Terancam Penyakit Menular, Banyak Desa Ajukan Program SAB

29/03/2014 0 Comments
Terancam Penyakit Menular, Banyak Desa Ajukan Program SAB

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Ancaman penyakit menular dari air seperti kolera dan tifus serta diare banyak dijadikan dasar masyarakat dan para Kepala Desa di Ciamis untuk mengajukan program SAB (Sarana Air Bersih). Trauma akan wabah penyakit menular karena ketiadaan air bersih atau hanya untuk mengantisipasi terjadinya penyakit, menjadi dua alasan mendasar.

Seperti yang dituturkan oleh Kepala Desa Gerba, Kecamatan Cipaku, Icih Hendarsih, Selasa (25/3/2014). Dia mengatakan, bahwa trauma wabah penyakit diare pada tahun 2008 silam di wilayah utara Desanya.

Icih menuturkan, saat itu hingga beberapa warganya mengantri di lapangan Kawali karena keterbatasan ruang Puskesmas Kawali.

“Bayangkan, sekitar 60 persen penduduk terkena diare waktu itu. Secara bergantian dalam waktu serentak,” ungkapnya.

Menurut Icih, dua dari empat Dusun di desanya sudah memiliki weslik dari Dinas Kesehatan Ciamis. diantaranya Dusun Nangrang dan Ciroyom. Namun dua dusun lagi yakni Dusun Gerba dan Ciawitali belum memiliki SAB.

“Makanya kami ajukan. Sudah ada survey dari Dinas Cipta Karya. Sedang menunggu lelang katanya,” Papar Icih.

Kekhawatiran yang sama dirasakan juga oleh Kepala Desa Saguling, Kecamatan Baregbeg Ciamis, Surahman. Ia mengatakan, adanya sarana SDN Saguling 2 dan TK Melati di Dusun Cilemah, menjadi dasar pihaknya untuk mengajukan program SAB ke Dinas Ciptakarya Ciamis tahun lalu.

“ Sarana air bersih bagi anak-anak sekolah belum ada. Ditambah lingkungan sekitar terdapat 50 KK, ini harus diantisipasi,” katanya.

Surahman menuturkan, jika sarana air bersih untuk MCK bagi warganya tidak terpenuhi, maka muncul kekhawatiran akan terjadinya penyakit menular yang disebabkan oleh sanitasi air yang kurang bersih.

”Air tentunya sangat vital, ini yang kami antisipasi sejak dini,” tandasnya.

Dari data yang diunduh HR di salah satu situs sanitasi air bersih, menyebutkan,  bahwa studi yang dilakukan Global Hygiene Council (GHC) yang didukung Reckitt Benckiser Indonesia pada 2013, masyarakat Indonesia memiliki kekhawatiran lebih tinggi akan penyakit menular dari air seperti kolera dan tifus ketimbang penyakit pencernaan.

Untuk mendapat hasil penelitian, peneliti meneliti lebih darii 18.000 responden dewasa di 18 negara, termasuk Indonesia. Kemudian, peneliti menemukan data bahwa di Indonesia 32 persen dari responden khawatir akan penyakit menular dari air seperti kolera dan tifus.

Kemudian 29 persen lainnya, khawatir akan penyakit pencernaan seperti E. Coli, Campylobacter, dan Salmonella. Sementara 26 persen sisanya khawatir akan diare dan muntah-muntah.

Sementara  untuk wabah flu, masyarakat Bandung menunjukan paling tinggi pada angka 26 persen. Sedikit lebih tinggi angka global yakni 25 persen dan lebih tinggi dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta, masing-masing pada angka 17 persen, 14 persen dan 13 persen. (DK/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!