikus melakukan politik machiavellis dalam bukunya The Prince.

Dari sikap masyarakat yang Apatis sampai ke yang sikap pragmatis ternyata membuat para politikus menggunakan segala cara untuk mendapatkan perhatiannya, dari hal melakukan klaim program pemerintah, berjanji palsu, malah sampai pembelian suara baik secara langsung atau tidak langsung.

Politik machiavellis dalam bukunya The Princ mengajarkan: Pertama : Bahwa kekerasan (Violence) brutalitas dan kekejaman merupakan cara-cara yang seringkali perlu diambil oleh penguasa. Baginya, kekerasan brutalitas dan kekejaman dapat digunakan kapan saja, asalkan tujuan yang dikejar bisa dicapai. Karena inilah terkenal semboyan “Tujuan menghalalkan segala cara”. Pandangan seperti ini mendorang manusia yang bergerak dalam bidang politik menjadi “Tega dan Tegel”, dan menjadi manusia berdarah dingin. Melangkahi mayat orang lain untuk mencapai tujuan sendiri dianggap sebagai suatu hal yang wajar. Padahal Kekuasaan sebagai amanah dan nikmat dari Tuhan yang harus dipergunakan sebaik-baiknya, ternyata tidak dikenal sama sekali dari ajaran yang pertama ini. Walaupun sekarang sudah dikemas dengan sedemikian rupa tapi tetap subtansi ajarannya serupa, sekarang kekerasan sudah tidak secara langsung tapi secara tidak langung.

Kedua:dalam ajaran politik machiavellis penaklukan total atas musuh-musuh politik dinilai sebagai kebajikan-puncak (summum bonum). Musuh tidak boleh diberi kesempatan untuk bangkit bahkan kalau perlu diperlakukan sebagai barang bukan sebagai manusia. Politik semancam ini yang berintrikkan pada perjuangan untuk merebut kekuasaan (Strugle for power) dan menguasai pemerintah, biasanya disebabkan oleh nafsu-kuasa manusia yang tidak mengenal batas. Oleh sebab itu pihak yang sedang berkuasa, tak sedikit melakukan penindasan dan penekanan serta penaklukan terhadap musuh-musuh politik. Karena, sekali lagi, penaklukkan adalah Summum bonum. Dan ternyata konsep ukhuwwah (persaudaraan  di antara umat manusia) tidak sedikit pun terlintas dalam benak pemimpin seperti ini.

Dari mulai memenjarakkan dengan cara yang kontroversial sampai dengan pembabibutaan penangkapan yang terpandang kurang sistematik dan kini sudah terjadi pada era ini.

Ketiga : dalam ajaran politik machiavellis dalam menjalankan politik seseorang penguasa harus dapat bermain seperti binatang buas, terutama seperti singa dan sekaligus sebagai anjing pemburu. Kebuasan singa akan membikin takut serigala, sedangkan kecerdikan dan kelicikkan anjing pemburu dapat menghindari pelbagai jebakan. Seorang penguasa harus dapat menjadi anjing berburu untuk mengenali pelbagai perangkap, dan harus bisa menjadi singa untk bisa menggertak manusia-manusia serigala. Penguasa yang hannya bisa bersikap seperti singa tidak akan waspada. Sedangkan penguasa yang mampu berperan seperti anjing pemburu akan menjadi pemain politik terbaik, tetapi ia harus tahu bagaimana bersikap seperti musang-berbulu-ayam. Disini tidak ada kejujuran ataupun kebenaran yang terpenting kepentingannya bisa terakomodir. Misalnya ; Memanipulasi data, membohongi publik, mengubar janji dan lain sebagainya

Meskipun wejangan-wejangannya itu ditujukkan kepada sang pangeran yang berkuasa di masa hidup machiavelli, tetapi banyak sekali politisi yang menimba ajaran –ajarannya  tersebut dan mempraktekkannya dalam kehidupan politik atau bisa jadi para politikus ini tidak menyadari akan ajaran ini tapi prilakunya terpengaruhi dari ajaran ini.

Kita lihat bersama sekarang fakta di lapangan ajaran ini tidak sedikit pemerintah melakukun ajaran ini walau ternyata sekarang lebih bisa dikemas dengan sedemikian rupa beda pada era-sebelum reformasi, apalagi sekarang tahunnya pemilu baik Eksekutif ataupun Legislatif, tidak sedik calon legislatif yang menghalalkan segala cara, baik dengan cara mengklaim program pemerintas (Contoh : BSM, Jalan bagus, Pembangunan ,dll), membodohi masyarakat dengan janji-janji (memberikkan asuransi kesehatan, sampai pada tataran anggaran), malah sampai membeli suara dengan secara langsung atau tidak langsung.

Oleh sebab itu, masyarakat sekarang harus lebih cerdas dalam menyongsong tahun pemilu kali ini, jangan sampai kita mengorbankan lima tahun hannya dengan janji-janji palsu, hannya dengan uang recehan, sampai mengorbankan harga diri hannya dengan sebatang rokok. Kita harus sadar bersama bahwa dalam masalah kepemimpinan atau wakil rakyat, harus oleh orang yang ahli dalam bidangnya, bangsa kita sekarang lagi krisis pemimpin maka pilihlah pemimpin atau wakil rakyat yang ideal.

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply