Inilah Cerita Tren “Brondong” Kekasih Tante Girang di Kota Banjar

29/09/2014 0 Comments
Inilah Cerita Tren “Brondong” Kekasih Tante Girang di Kota Banjar

Foto: Ilustrasi

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kota Banjar merupakan sebuah kota kecil di ujung Timur Jawa Barat ini terkenal sebagai kota yang aman, damai dan bersih. Tak heran jika Kota Banjar kerap mendapat penghargaan baik tingkat regional maupun nasional. Sehingga, hal ini membuat para pendatang atau tamu dari kota lain yang tinggal Banjar ini seolah enggan untuk meninggalkannya.

Selain itu, sebagai kota yang sedang berkembang, Banjar pun dikenal oleh para pebisnis dari luar kota, mulai dari pemborong, investor, maupun para pengusaha jasa lainnya. [Berita terkait baca: Hmm! Ini Cerita Lika-liku Kehidupan Tante Girang di Kota Banjar]

Terlepas dari semua itu, kota ini pun dikenal sebagi kota yang tidak pernah mati akan dunia malamnya. Contohnya para pekerja seks yang tidak hanya dijalani oleh kaum hawa saja, namun juga kaum adam, atau biasa disebut dengan istilah “brondong” (gigolo muda).

“Si brondong” ini memang sedikit berbeda dengan gigolo lainnya. Kalau gigolo bisa jalan dengan siapa saja, tapi “brondong” tidak bisa bebas, karena mereka telah terikat kesepakatan dengan “si empunya” atau biasa disebut “tante girang.”

Di Kota Banjar sendiri, memang untuk mencari komunitas “brondong” sangatlah susah, sebab komunitas mereka tertutup rapih dan sangat terorganisir. Sehingga, hampir semua orang tidak bisa menebaknya.

Desakan ekonomi kerap membuat sejumlah pria muda tersebut rela untuk melakukan apapun demi mendapatkan uang. Salah satunya menjadi simpanan “tante-tante.”

Pada Sabtu malam (20/09/2014), sekitar pukul 20.05 WIB, HR berhasil menemui salah seorang ‘brondong” di kawasan Rest Area Banjar Atas (BA). Sambil menikmati kopi panas di salah satu meja yang ada di lokasi tersebut, HR terlibat perbincangan santai seputar kehidupan anak muda yang berparas tampan itu.

Sebut saja Bruce (24), bukan nama sebenarnya. Dia mengaku menjalani kehidupannya seperti saat ini sejak duduk di bangku kelas 2 SMA. Selama ini dirinya tinggal di Banjar bersama neneknya, karena kedua orang tuanya sudah lama bercerai sejak Bruce masih duduk dibangku SMP.

Kondisi demikian membuat Bruce merasa tidak mendapatkan perhatian dari kedua orang tuanya. Untuk kebutuhan biaya kuliahnya, dia pun akhirnya menjadi “asuhan” seorang “tante” yang tinggal di Tasikmalaya. “Semula saya hanya iseng. Tapi lama-kelamaan malah jadi senang,” ujar pria yang kuliah di salah satu perguruan tinggi di Tasikmalaya. Saat ini dia sudah semester IV.

Ketika disinggung soal bayaran, sambil tertawa Bruce menjawab bahwa masalah itu tergantung kesepakatan dengan “si tantenya.” “Yang jelas kalau masalah bayaran itu urusan pribadi kang,” ujarnya.

Namun, Bruce tidak menampik bahwa dari hasil menjadi “asuhan” seorang “tante” kini dia telah memiliki apa yang diinginkan. Tetapi, Bruce mengaku menjalani kehidupannya seperti itu bukan semata-mata untuk bergaya hidup glamour, namun karena desakan kebutuhan ekonomi.

Selain pecinta “tante,” ada pula para remaja pria yang menjadi “brondong” penyuka sesama jenis (gay). Hal ini pun akan menjadi salah satu pemicu berkembangnya kaum gay di Kota Banjar.

Seperti diungkapkan Fay (20), bukan nama sebenarnya. Dia mengaku tidak terpikirkan sebelumnya kalau dirinya akan menjadi seperti ini. Namun karena pergaulannya yang bebas dan uang terus mengalir dari para “Si Om” berkantung tebal, akhirnya Fay menjadi ketagihan.

Tak jarang, untuk usia seukuran para brondong penyuka sesama jenis ini pun penampilannya terlihat lebih gagah dan keren. Walaupun sesekali sering terlihat sisi kelembutannya.

“Silakan orang mau bicara apa saja, masa bodo, yang penting saya tidak usil ke mereka, tidak merugikan mereka,” ujarnya, saat berbincang dengan HR.

Pemahaman Agama di Kalangan Remaja Masih Kurang

Menanggapi fenomena tersebut, Ustad sekaligus dosen Pendidikan Agama Islam (PAI) di STISIP Bina Putra Banjar, Anwar Musadad, S.Ag., M.M.Pd., mengatakan, hal ini terjadi karena pemahaman agama mereka kurang, sehingga rendah dalam segi keimanannya.

“Pemerintah dan ulama harus bekerjasama dalam menanggapi masalah ini, sehingga nantinya dapat membimbing mereka ke arah yang lebih baik,” katanya.

Anwar menambahkan,  faktor lingkungan pun berpengaruh, sebab faktor lingkungan 70 persen lebih kuat dibanding dari kepribadian yang dimiliki mereka. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka akan terus menjamur dan nantinya sangat rentan terkena penyakit HIV-AIDS.

Hal senada juga dikatakan Wakil Walikota Banjar, Drg. H. Darmaji Prawirasetya, M.Kes. Menurutnya, terkait dengan persoalan ini, pemerintah akan bekerjasama dengan masyarakat serta ulama dalam menghadapi masalah pergaulan bebas remaja.

Namun yang paling utama adalah adanya  komunikasi dengan orang tua, sehingga si anak dapat melakukan pemahaman secara bertahap, dan  anak-anak pun akan mengetahui bagaimana bertanggung jawab kepada dirinya sendiri.

“Masalah ini menjadi tanggung jawab kita bersama, baik pemerintah, masyarakat serta ulama. Tetapi saya tegaskan lagi bahwa peran orang tua pun sangat penting dalam membimbing putra-putrinya,” katanya, saat ditemui HR, Selasa (23/09/2014).

Darmaji menambahkan, pihaknya tidak menampik dan tidak bisa memungkiri atas dinamika kehidupan modern seperti sekarang ini. Tekanan ekonomi masih menjadi alasan kuat bagi mereka untuk terjun kedunia hitam. “Namun kita tidak bisa menyalahkan siapa yang salah dan siapa yang benar. Mereka ada karena keduanya saling membutuhkan,” pungkas Darmadji. (Hermanto/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply