Cinta Semalam, Pergaulan Remaja Kota Banjar

Cinta Semalam, Pergaulan Remaja Kota Banjar

Sekelompok anak-anak yang baru menginjak usia remaja tampak tengah menghabiskan malam di sebuah warung kopi di kawasan Taman Kota Lapang Bhakti Banjar.

Foto: Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com)

Saat ini, pergaulan bebas sudah bukan hal yang dianggap tabu lagi bagi kalangan remaja. Istilah American Style, atau Teman Tapi Mesra (TTM), sudah menjadi bagian hidup mereka.

Perilaku remaja di zaman sekarang berbeda dengan remaja tempo dulu, yang cenderung takut dengan norma-norma, dan aturan agama. Kondisi tersebut merupakan hal yang tidak bisa dipersalahkan lagi, lantaran anak remaja sekarang tidak mau dianggap ketinggalan zaman.

Bukan saja terjadi di kota-kota besar, namun sebagian kalangan remaja di daerah pun memiliki pemikiran yang sama. Di Kota Banjar sendiri, pergaulan sebagian kalangan remaja saat ini, baik usia sekolah tingkat SMP maupun SMA, sudah begitu bebas. Mereka seolah tidak lagi mencerminkan sebagai seorang pelajar.

Hal itu terlihat ketika HR ikut bergabung dalam pergaulan mereka, saat berada di sebuah warung kopi di kawasan Taman Kota Lapang Bhakti, Sabtu malam (16/08/2014).

Berdasarkan percakapan HR dengan mereka, indikasi keterlibatan kalangan remaja dalam perilaku seks bebas jelas terlihat. Terlebih bagi mereka yang sedang dimabuk asmara, diketahui minimalnya pernah melakukan tindakan yang mengarah pada proses awal terjadinya hubungan yang tidak layak mereka lakukan.

Bahkan lebih parahnya lagi, mereka mengaku tidak perlu ada hubungan asmara, asal saling suka, maka semua hasrat dapat dilakukan, atau istilah di kalangan remaja disebut American style, yakni teman tapi mesra (TTM).

Seperti diungkapkan Boy (bukan nama sebenarnya). Dia mengaku masih duduk di bangku kelas 2 di salah satu SMP Negeri yang ada di Kota Banjar. Setiap malam Minggu, dia bersama teman-teman sepermainannya berkumpul sambil nongkrong di kawasan Taman Kota Lapang Bhakti.

Namun, usia teman-teman sepermainannya itu lebih banyak dari usia sekolah tingkat SMA. Dalam lingkungan pergaulannya pun tidak hanya kalangan anak remaja pria saja, tetapi ada pula perempuannya, baik yang seusia Boy maupun lebih.

“Saya kenal mereka ini di luar sekolah, saat nongkrong atau ada juga yang dikenalin sama teman saya. Ternyata asyik juga bergaul dengan mereka, kita bisa bebas berbicara tanpa melihat usia, dan yang lebih seru lagi dapat teman cewek yang bisa diajak American style, artinya teman tapi mesra,” tutur Boy, kepada HR, sambil memeluk salah seorang teman perempuannya yang duduk di samping dia.

Ungkapan serupa dilontarkan Icha (bukan nama sebenarnya). Remaja putri kelas 1 di sebuah SMA negeri yang ada di Banjar itu mengaku, bahwa berpacaran ataupun memiliki TTM akan terasa hambar tanpa melakukan ciuman.

Sungguh sebuah ungkapan yang sangat mengejutkan, keluar dari bibir seorang remaja putri seusia Icha. Tanpa rasa malu lagi, dia menceritakan pengalamannya ketika memasuki masa remaja.

Selain mereka, pada malam itu HR pun bergabung dengan anak-anak remaja dari kalangan LSL (Lelaki Seks Lelaki). Suasana dalam pergaulan mereka memang lebih ramai dibandingkan dengan pergaulan Boy dan teman-temannya.

Mereka sama sekali tidak canggung lagi memperbincangkan sekelumit pergaulan di dalam dunianya (kaum LSL-red). Gelak tawa dari candaan mereka menandakan betapa enjoynya remaja-remaja kalangan LSL dalam menjalani pergaulan di dunianya.

“Ya kita-kita mah memang selalu menikmati apa yang kita jalani saat ini. Gak perlu munafik lah, yang penting kita tidak merugikan orang lain,” kata Rey (bukan nama sebenarnya). Remaja berusia 18 tahun ini mengaku statusnya masih pelajar di salah satu SMK di Kota Banjar.

Dia pun tanpa ragu menceritakan kisah asmaranya bersama pasangannya yang tentu saja dari kalangan LSL. Namun, Rey sendiri mengaku sempat memiliki pacar dari kalangan lelaki biseksual, artinya menyukai perempuan juga laki-laki.

“Seksualitas seseorang merupakan hak dari setiap orang. Begitu pula dengan kita, karena kita tetaplah seorang manusia yang memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan orang lain. Yang penting kita selalu bersikap baik dan tidak pernah merugikan orang lain,” ujar Rendy (bukan nama sebenarnya) menambahkan apa yang dikatakan Rey.

Melihat dan mendengarkan apa yang mereka ungkapkan kiranya menjadi salah satu pembelajaran bagi semua pihak. Dimana pergaulan bebas kalangan remaja di Kota Banjar semakin nampak terlihat.

Hal itu tentu akan berdampak negative, bahkan dapat mengancurkan masa depan remaja yang tergabung di dalamnya. Untuk itu, perlu kiranya semua pihak turut andil dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap pergaulan remaja di kota ini. (Eva L/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles