Imbas Berbahan ZA, Puluhan Home Industry Coco Di Ciamis & Pangandaran Tutup

11/04/2015 0 Comments
Imbas Berbahan ZA, Puluhan Home Industry Coco Di Ciamis & Pangandaran Tutup

Salah satu proses produksi pembuatan nata the coco secara home industri di wilayah Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Foto: Suherman/HR.

Salah satu proses produksi pembuatan nata the coco secara home industri di wilayah Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Foto: Suherman/HR.

Salah satu proses produksi pembuatan nata the coco secara home industri di wilayah Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis. Foto: Suherman/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Maraknya pemberitaan pembuatan nata the coco menggunakan bahan kimia berasal dari jenis pupuk ZA, ternyata berimbas kepada pengusaha rumahan (home industry) nata the coco di wilayah Kecamatan Banjarsari, Kab. Ciamis, dan Kec. Padaherang, Kab. Pangandaran.

Sedikitnya ada sekitar 30 home industri nata the coco di wilayah Kecamatan Banjarsari dan Padaherang terancam gulung tikar. Kini, mereka menghentikan berproduksi karena menunggu hasil uji laboratorium yang dilakukan intansi terkait.

Informasi lain yang berhasil dihimpun harapanrakyat.com, menyatakan, sebanyak 200 karyawan home industry nata the coco ikut terancam menjadi pengangguran.

Adanya pabrik yang menggunakan bahan kimia sejenis pupuk ZA, sangat merugikan pengusaha home industry yang mengaku tidak pernah menggunakan bahan tersebut, ikut terkena imbasnya.

Seperti dikatakan Asep Alfin (50) pengusaha home industry nata the coco, warga Desa Kedungwuluh, Kec. Padaherang, Kab. Pangandaran, mengaku, usahanya tidak pernah menggunakan pupuk ZA dalam proses pembuatan, namun ikut terkena imbas.

“Pemberitaan yang marak dan terkesan pukul rata, membuat usaha saya terancam gulung tikar. Hingga kini, usaha tersebut dihentikan karena menunggu hasil uji laboratorium, dan hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya kepada harapanrakyat.com, Kamis, (09/04/2015).

Asep berharap, hasil uji laboratorium segera keluar agar ada kepastian keberlanjutan usahanya. “Sudah lebih dari satu minggu hasil uji Lab belum juga keluar. Dan selama itu juga saya berhenti beroperasi, kasihan karyawan tidak bisa berkerja, saat ini mereka nganggur,” keluhnya.

Lain halnya dengan pengusaha nata the coco home industry lainnya, yaitu, Sri Kurniasih (40), warga dusun Badak Jalu, Desa Ciulu, Kec. Banjarsari, Kab. Ciamis.

Menurutnya, dirinya masih menjalankan usaha pembuatan coco, karena memang dalam pembuatannya tidak menggunakan bahan kimia sejenis pupuk ZA. “Sudah 15 tahun menggeluti usaha coco, dan tak pernah menggunakan bahan berbahaya bagi kesehatan manusia. Dan saya pun sering mengikuti penyuluhan dari Balai Besar Industri Agro (BBIA) dari Bogor,” ujarnya.

Bahkan, lanjut Sri, pada tahun 2012 pihak BBIA Bogor pernah datang ke desanya untuk penyuluhan kepada para pengusaha home industry nata the coco.

“Dengan penyuluhan itu kami diberikan pelatihan pembuatan coco dengan menggunakan bahan tidak berbahaya bagi kesehatan manusia,” tukasnya. (Suherman/R1/HR-Online)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!