Hmm..! Ini Cerita Mahasiswi Ciamis Nyambi Jadi PL Karaoke

Foto: Ilustrasi

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Geliat usaha karaoke atau live music di wilayah Kabupaten Ciamis dan Tasikmalaya dimanfaatkan sejumlah kalangan mahasiswa perguruan tinggi untuk meraup uang. Sebut saja Bunga, perempuan muda yang masih berstatus seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi di Ciamis ini harus rela berhadapan dengan para pria nakal.

Ketika ditemui secara khusus oleh HR, di sebuah kamar sewaan (kosan), Bunga, menceritakan kisah dirinya terjun ke dunia pemandu lagu (PL) yang sarat akan gemerlap malam dan lelaki hidung belang.

Awal terjun, Bunga mengaku sekedar ikut-ikutan teman wanitanya yang juga seorang mahasiswi, mencari hiburan malam sambil melepaskan penat dengan berkaraoke. Darisanalah pertama kalinya Bunga mengenal dunia karaoke dan pemandu lagu.

“Awalnya saya tidak tahu seperti apa menjadi PL. Sebelumnya, saya ragu melakukannya. Namun teman yang sudah lebih dulu terjun menjadi PL memberikan saran, dan akhinya saya mau menjadi PL,” ungkapnya.

Bunga menuturkan, sudah hampir tiga tahun ini dirinya menjalani profesi sebagai PL di beberapa tempat karaoke di wilayah Ciamis dan Tasikmalaya. Bagi Bunga, pendapatan dari profesi PL sangat lumayan besar.

Alhasil, dari profesinya itu, Bunga tidak lagi harus kebingungan untuk membiayai kuliah, membayar kosan dan keperluan pribadi lainnya. Diakui Bunga, sebagian kalangan masih menganggap profesi PL dengan nada miring.

“Tergantung orangnya. Saya tidak merasa menjadi hina ketika berprosesi menjadi PL. Karena setiap orang perlu hidup dan menjalani hidup. Apalagi, orang tua mengajarkan kita untuk hidup mandiri,” katanya.

Kepada HR, awalnya Bunga pun menganggap PL sebagai profesi yang memiliki image kurang baik. Tapi setelah dijalani, kekhawatiran seperti itu justru hilang. Selama ini, mungkin masyarakat masih menganggap PL merupakan dari kalangan wanita nakal, karena bergumul dengan kehidupan malam dan lelaki hidung belang.

“Kita ambil positifnya saja. Toh saya juga perlu biaya hidup. Apapun penilaian orang tentang PL, saya amini saja. Sebab yang mereka tahu hanya dari satu sisi jeleknya saja. Sebenarnya, bagi yang menjalani, profesi PL cukup menghasilkan,” katanya.

Disinggung masalah kenakalan, Bunga tidak membantah ada PL yang memiliki profesi ganda. Sebab banyak konsumen dari kalangan lelaki, setelah mengajak PL berkaraoke, ujung-ujungnya minta lebih.

“Dan untungnya, saya sampai saat ini masih bisa menjaga diri. Saya juga tidak ingin dicap sebagai wanita murahan, karena memanfaatkan momentum atau aji mumpung,” tandasnya.

Bunga menambahkan, para pengguna jasa PL di Kabupaten Ciamis, mulai dari kalangan pelajar, pengusaha dan juga pejabat. Tarif PL untuk satu jam biasanya Rp 100 ribu, belum lagi ditambah uang saweran.

“Luar biasanya, dalam semalam atau sekitar 4 jam, seorang PL bisa mendapat uang sekitar Rp 600 ribu. Bisa dibayangkan bila dikalikan dalam sebulan,” katanya.

Namun demikian, Bunga mengaku anti dengan minuman beralkohol. Meski tidak sedikit temannya sesama PL, dan para konsumen yang terkadang menyewa PL sambil membawa minuman beralkohol.

Mawar, PL yang juga berprofesi seorang mahasiswi, ketika ditemui HR, sekitar pukul 12 malam, di kawasan taman Alun-alun Ciamis, mengaku baru saja keluar dari room, menemani penyewa jasa PL.

Kepada HR, Mawar mengaku menjalani profesi sebagai PL karena didorong pergaulan. Banyak diantara teman-temannya yang berprofesi sebagai PL. Dari sanalah, diapun kemudian memutuskan untuk mengikuti jejak teman-temannya.

“Dalam seminggu, biasanya saya hanya memanfaatkan empat malam saja. Itupun kalau ada teman yang mengajak. Kalau tidak ada, saya memilih diam di kosan untuk belajar. Soalnya, saya juga belum mempunyai akses ke banyak pelanggan (penyewa PL),” katanya.

Seperti masyarakat kabanyakan, Mawar juga mengaku risih ketika awal terjun ke dunia pemandu lagu. Soalnya, dalam satu ruangan atau room karaoke, harus bersamaan dengan lelaki yang belum dikenal.

Mawar mengaku, selama menjalani profesi PL, dirinya belum pernah mendapat perlakuan yang kurang baik dari pelanggan. Kalau sekedar bernyanyi, kemudian berduet dan bergoyang, baginya itu hal yang wajar.

“Tapi ketika ada pelanggan yang akan berusaha melakukan tindakan kurang baik, misalnya menjurus ke perbuatan asusila, pegang sana-sini, saya pasti menepisnya. Saya tidak ingin terkesan sebagai wanita gampangan,” katanya.

Menurut Mawar, terkait penilai miring terhadap PL, dia tidak ambil pusing. Dia memiliki prinsip, baik buruk pribadi seseorang, tergantung pribadi-pribadi orang yang bersangkutan. “Toh selama menjadi PL, saya juga bisa membayar cicilan motor dan kuliah,” pungkasnya. (Es/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA