Komunitas ‘Alay’ Menjamur di Kota Banjar

Komunitas ‘Alay’ Menjamur di Kota Banjar

Ilustrasi. Foto: Ist/Net

Komunitas Alay Menjamur di Kota Banjar

Banjar , (harapanrakyat.com),-

Alay….Kalau ngomong lebay….Dasar anak jablay…..Pikirannya cingcay. Itulah sepenggal lagu dangdut yang berjudul Alay. Lagu tersebut menceritakan bagaimana lika-liku kehidupan kaum alay, khususnya di kalangan remaja atau anak muda akibat pengaruh arus globalisasi yang begitu cepat masuk ke kalangan mereka, dan membuat anak muda kehilangan kepribadian diri sebagai remaja sewajarnya.

Di Kota Banjar sendiri, banyak bermunculan para kaum alay, bahkan mereka sudah memiliki suatu komunitas tersendiri. Hal ini ditunjukkan dengan beberapa gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari pada anak-anak usia remaja.

Fenomena alay sendiri berawal dari suatu kata dengan istilah lebay yang berarti lebih atau berlebihan, dan bisa diartikan juga sesuatu yang melebihi batas wajar. Namun, hal ini pun hanya melanda kalangan anak muda tertentu saja.

Selain itu, kaum alay pun sering disebut anak layangan atau anak lebay. Mereka cenderung memiliki perilaku unik dalam tata bahasa dan gaya hidupnya. Misalnya dalam berbicara mereka selalu dengan intonasi yang berlebihan.

Dalam pembicaraan sehari-harinya kaum alay ini sering terdengar menggunakan kata cius (serius), miyapa (demi apa), cuccok (cocok), dan lain-lain. Dari kata-kata tersebut, mereka pun sering mencampuradukkan beberapa bahasa, seperti bahasa Indonesia, asing, hingga bahasa daerah yang menjadi sebuah kalimat.

Tidak hanya itu, mereka pun mempunyai gaya hidup seperti cara berpakaian, model rambut, dan intinya gaya hidup anak muda yang sedang trend di masa kini.

Pada hari Minggu (1/2/2015) sekitar jam 20.30 WIB, HR berhasil menemui salah seorang komunitas alay di Alun-alun Banjar. Sebut saja Rey (20), (bukan nama sebenarnya). Malam itu ia tengah duduk di sebuah lesehan bersama ketiga temannya, sambil meminum secangkir kopi dan beberapa makanan cemilan.

Pada awalnya ia enggan untuk menceritakan alasan dirinya menjadi seorang alay. Namun, lama-kelamaan akhirnya bersedia menceritakan. Dia mengaku, dirinya sangat mengidolakan salah satu artis hingga ia meniru gaya si artis tersebut, mulai dari cara berpakaian yang berlebihan, model rambut, sampai gaya bahasa.

“Saya sangat ngefans sama dia (artis-red), hingga saya meniru gayanya dia seperti cara berpakaian dan gaya rambut,” ujar mahasiswa semester 2 di salah satu perguruan tinggi di Kota Banjar.

Rey menambahkan, bahwa dirinya selalu cuek dengan pendapat dari orang lain tentang dirinya. Menurut dia, yang penting dirinya tidak merugikan orang lain. “Saya cuek aja jika ada orang yang bilang bahwa saya ini alay, yang penting saya tidak merugikan mereka,” kata Rey.

Lain halnya dengan Brow (17) salah satu kaum alay lainnya yang masih duduk di bangku SMA di Kota Banjar. Dia mengaku menjadi seperti ini karena hanya ikut-ikutan trend saja, tidak lebih dari itu.

Ekeu mah hanya ikutan trend aja ah. Kalau gak kayak gini nanti takut dikatain kuno sama teman-teman,” ujar Brow, dengan logat bicara alay.

Menanggapi adanya fenomena kalangan remaja yang bertingkah alay, Ketua Karang Taruna Kelurahan Banjar, Deni Herdiandi, mengatakan, bahwa keberadaan kaum mereka itu terjadi karena para remaja tersebut masih labil, dan senang meniru dengan apa yang diidolakannya.

Sehingga, mereka sangat mudah tertular dan memilih menggunakan gaya hidup serta bahasa gaul. Sebab menurut mereka, jika tidak mengikuti trend itu maka akan dianggap ketinggalan zaman oleh teman-teman sepermainannya.

“Ini adalah suatu bentuk pengaruh globalisasi dengan pola hidup yang konsumtif. Artinya, perkembangan industri yang sangat pesat, seperti musik dan film, dapat mempengaruhi anak remaja sekarang dan menjadi tempat pusat peniruan yang tinggi,” tutur Deni.

Sementara itu, Wakil Ketua MUI Kota Banjar, H. Muchtar Gozali, juga ikut angkat bicara terhadap fenomena tersebut. Dia menilai, kelakuan anak remaja sekarang, khususnya kaum alay, itu sangat tidak boleh dalam ajaran Islam.

Karena, selain akan menghilangkan budaya asli bangsa Indonesia yang seharusnya dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, lambat-laun juga akan merusak akidah serta keimanan seseorang. Mereka pun tidak memilah atau memilih bahwa budaya asing tidak cocok dengan kehidupan bangsa Indonesia yang menganut adat ketimuran.

“Ini terjadi karena adanya globalisasi dalam budaya, sehingga hal ini dapat menyebabkan pergeseran nilai dan sikap yang semua irasional menjadi rasional,” terangnya, saat ditemui HR di rumahnya, pekan lalu.

Muchtar menambahkan, bahwa masyarakat pun berperan penting dalam menghadapi fenomena alay, khususnya yang terjadi di Kota Banjar. Masyarakat dan orang tua diharapkan mampu untuk menahan pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai jati diri bangsa, sehingga tidak akan kehilangan kepribadian bangsa. “Intinya, kita harus menjadi diri kita sendiri, dan bukan meniru gaya orang lain,” tegas Muchtar. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles