Ini Alasan PSK dari Luar Daerah Sulit Masuk ke Jaringan Prostitusi Pangandaran

Foto: Ilustrasi

Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Kekhawatiran Pangandaran menjadi tempat tujuan para Pekerja Seks Komersial (PSK) asal Dolly, Surabaya, Jawa Timur, ternyata belum terbukti. Pasalnya, hingga saat ini Dinas Sosial,Catatan Sipil Kependudukan,Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab.Pangandaran, belum mencatat adanya PSK pendatang baru dari Jawa Timur yang masuk ke daerah wisata tersebut.

Menurut Kepala Dinas Sosial,Catatan Sipil Kependudukan,Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kab.Pangandaran, Drs. Tantan Roesnandar, Pangandaran sudah mempunyai kelas tersendiri sehingga tidak mudah para PSK dari luar daerah untuk masuk ke Pangandaran.

Pihak dinas sendiri akan mengantisipasi datangnya PSK asal luar daerah (Dolly) dengan cara mendata secara kekeluargaan.“Jadi sekarang ini kami baru melakukan tahap pendataan secara detail melalui pendekatan kekeluargaan,”ujar Tantan, saat ditemui HR di ruang kerjanya, Senin (08/09/2014).

Lebih lanjut dia mengatakan, memang beralasan jika para PSK dari luar daerah sangat berhati-hati bila mereka masuk ke Pangandaran. Karena,selama ini koordinasi antara tokoh masyarakat, ormas, muspika kecamatan, tokoh agama dan masyarakat sangat kompak.

Selain itu, dalam upaya menurunkan lonjakan PSK di Pangandaran, pihak dinas pun selalu berkoordinasi dengan Puskesmas, ormas dan LSM, serta memfasilitasi pelatihan-pelatihan atas permintaan dari Panti Rehabilitasi di Cirebon dan Sukabumi yang rutin dilakukan setahun dua kali.

“Hal itu sebagai upaya menurunkan lonjakan PSK di Pangandaran, yakni dengan memberikan wawasan serta pendidikan dan pelatihan,”kata Tantan.

Dia juga menyebutkan, setelah terjadi tsunami di Pamugaran, jumlah PSK dibagi dua blok, yaitu Blok M Pamugaran 1 beranggotakan 21 orang, dan blok Pamugaran 2 jumlah PSK-nya berkisar antara 7-10 orang.

PSK di Pangandaran kebanyakan berasal dari Tasikmalaya dan Bandung.Tarif sekali kencan pun berada dikisaran Rp.300-Rp.500 ribu untuk kelas rata-rata, dan biasanya kafe-kafe ada tarif untuk cabut anak asuhannya minimal Rp.100 ribu.

Sementara berdasarkan data hasil pemeriksaan vaksinasi terhadap PSK yang ada di Pasar Wisata Pangandaran pada bulan Juli 2013 lalu jumlah PSK dari warga Pangandaran ada 6 orang, dan dari luar daerah 30 orang. Sedangkan di Pamugaran I asal Pangandaran ada 3 orang,dari luar Pangandaran 44 orang, Pamugaran II asal Pangandaran 3 orang dan luar Pangandaran 45 orang.

Bagian pelaksana program HIV/AIDS Puskesmas Pangandaran, Aris, mengatakan,pihaknya rutin setiap satu bulan sekali melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap PSK di Pasar Wisata Pangandaran.

“Pemeriksaan yang dilakukan tergantung keluhan dari PSK, dan kita menggunakan resep dokter.Jadi bukan hanya vaksinasi saja, tetapi lebih kepada pengobatan sebagai pencegahan.Mobil klinik kita operasikan di Pasar Wisata dan Pamugaran bersama tim koordinasi dengan Labkesda Kabupaten Pangandaran. Selama ini PSK Pangandaran sangat pro aktif dan mau dengan suka rela memeriksakan kesehatannya,” pungkas Aris. (Mad/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA