Spirit Kartini: Alqur’an Sebagai Pimpinan Kehidupan

30/04/2014 Berita Terbaru
Spirit Kartini: Alqur’an Sebagai Pimpinan Kehidupan

Oleh : Nina Herlina, SP*

Setiap bulan april tentu saja mata anak negeri ini tertuju pada sosok RA Kartini. Setiap tanggal 21 April kelahirannya selalu diperingati dan dijadikan spirit, terutama oleh kaum hawa, dalam mengisi relung-relung kehidupannya. Sepenggal kisah Kartini berikut ini mungkin luput dari perhatian kita, mudah-mudahan bisa menjadi teladan. Sehingga momentum Kartini menjadi lebih bermakna, daripada sekedar seremonial belaka.   

Kartini Ingin Mengerti Isi Al-Qur’an

Ketika Kartini muda, dia juga belajar membaca Al-Qur’an. Namun tidak memahami apa yang  dibacanya. Kartini sangat ingin mengerti isi kandungan Al-Qur’an . Namun  waktu itu Al-qur’an tidak diterjemahkan ke dalam bahasa apapun, termasuk bahasa jawa sekalipun.  Bahkan saat dia bertanya maknanya pada guru ngajinya, Kartini dimarahi dan disuruh keluar ruangan. Sampai akhirnya Kartini tidak mau lagi membaca Al-Qur’an. Menurutnya, buat apa dibaca kalau tidak tahu apa arti yang dibaca.

Kepada Stella, 6 November, 1890, ia menulis:

“Mengenai agamaku Islam, Stella, aku harus menceritakan apa? Agama Islam melarang umatnya mendiskusikan dengan umat lain. Lagi pula sebenarnya agamaku Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, kalau aku tidak mengerti, tidak boleh memahaminya? Al-Qur’an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini orang diajar membaca Al-Qur’an tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir pekerjaan gilakah, orang diajar membaca tetapi tidak diajar makna yang dibacanya. Sama saja halnya seperti engkau mengajar aku membaca buku bahasa inggris, aku harus hafal kata demi kata, tetapi tidak satu patah katapun yang kau jelaskan kepadaku apa artinya.”

Terjemahan Al-Qur’an: Kado terindah penikahan Kartini

Diceritakan oleh Ny Fadhila Sholeh (Cucu Kyai Sholeh Darat),  sebuah pengajian telah mempertemukan Kartini dengan Kyai Sholel Darat (nama aslinya: Muhammad Shalih bin Umar). Acara pengajian tersebut di rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga pamannya. Kyai Sholeh Darat memberikan ceramah tentang tafsir Al-Fatihah. Kartini tertegun. Sepanjang pengajian, Kartini seakan tak sempat memalingkan mata dari sosok Kyai Sholeh Darat, dan telinganya menangkap kata demi kata yang disampaikan sang penceramah. Ini bisa dipahami karena selama ini Kartini hanya tahu membaca Al Fatihah, tanpa pernah tahu makna ayat-ayat itu.

Setelah pengajian, Kartini ditemani pamannnya menemui Kyai Sholeh Darat. Kyai Sholeh Darat, sempat tertegun ketika Kartini muda yang baru berusia belasan tahun bertanya dengan nada protes kepadanya, “Kyai, perkenankanlah saya menanyakan bagaimana hukumnya apabila ada seorang berilmu, namun dia menyembunyikan ilmunya?” “Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”, Sang kyai balik bertanya. “Kyai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surat pertama, dan induk Al-Qur’an yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka bukan buatan rasa syukur hatiku kepada ALLOH. Namun aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Qur’an itu justru kitab pimpinan hidup untuk bahagia dan sejahtera bagi manusia?” jawab Kartini. Dialog berhenti sampai di situ. Ny Fadhila menulis Kyai Sholeh tak bisa berkata apa-apa kecuali Subhanallah.

Kartini telah menggugah kesadaran Kyai Sholeh untuk melakukan pekerjaan besar; menerjemahkan Alquran ke dalam Bahasa Jawa. Kyai Sholeh menerjemahkan ayat demi ayat, juz demi juz ke dalam bahasa Jawa. Sebanyak 13 juz telah diterjemahkan oleh sang Kyai dan dihadiahkan kepada Kartini sebagai kado pernikahannya dengan R.M. Joyodiningrat, seorang Bupati Rembang. Kartini menyebutnya sebagai kado pernikahan yang tidak bisa dinilai oleh manusia.

Re-orientasi hidup Kartini: Buah Pemahaman atas Al-Qur’an 

Surat yang diterjemahkan tersebut mulai dari surat Al-Fatihah sampai surat Ibrahim. Kartini mempelajarinya secara serius, hampir di setiap waktu luangnya. Sayangnya, Kartini tidak pernah mendapat terjemahan ayat-ayat berikutnya, karena Kyai Sholeh meninggal dunia.

Saat mempelajari Islam lewat terjemahan Al-Qur’an berbahasa Jawa itu, Kartini menemukan ayat surat Al Baqarah ayat 257:

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (Iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (َQS. al-Baqarah: 257)

Rupanya Kartini terkesan dengan kalimat: (minazh zhulumaati ilannuur) yang  berarti dari kegelapan menuju cahaya. Hal ini dikarenakan Kartini merasakan sendiri proses perubahan dalam dirinya, dari pemikiran jahiliyah kepada pemikiran hidayah.

Kalimat dalam ayat itulah yang menggugah hati RA Kartini dan senantiasa diulang- ulangnya dalam berbagai suratnya kepada sahabat penanya di Belanda. Dalam bahasa Belanda ditulis Door Duisternis Toot Licht, yang diubah artinya menjadi habis gelap terbitlah terang. RA Kartini ditakdirkan Allah tak berumur panjang, setahun setelah menikah, beliau dipanggil Ilahi beberapa hari setelah melahirkan anak pertamanya. Namun, di hari-hari terakhirnya, dakwah islam yang diikutinya serta cahaya yang dibawa oleh terjemahan Al Qur’an karya Kiai Sholeh Darat telah mulai menyinari hati dan menjadi pimpinan dalam kehidupannya.  Kepada Ny Van Kol, tanggal 21 Juli 1902, ia menulis: “Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam, yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama disukai”

Khatimah

Tulisan kecil ini semoga bisa menjadi spirit dalam mempelajari Al-Qur’an (terutama bagi kaum hawa). Al-Qur’an tidak hanya  dibaca , tetapi juga dipahami  maknanya dan diamalkan dalam perbuatan. Terjemahan Al-qur’an dengan mudah bisa kita dapatkan, tidak seperti Kartini pada jamannya. Jika Kartini saja begitu bersemangat, tentu  generasi sekarang  harus lebih bersemangat lagi. Kartini terus berproses menjadikan Al-Qur’an sebagai pimpinan hidupnya. Tentu itu bukan hanya kewajiban Kartini, tetapi kewajiban kita semua. Ini adalah salah satu esensi dari bukti meneladani RA Kartini, bukan sekedar seremonial belaka tanpa makna.

 *Penulis adalah Pemerhati Ibu dan Generasi, warga Banjar

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles