Lama Menghilang, Kini Odong-odong Kembali Beroperasi di Seputaran Banjar

06/04/2015 0 Comments
Lama Menghilang, Kini Odong-odong Kembali Beroperasi di Seputaran Banjar

Mobil odong-odong tampak melintas di Jl. Kapten Jamhur, Kota Banjar. Mobil modifikasi tanpa izin itu kini kembali telihat berkeliaran di jalanan perkotaan, setelah sebelumnya menghilang. Photo: Hermanto/HR

Lama Menghilang, Kini Odong-odong Kembali Beroperasi di Seputaran Banjar

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Setelah beberapa bulan tidak terlihat beroperasi, kini mobil odong-odong kembali berkeliaran di jalanan perkotaan di wilayah Kota Banjar. Mobil modifikasi ular naga tersebut tak berizin dan kerap mengganggu arus lalu-lintas, karena bentuknya yang panjang serta bermuatan penumpang banyak.

Menurut Sandy (38), salah seorang pengendara sepeda motor, bahwa kendaraan seperti ular itu sering mengganggu lalu-lintas. Selain dapat membahayakan pengemudi kendaraan lain, mobil tak berizin itu juga dinilai bisa membahayakan para penumpangnya. Terlebih penumpangnya kebanyakan anak-anak.

“Saya baru lihat lagi hari ini ada mobil odong-odong yang mulai beroperasi lagi. Mobil itu jelas sangat membahayakan, selain penumpangnya penuh, pengemudinya pun sering ngebut,” katanya, kepada HR, Selasa (31/03/2015).

Sandy pun yakin, bahwa kendaraan itu belum ada uji KIR dari Dinas Perhubungan. Menurutnya, pihak Dishub seharusnya lebih memperketat pengawasan terhadap kendaraan-kendaraan yang dimodifikasi, sehingga kendaraan seperti ini tidak menjamur lagi di Kota Banjar.

Pendapat serupa dikatakan Wawan (36), pengendara sepeda motor lainnya. Dia menyebutkan, kendaraan odong-odong ini memang diminati oleh anak-anak. Namun, aspek keselamatannya tidak ada.

Dia pun merasa khawatir kejadian dulu terulang kembali, seperti di Parungsari, Kecamatan Purwaharja, dimana ada seorang anak terjatuh dari atas odong-odong dan langsung terlindas ban mobil tersebut.

“Kepada pengusaha odong-odong, jangan hanya keuntungannya saja yang dihitung, tapi coba aspek keselamatan penumpangnya pun harus diperhatikan,” tegas Wawan.

Sementara itu, Rinto (41), warga lainnya, mengatakan, pada rangkaian odong-odong terdapat logo Kota Banjar. Hal itu tentunya ada retribusi kepada pemerintah. Namun, Rinto mempertanyakan, siapa yang menerima restribusi tersebut.

“Bila ada retribusinya, kepada siapa pengusaha odong-odong tersebut setor, ataukah ada kepentingan lain,” tanya Rinto. (Hermanto/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!