Kodam Siliwangi Berawal dari Tentara Keamanan Rakyat (TKR)

Markas Kodam Siliwangi di Kota Bandung. Foto: Istimewa/Net

Rubrik ‘Sorot’ Koran Harapan Rakyat Edisi 21 Mei 2014

Oleh: Suherman, DS (Wartawan Senior di Ciamis)

Komando Daerah Militer (Kodam) III Siliwangi berdiri di Tatar Jawa Barat berawal dari maklumat pemerintah Republik Indonesia tanggal 5 Oktober tahun 1945 tentang pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Maka di Jabar dibentuk komandemen I TKR dipimpin Didi Kartasasmita markas di Purwakarta. Komandemen itu memiliki Divisi I meliputi Kersidenan Banten dan Bogor markas komando di Serang dipimpin kolonel Kyai Samun.

Divisi II meliputi Kersidenan Jakarta dan Cirebon markas komando di Linggarjati, Kuningan dipimpin Kolonel Asikin, dan Divisi III meliputi Kersidenan Priangan dipimpin Kolonel Aruji Kartawinata markas di Bandung. Ketiga divisi itu berkekuatan 15 resimen dan setiap resimen berkekuatan antara tiga sampai empat batalyon. Tanggal 20 Mei 1946 ketiga divisi itu digabungkan dengan nama Divisi Siliwangi markas komando di jalan Sutisna Senjaya, Tasikmalaya komandan Kolonel Abdul Haris Nasution.

Tahun 1947 para prajurit Siliwangi meski peralatan perang tak seimbang bertempur habis habisan melawan Belanda yang melakukan agresi militer pertama. Atas hasil perundingan di kapal Renville diteluk Jakarta tanggal 17 Januari 1948 pasukan Siliwangi harus hijrah ke Jogjakarta, Jateng. Menjelang hijrah unsur unsur pimpinan Divisi Siliwangi adalah Panglima Divisi Kolonel Asbdul Haris Nasution, kepala staf Kolonel Hidayat, Komandan Brigade I Tirtayasa Banten Letkol DR Ari Sudewo menggantikan Letkol Suganda Bratamanggala.

Komandan Brigade II Surya Kencana Sukabumi Letkol AE Kawilarang, Komandan Brigade III Kian Santang di Purwakarta Letkol Sidik Bratakusumah, Komandan Brigade IV Guntur di Bandung Selatan Letkol Daan Yahya dan Komandan Brigade V Sunan Gunung Jati di Citebon Letkol Abimanyu. Brigade I Tirtayasa karena masih menguasai keadaan sepenuhnya juga berbagai unsur badan perjuangan ada yang tetap tinggal di kampung halaman masing masing. Tanggal 22 Pebruari 1948 para prajurit siliwangi dari berbagai kantong gerilya di Jabar yang akan hijrah sekitar 29.000 orang.

Sebagian menggunakan kereta api dan sebagian lagi menggunakan kapal laut dari Cirebon. Selama di Jogjakarta prajurit Siliwangi suksesl melaksanakan berbagai tugas, dan salah satunya menumpas pemberontakan PKI Muso di Madiun Jatim tahun 1948. Tanggal 19 Desember 1948 pukul 00 waktu Jakarta, Belanda kepada komisi jasa PBB menyatakan tidak terikat lagi oleh perjanjian Renvill. Pukul 05.30 Belanda melakukan agresi militer ke dua mengerahkan sekitar 135.000 serdadu. Lapang terbang Maguwo dibombardir sejumlah pesawat pembom Mitchel B-25 diikuti penerjunan satu batalyon baret hijau.

Akibat taktik licik Belanda, Panglima Besar Jenderal Soedirman mengeluarkan instruksi No 1. Sesuai perintah siasat No 3 pasukan Siliwangi harus kembali ke Jabar dikenal Long March. Rencana disusun rapi dan perintah sudah sampai tingkat batalyon. Brigade Sadikin menuju Jabar sebelah Utara, Brigade Syamsu menuju Taskmalaya-Garut dan Ciamis. Brigade Kusno Utomo menuju Bandung, Cianjur, Sukabumi dan Bogor. Batalyon Achmad Wiranatakusumah bertugas mengawal staf Divisi Siliwangi yang berangkat paling ahir. Namun karena di Jabar terutama di Priangan Timur terjadi gangguan pasukan DI/TII Karto Suwiryo, sehingga rencana itu dirubah. Batalyon Sitorus kembali ke daerah Garut, Batalyon Achmad Wiranatakusumah ke Bandung selatan, Batalyon Kemal Idris ke Cianjur,

Batalyon A. Kosasih ke Sukabumi dan Bogor, Batalyon Rukman ke Cirebon dan Kuningan. Batalyon Dharsono ke Kerawang, Batalyon Lukas ke Cikampek, Batalyon Sudarman ke Tasikmalaya Utara, Batalyon Nasuhi ke Ciamis dan Batalyon Rivai ke daerah Majalaya sampai perbatasan Garut. Perjalanan Jogjakarta-Jabar dengan jalan kaki mentelusuri medan berat, menyebrang sungai yang airnya deras dan kerap dihujani tembakan dari pesawat terbang Belanda

Batalyon Nasuhi ketika tiba di Sindangbarang, Panumbangan kaki Gunung Cakrabuana, disambut serombongan pemuda berseragam hitam, bahkan di antaranya ada yang membawa senjata. Mereka menawarkan jamuan makan yang kemudian mengajak bergabung. Karena tawaran itu ditolak mereka berusaha merampas senjata prajurit Siliwangi. Atas peristiwa itu, Mayor Nasuhi menugaskan kompi Mung Parahadimulyo tetap bertugas di Sindangbarang untuk mengusir pasukan Kartosuwiryo dari Gunung Cakrabuana.

Kompi Rachmat Selamet membangun pertahanan untuk menghadang agar pasukan Kartosuwiryo tidak masuk wilayah Ciamis utara. Lainnya dipersiapkan menghadapi Belanda. Ketika pasukan Nasuhi mengawal staf komando dan unsur pimpinan Kodam Siliwangi di daerah Sindangbarang disergap pasukan Kartosuwiryo. Pada kontak tembak yang tak seimbang, Kapten Murad Idrus dan letnan Neman gugur. Letda Tomy, Barja, Kusnadi dan letda Puspa Lubis dan prajurit lainnya yang kehabisan peluru ditawan

Mereka dikawal ketat menuju markas pasukan Kartosuwiryo di Dusun Nyalenghor. Dalam perjalanan, letnan Kusnadi berbisik kepada letnan Puspa Lubis, bahwa dalam salah satu ransel yang dirampas pasukan Kartosuwiryo serta diberi tanda husus isinya Panji Siliwangi. Setiba di markas itu para prajurit Siliwangi tetap dijaga ketat. Kedudukan pasukan Nasuhi di daerah Sindangbarang tercium Belanda, maka suatu hari dihujani tembakan peluru mortir bertubi tubi bahkan ada yang meledak dekat markas tersebut.

Merasa takut pasukan Kartosuwiryo lari berhamburan begitu saja, sehingga para prajurit Siliwangi meninggalkan markas itu dan kembali bergabung dengan induk pasukan. Dalam perjalanan menuju Dusun Burujul berjumpa dengan pasukan Kompi IV Mung Parahadimulyo. Kepada Kapten Mung Parahdimulyo, Letnan Puspa Lubis menceritakan peristiwa yang dialaminya secara rinci yang diahiri menyerahkan Panji Siliwangi yang dililitkan di badan dibalik baju yang dipakainya.

Selama beberapa bulan panji Siliwangi ditangan Kompi Mung Parahadi Mulyo yang bertugas di daerah Kuningan. Suatu hari Mayor Nasuhi merintah Kapten Mung Parahadimulyo dan letnan Puspa Lubis agar panji Siliwangi diselamatkan. Mereka menemui Sunahwi, kepala Kampung Cirikip, Cinyasag, Panawangan. Kepada Sunahwi diingatkan panji itu sangat berharga sehingga jangan sampai jatuh ke tangan musuh. Meski dengan resiko berat, Sunahwi meyangupinya. Mulanya panji Siliwangi oleh Sunahwi dimasukan dalam besek kemudian ditaruh di kolong rumah miliknya bentuk panggung. Suatu Sunahwi melihat serombongan serdadu Belanda sedang patroli di daerah Indragiri.

Merasa hawatir, panji Siliwangi itu dipindahkan ke lumbung padi dekat rumahnya. Waktu berikutnya, ketika isteri Sunahwi sedang bertamu ke rumah Wiharja, ketua RT setempat tiba tiba datang sejumlah serdadu Belanda lengkap peralatan perang. Mereka menangkapi sejumlah warga setempat. Mereka disiksa bahkan ada juga yang ditembak. Atas laporan isterinya, saat itu juga Sunahwi mengambil Panji Siliwangi dari lumbung padi. Setelah dimasukan ke bumbung bambu kemudian disembunyikan di atas pohon kelapa halaman rumahnya.

Tiga bulan kemudian, panji Siliwangi diambil lagi oleh Kapten Mung Parahadi Mulyo dan letnan Puspa Lubis. Kapten Murad Idrus namanya diabadikan pada jalur RSU Ciamis ke arah Cigembor, sedangkan Letnan Puspa Lubis didaerah Panoongan menuju Sukamaju, Baregbeg. Tanggal 20 Mei 2014 Kodam III/Siliwangi menapak pada usia ke 68. “Rakyat Jabar-Banten adalah Siliwangi. Siliwangi adalah Rakyat Jabar-Banten”. Motto itu terpatri dan abadi sepanjang masa. Dirgahayu Siliwangi, Esa Hilang Dua Terbilang. ***

KOMENTAR ANDA