Cara Penulisan Nilai Pada Raport Berubah, Orangtua Siswa di Ciamis Protes

Cara Penulisan Nilai Pada Raport Berubah, Orangtua Siswa di Ciamis Protes

Ilustrasi Raport. Foto: Ist/Net

rapot

Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Laporan hasil peserta didik sekolah dasar yang mengacu pada aplikasi kurikulum 2013, menuai kontroversi. Pasalnya dengan sistim penilaian yang ‘dideskripsikan’, orangtua siswa banyak yang tidak mengetahui kemampuan anak dalam menguasai mata pelajaran.

Engkus, orantua Ajis, siswa kelas 2 SDN 1 Cipaku, pekan lalu, mengaku tidak mengerti dengan penilaian hasil pembelajaran anaknya yang dituangkan dengan tulisan atau dideskripsikan. Diapun tidak bisa mengetahui dengan pasti mata pelajaran yang nilainya bagus atau sebaliknya.

Sementara itu, Kepala SDN 2 Mekarsari, Kecamatan Cipaku, Wawan Hendrawan, SPd, mengatakan, hampir seluruh orang tua siswa kelas 1 menuntut agar penilaian pada buku rapor ditulis dengan angka sebagai mana biasa.

Alasannya, dengan sistem penilaian yang dideskripsikan, pada umumnya orangtua siswa tidak bisa mengetahui apakah anaknya mencapai KKM atau tidak dalam setiap mata pelajaran.

“Terlebih, pada kurtilas ada penilaian khusus dari orangtua siswa, yang dapat dipastikan penilaiannya tidak akan obyektif. Makanya, untuk di SDN 2 Mekarsari akan dikembalikan ke tahun 2006,” ucapnya.

Nana Suryana, M.Pd. praktisi pendidikan asal Kecamatan Lumbung, menjelaskan, pada prinsipnya kurikulum manapun sama. Bahkan pada kurtilas sistem pembelajarannya lebih baik. Hanya saja dengan penerapan kurtilas, termasuk didalamnya cara mengisi buku lapor hasil pembelajaran jauh berbeda dengan kurikukum sebelumnya.

“Dengan penilaian yang dideskripsikan, dapat dipastikan bukan hanya kalangan orang tua siswa saja yang tidak mengerti, namun pihak guru sendiri masih banyak yang belum menguasainya,” katanya.

Di tempat terpisah, Kepala SMA Negeri 1 Lumbung, Drs. Darusman R. Iskandar, M.Pd, mengatakan, pada Kurtilas pembelajaran lebih ditekankan kepada nilai-nilai budaya bangsa yang di dalamya menyangkut sikap, sosial, spiritual, tanggungjawab, percaya diri, jujur, dan lain-lain.

Menurutnya, kalaupun Kurtilas dilanjutkan, pihaknya tidak merasa keberatan. Hanya saja pada Kurtilas masih ada yang perlu disempurnakan, diantaranya menyangkut pelatihan guru, pengadaan buku pelajaran berikut alat bantu lainnya. (dji/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles