Ini Cerita Janda di Pangandaran yang Bekerja Naik Turun Pohon Kelapa

26/04/2015 0 Comments
Ini Cerita Janda di Pangandaran yang Bekerja Naik Turun Pohon Kelapa

Inem saat berada di atas pucuk pohon kelapa, sedang mengambil air nira. Photo : Entang SR/ HR

Ini Cerita Janda di Pangandaran yang Bekerja Naik Turun Pohon Kelapa

Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),-

Pepohonan kelapa setinggi 20 sampai 30 meter, yang tampak lunggak lenggok seperti sedang berjoget saat diterpa tiupan angin, tidak menyurutkan semangat para penderes air nira kelapa untuk mengambil bahan baku gula merah.

Selain terpaan angin, dalam kondisi apapun baik itu hujan deras yang dibarengi petir, para penderes tetap harus menjalani aktivisnya untuk menyadap air nira kelapa dua kali dalam sehari, yakni pagi dan sore

Di pucuk salah satu pohon kelapa setinggi sekitar 25 meter di kebun milik Juhana, di Blok Jambe Colat, Dusun Ciseumpu, RT 12 RW 02, Desa Ciparanti, Kecamatan Cimerak, Kabupaten Pangandaran, tampak seorang perempuan dengan menggunakan celana jeans panjang dan kaos serta berkerudung, pekan lalu.

Setelah turun dari pohon kelapa, HR mencoba menghampiri perempuan bernama Painem (32) tersebut. Tidak berselang lama, janda beranak dua ini kemudian kembali menaiki pohon kelapa. Dalam hitungan detik, wanita ini sudah sampai diatas pucuk pohon.

Bagi Painem, profesi naik turun pohon kelapa sudah menjadi penopang hidup sehari-hari. Meski profesi ini lekat dengan kaum laki-laki, Painem terpaksa tetap memilihnya untuk memenuhi kebutuhan hidup.

“Saat masih ada suami, (Sebelum meninggal), saya bekerja di sebuah perusahaan di Bekasi. Dan sejak meninggal 12 tahun silam, saya bekerja serabutan, dan akhirnya memilih menjadi penderes,” katanya.

Inem mengungkapkan, setiap hari dirinya harus memanjat batang-batang nyiur untuk memperoleh air nira bahan pembuat gula. Dalam sehari, Inem, sapaan akrab Painem, biasa memanjat paling sedikit 22 pohon kelapa. Sehari itu, dia bisa mendapatan sekitar 60 sampai 70 liter air nira.

“Seandainya dapat 60 liter air nira, maka nanti akan menjadi gula merah sebanyak 10 kilogram. Tapi jarang bisa mencapai 60 liter, paling banter sehari 30 liter nira. Berarti hanya 5 kilogram gula. Gula yang sudah jadi, biasa dijual ke bandar dengan harga Rp 8400/ kilogram,” katanya.

Saat disinggung soal kenapa tidak mencari pekerjaan yang sesuai dengan kodrat Inem sebagai perempuna, dia menegaskan bahwa mencari pekerjaan di jaman sekarang tidak mudah. “Saya terpaksa kerja apa saja di kampung asal bisa menutupi kebutuhan anak-anak sekolah. Anak pertama, Nurseha Komalasari (14), tinggal di Jakarta ikut saudara almarhum ayahnya. Sedangkan, Sinta Dewi (11), kini sudah Kelas 5, dan tinggal bersama saya,” kata Inem.

Perjalanan janda beranak 2 ini ternyata tidak sampai disitu. Pasalnya, selain menderes, Inem juga bekerja sampingan, mengangkut bongkahan batu-batu dari jalan raya ke rumah warga yang hendak mendirikan bangunan.

“Kalau ada yang mau mendirikan bangunan pasti dibutuhkan batu untuk pondasi  karena jaraknya jauh kurang lebih 300 meter dari jalan raya maka pemiliknya akan menggunakan jasa saya. Walaupun medan jalan terjal tidak membuat semangat saya padam,” tandasnya.

Inem mengaku masih memiliki pekerjaan sampingan lain, seperti bikin atap dahon, ngored dan ngarontog padi (menggiling). Penghasilan yang bisa didapat Inem dalam sehari biasanya mencapai Rp 30 ribu. (Ntang/Koran-HR)

Ikuti berita menarik lainnya di Harapan Rakyat Online melalui akun twitter: Koran Harapan Rakyat dan fans page facebook: Harapan Rakyat Online

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!