Waspada, ‘Kupu-kupu’ dari Prostitusi Dolly Bermigran ke Banjar?

Foto: Ilustrasi

Banjar, (harapanrakyat.com),-

Potret kelam Kupu-kupu malam di setiap sudut Kota Banjar, kini semakin bertambah. Hal ini diduga akibat dari ditutupnya lokalisasi Dolly yang berada di Surabaya, sehingga para WPS (Wanita Pekerja Seks) menyebar ke berbagai daerah, termasuk ke wilayah Kota Banjar.

Mereka bekerja sebagai WPS bukan tanpa alasan. Namun alasan yang paling klasik adalah untuk mencukupi kebutuhan hidup. Mereka juga seakan tidak mempedulikan masalah terhadap resiko berbagai penyakit kelamin yang rentan menyerang kesehatannya.

Ketika melakukan investigasi, HR berhasil menemui sejumlah WPS dan para pria pengguna jasa seks komersil di salah satu tempat nongkrong di kawasan Viaduct, Senin malam (01/09/2014), sekitar pukul 22.00 WIB.

Saat ditanya, rata-rata mereka tidak mengetahui tentang penyakit seksual yang menular serta mengancam kesehatannya. Gejala penyakit kelamin yang kerap terjadi seperti keputihan, rasa nyeri dan panas saat buang air kecil atau rasa sakit di bagian bawah perut adalah paling rentan menyerang seorang WPS.

Namun, kebanyakan  “perempuan malam” ini tidak mengetahui dan tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah serangan awal dari infeksi menular seksual. Penyakit seperti raja singa, kencing nanah, dan penyakit merapuhnya kekebalan tubuh atau yang biasa disebut AIDS, hal itu bisa kapan saja menyerang tubuh mereka.

Mereka mengaku, untuk mencegah atau menangkal serangan penyakit-penyakit tersebut hanya dilakukan alakadarnya saja. Misalnya dengan mengkonsumsi obat antibiotic dan meminum ramuan-ramuan tradisional, serta biasa membersihkan alat vitalnya dengan menggunakan pasta gigi.

Selain itu, ada juga diantara mereka yang mengecek kesehatannya ke ahli kesehatan setiap satu minggu sekali. Seperti diungkapkan Kemuning (bukan nama sebenarnya), seorang WPS yang biasa nongkrong di kawasan Viaduct.

“Ya ngeri juga sih kalau mendengar penyakit seperti itu, namun saya selalu mencegahnya dengan meminum antibiotic dan jamu tradisional,” katanya.

Hal berbeda diungkapkan WPS lainnya, Tiara (bukan nama sebenarnya). Dirinya mengaku selalu rutin memeriksakan kesehatannya setiap satu minggu sekali, dan jika ada “tamu” ia selalu menyarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi.

“Seminggu sekali saya selalu mengecek kesehatan, dan saya pun kepada “tamu” selalu menyarankan untuk memakai kondom,” ungkapnya, sambil mengisap sebatang rokok.

Prilaku para WPS tersebut membuat Kabid. P2PL Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjar, dr. Anceu Eka Widianti, angkat bicara. Menurut dia, sebenarnya pemerintah sudah berupaya melakukan pencegahan penyakit infeksi menular, diantaranya kepada kelompok beresiko tinggi seperti WPS dan penggunanya.

“Kami sudah berupaya melakukan promosi perilaku seks melalui program intervensi parubahan perilaku, seperti dengan melakukan sosialisasi bersama lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kesehatan,” katanya, Selasa (02/09/2014).

Namun, pada kenyataannya program-program pencegahan penyakit menular seksual tersebut belum dapat menjangkau semua pelaku seks beresiko tinggi. Hal itu karena para WPS tersebut sebagian masih terlihat minder dan terkesan menutup diri.

Untuk mengurangi resiko penularan infeksi seksual, para WPS dianjurkan memakai alat kontrasepsi yakni kondom. Karena, hal itu dapat mengurangi dan mencegah tertularnya berbagai macam penyakit tersebut. “Tapi bukan berarti pemerintah melegalkan perzinahan,” kata Anceu.

Banyak yang bilang bahwa usia pelacuran tidak akan pernah mati, malah akan terus berkembang dan berkembang. Sehingga, untuk menghilangkan profesi seperti itu tidak mungkin bisa dilakukan selagi masih ada yang saling membutuhkan. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA