MA Faturrohman Banjar Kembangkan Keahlian Siswa

Siswa-siswi di Madrasah Aliyah Faturrohman (MAF) Binangun, Kota Banjar, tampak sedang membuat aksesoris berupa bros kerudung. Photo: Eva Latifah/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Untuk membangun kemandirian ekonomi dan sosial di masa yang akan datang, sebanyak 15 siswa-siswi kelas X angkatan pertama Madrasah Aliyah Faturrohman (MAF) di lingkungan Pondok Pesantren (Pontren) Yayasan Faturrohman, Binangun, Kota Banjar, setiap hari Sabtu diberikan mata pelajaran prakarya dan kewirausahaan.

Kepala MAF Binangun, Kota Banjar, Asep Mulyana, mengatakan, sesuai dengan visi sekolah, maka diharapkan setelah lulus nanti mereka bisa mengembangkan keahliannya di desa, sehingga tidak perlu bekerja ke luar kota.

“Untuk itu kami akan memberikan beberapa keahlian dalam bidang sablon, bertani, berternak dan berkebun. Diharapkan anak-anak ini kedepan bisa hidup mandiri secara ekonomi dan sosial, serta dapat mengembangkan potensi di desa,” ujar Asep, kepada HR, Sabtu (06/09/2014).

Lebih lanjut dia mengatakan, sekolah tersebut sengaja mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) di desa yang berkualitas agar desa bisa menjadi pusat produksi, baik di bidang pertanian, peternakan maupun produksi kerajinan lokal.

Diharapkan dengan mata pelajaran tersebut akan mampu mencetak wirausaha yang siap mengembangkan usahanya dengan membuka lapangan kerja baru di desa. Untuk itu, pihak sekolah akan mendatangkan tenaga pengajar yang mempunyai keahlian di bidangnya masing-masing.

Namun, untuk sementara ini prakarya yang diberikan dan sudah berjalan yaitu tekhnik-tekhnik pembuatan aksesoris kerudung dari bahan kain bekas. Hasilnya pun baru bisa dijual di sekitar pondok pesantren.

Dari hasil penjualan aksesoris berupa bros kerudung itu, sebagian dibelanjakan untuk membeli kebutuhan bahan-bahan, dan sebagian lagi jadi tabungan para siswa.

“MAF juga baru 1 bulan ini KBM berjalan. Hari minggu kemarin kami rapat kerja untuk menyusun program dan kegiatan, tapi belum selesai, dilanjut minggu besok. Hasil evaluasi sementara, pondok yang menaungi MA masih belum punya sistem, mekanisme, dan kultur baku yang mendukung gagasan-gagasan pembaharuan. Sehingga kita butuh strategi dan taktik yang tepat,” tuturnya.

Menurut Asep, karena baru angkatan pertama yang semua muridnya berasal dari keluarga tidak mampu, maka untuk saat ini pihak sekolah masih memiliki keterbatasan infrastruktur ruang kelas maupun fasilitas lainnya.

“Kita juga belum punya perpustakaan, belum ada komputer, pokoknya masih sangat terbatas fasilitas. Intinya masih banyak PR. Meksi begitu, pendidikan tetap berjalan dan semua siswa tetap semangat,” pungkas Asep. (Eva/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar