Warga Ciaren Banjar Kesulitan Air Bersih

17/09/2014
Warga Ciaren Banjar Kesulitan Air Bersih

Warga Dusun Ciaren, RT.35/12, Desa Balokang, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, harus rela mengantri di sebuah mesjid untuk mendapatkan air bersih.

Foto: Hermanto/HR.

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Akibat kemarau yang terjadi sejak sebulan terakhir ini, puluhan warga Dusun Ciaren, RT.35/12, Desa Balokang, Kecamatan Banjar, Kota Banjar, harus rela mengantri di sebuah mesjid untuk mendapatkan air bersih, Senin (15/09/2014).

Sumur-sumur warga mulai mengering sehingga mereka mulai merasakan kesulitan mendapatkan air bersih. Guna memenuhi kebutuhan air bersih, warga pun mengambil air ke sebuah mesjid yang ada di RT.37/12, Dusun Ciaren.

Namun itu pun tidak gratis, mereka harus bayar Rp.200 per jerigennya. Uang dari hasil pembelian air tersebut dikumpulkan di salah satu Ketua RT setempat untuk keperluan perangkat mesjid.

Tatan Rustandi (27), salah seorang warga, mengaku, dirinya mengalami kesulitan air sejak sebulan terakhir. Dia terpaksa mengambil air dengan cara membeli Rp.200 per jerigen.

“Setiap hari saya mengambil air sebanyak 17 jerigen untuk keperluan memasak, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya,” kata Tantan, saat ditemui HR, Senin (15/06/2014).

Hal yang sama juga dikatakan Didin (43), warga lainnya. Menurut dia, untuk membeli atau mengambil air ke mesjid itu dirinya harus menempuh jarak sekitar kurang lebih 500 meter dari rumahnya.

“Ya lumayan 500 meter juga capek kalau dilakukan bulak-balik setiap hari. Karena biasanya kan ngambil air dari sumur yang ada di rumah, tidak perlu angkut-angkut seperti sekarang. Tapi karena sekarang semua sumur warga di Ciaren ini mulai mengering, jadi terpaksa ngambil air bersih ke mesjid,” tuturnya.

Didin mengatakan, sekarang ini warga di Ciaren sangat mengharapkan adanya perhatian dari pemerintah agar bisa secepatnya memberikan bantuan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Kesulitan air pun tidak hanya dikeluhkan warga Dusun Ciaren, namun juga para petani di Dusun Balokang. Meski kemarau belum berlangsung lama, lahan sawah tadah hujan di daerah tersebut kini mulai mengering.

Seperti yang diungkapkan Sartono (38), salah seorang petani warga Balokang. Menurutnya, saat ini para petani mulai kesulitan bercocok tanam lantaran lahan pertaniannya sulit untuk diolah akibat kekeringan.

“Sudah sebulan sawah di disini mengalami kekeringan. Kalau kering seperti ini dicangkul juga kan sulit. Sedangakan sawah di daerah Balokang merupakan sawah tadah hujan, sehingga dikasih kemarau sebulan saja sudah tidak bisa digarap,” ucap Sartono.

Di tempat terpisah, Kepala Desa Balokang, H. Oding Homsin, menyebutkan, di Dusun Ciaren ada tiga titik yang sering kali mengalami kekeringan awal, yaitu di wilayah RT.35 sampai RT.37. Adapun pompanisasi yang sudah diberikan pemerintah kini kondisinya sudah rusak dan akan diperbaiki.

“Menurut informasi, tahun ini kurang lebih ada bantuan dana 100 juta rupiah dari Pemkot Banjar untuk pembangunan sumur bor, namun sampai sekarang ini belum terealisasi. Saya sebagai kepala desa memohon dengan sangat agar bisa secepatnya direalisasikan, karena masyarakat Desa Balokang, khususnya warga Ciaren sangat membutuhkan. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles