Hasil Pileg 2014, Pemenangnya Adalah Uang

30/04/2014 Berita Terbaru
Hasil Pileg 2014, Pemenangnya Adalah Uang

Oleh : Nanang Supendi *

Melihat judul diatas mungkin pembaca mengganggapnya terlalu arogan, sependapat atau tidak tentang judul tulisan diatas, yang jelas penulis akan mengupas betapa Pemilu Legislatif 2014 sebenarnya dirancang oleh para “pemain/makelar” politik agar mereka bisa berkuasa sampai 5 tahun  mendatang.

Hajat Demokrasi Pemilihan Legislatif telah berlalu tanggal 9 April 2014, dua minggu sudah kita meninggalkan dan menaruh harapan kita bangsa Indonesia sampai tingkat tatanan lokal (baik provinsi maupun Kabupaten/Kota) dibilik Tempat Pemungutan Suara (TPS). Hasil sementara sudah tergambar di publik, dan publik sudah tahu siapa pemenang pemilu serta siapa yang lolos ke parlemen dan siapa saja yang gagal. Bahkan di Kota Banjar sudah resmi diadakan rapat pleno terbuka perolehan suara DPR, DPD, DPRD Prov dan DPRD Kota, Minggu (20/04/2014).

Pileg yang sudah berlangsung tidak sekedar berbicara pemenang pileg atau kalah pileg. Tetapi oleh rakyat Indonesia menjadikan pemilu sebagai hari-hari cari duit…! Sama seperti halnya di Kota Banjar, ada duit pasti dicoblos!. Tidak percaya coba tanya kepada warga dipinggiran kota, mereka pada pemilu legislatif ini terima duit atau tidak? Yakin jawaban mayoritas: TERIMA…! Lha wong masyarakatnya pasca pileg terbuka ngomong blak-blakan.

Dengan demikian hasilnya jelas di TPS yang warganya terima Money Politics dipastikan yang menang adalah parpol atau caleg atau timnya yang bagi-bagi duit. Jangan harap ada parpol bisa menang mutlak tanpa bagi-bagi duit didapil seperti itu.

Maraknya MP selama penyelenggaraan pileg 2014 sangat menghawatirkan sekaligus memprihatinkan. Politik uang semakin membudaya, sebagian masyarakat juga kian pragmatis. Tak malu lagi menerima uang lebih dari satu calon anggota legislatif, malah meminta uang dari para calon anggota legislatif kala dirinya belum kebagian jatah. Lucunya dalam sebuah rumah tangga menerima uang hingga 700 ribu rupiah.

Masyarakat menjadikan pileg layaknya pasar, terjadi jual beli suara. Ada uang ada suara, kondisi demikian tidak bisa lagi dianggap remeh karena dapat menghancurkan nilai-nilai demokrasi. Modusnya membagi-bagikan uang satu minggu sebelum hari pencoblosan hingga fajar menyongsong hari H pencoblosan.

Yang paling heboh modus membagi uang dilakukan dengan serangan fajar bukan lagi isapan jempol, hampir semua caleg dan parpol melalukannya menjelang pencoblosan. Tujuannya apalagi kalau bukan untuk meraup suara sebanyak-banyaknya agar terpilih menjadi wakil rakyat. Ada yang sukses, namun sudah pasti lebih banyak yang gagal.

Alhasil “Pemenang Pileg adalah Uang”. Setuju atau tidak dengan ungkapan kata tadi, kenyataannya memang politik uang itu yang tidak terbantahkan. Dari awal hingga usai pileg kali ini tidak sehat, karena lebih banyak memainkan politik uang dalam upaya pemenangan. Masyarakat yang dinilainya bukan idealisme atau kualitas calon.

Jangan dipungkiri pula disalah satu lingkungan ada beberapa caleg yang meraih suara banyak, tapi bukan sesuai dengan kapabilitas dan kemampuannya yang belum sama sekali terlihat ditengah masyarakat, dikenalpun tidak. Melainkan menang adanya permainan uang.

Kalau sudah begini mau bilang apa…..? apakah kualitas anggota dewan seperti itu akan teruji? Apakah sudah cukup begitu saja dengan seketika suaranya dibeli? Ya sepenuhnya kita serahkan pada masyarakat dan hasilnyapun untuk masyarakat. Mudah-mudahan saja pilihan itu tepat bisa menyuarakan aspirasi masyarakat.

Hal seperti itu dilakukan caleg karena kecenderungan takut kalah dalam berkompetensi di internal atau eksternal, malahan wilayah suara caleg diserang sesama caleg partainya, sehingga mereka memakai cara-cara kotor. Disamping itu faktor ketidaktegasan panwas didalam melakukan pengawasan ikut mendorong maraknya politik uang. Dalam sebuah dialog penulis dengan panwas disuatu desa pada suatu kesempatan, panwas mengatakan “seolah-olah kami ini menutup mata sajalah”. Kok bisa ya?

Melihat realitas itu, penulis mengusulkan pentingnya kembali merancang proses pemilu, dan parpol harus melihat kembali sistem itu apakah sudah benar atau belum? Untuk itu pemilu 5 tahun kedepan kita harus membuat gerakan agar rakyat sadar memilih, tidak usah pilih calegnya! Bikin bingung, coblos partainya saja. Para caleg-caleg hanya sebagai alat, atau hanya dibuat kamuflase saja!

Akhirnya, karena pileg 2014 sudah selesai, maka harga atas pilihannya cukup untuk sebuah nilai mencoblos saja. Jangan mengeluh hidup susah 5 tahun kedepan, sebab anda yang menerima money politics telah menyebabkan anda susah sendiri. Bagi orang-orang kaya tetap saja semakin kaya dengan situasi politik seperti ini, kesusahan masyarakat apapun tidak akan berdampak terhadap mereka. Anggota Dewan bisa saja berkata “kan sudah dibeli suaranya”, mau apa lagi?

 *Penulis adalah Tokoh Pemuda Kota Banjar

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles