Retribusi Parkir Di Kota Banjar Jadi Lahan Pungli?

12/04/2015 0 Comments
Retribusi Parkir Di Kota Banjar Jadi Lahan Pungli?

Karcis retribusi parkir untuk kendaraan sepeda motor tertera Rp.500, namun para pengguna jasa parkir harus membayar Rp.1000. Foto: Hermanto/HR.

Karcis retribusi parkir untuk kendaraan sepeda motor tertera Rp.500, namun para pengguna jasa parkir harus membayar Rp.1000. Foto: Hermanto/HR.

Karcis retribusi parkir untuk kendaraan sepeda motor tertera Rp.500, namun para pengguna jasa parkir harus membayar Rp.1000. Foto: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sudah menjadi rahasia umum, jika lahan parkir merupakan mata pencaharian baru yang menjadi rebutan, bahkan tidak sedikit, gara-gara lahan parkir sering mengundang keributan.

Banyaknya juru parkir di Kota Banjar, sepertinya perlu ditata dan didata kembali oleh pihak Dinas Perhubungan (Dishub). Pasalnya, kini banyak juru parkir yang tidak menggunakan kartu identitas, alias parkir liar.

Para oknum juru parkir ini kerap melegalkan dengan cara meminta uang kepada pengendara yang memarkirkan kendaraannya tanpa menggunakan karcis. Aparat terkait seakan menutup mata dan berlagak tidak tahu mengenai hal ini. Karena, mungkin saja mereka juga mendapat setoran dari praktek pungli tersebut.

Padahal, jika dilakukan razia besar-besaran, hal ini dapat membuat efek jera bagi para juru parkir liar tersebut. Contoh kecilnya adalah, sudah jelas tertera dikarcis parkir untuk sepeda motor tertulis Rp.500, namun para pengendara harus membayar parkirnya sebesar Rp.1000, dan untuk kendaraan mobil harus membayar Rp.2000, parahnya lagi karcisnya tidak diberikan.

Seperti diungkapkan Dani Rahmadi (36), salah seorang warga Sukarame, Kelurahan Mekarsari, Kota Banjar. Dia mengaku setiap membayar parkir, namun karcisnya tidak diberikan oleh petugas juru parkirnya. Sekalipun diberi, itu hanya karcis bekas, dan dalam karcis tersebut tertera Rp.500, tapi dirinya harus membayar Rp.1000.

Menurutnya, mungkin hal ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah dan dianggap bukan perbuatan menyalahi aturan. Hal-hal seperti ini justru membuat dirinya merasa dongkol, bahkan, bukan tidak mungkin masyarakat lain pun merasakan hal sama.

“Kalau di dalam karcisnya tertera 500 rupiah, kenapa harus bayar 1000. Yang mau saya tanyakan, kemana 500 rupiahnya lagi. Karena, jika 500 dikalikan jumlah juru parkir di Kota Banjar, ditambah jumlah kendaraan sepeda motor yang parkir, hasilnya lumayan besar, dan itu baru sepeda motor, belum lagi mobil yang dibandrol harus membayar 2000 rupiah tanpa karcis,” tutur Dani, kepada HR, Selasa pekan lalu (31/03/2015).

Pendapat serupa diungkapkan Yosef (30), warga Kecamatan Pataruman. Menurutnya, realita tersebut sudah sangat akrab di tengah masyarakat. Jika membayar sesuai dengan yang tertera di dalam karcis, biasanya juru parkir tersebut “murukusunu.”

“Meskipun hanya memberikan kelebihan 500 rupiah, tapi saya merasa “rada heneg,” apalagi jika raut wajah tukang parkirnya jadi tidak ramah,” ujar Yosef.

Warga lainnya, Yudi Wahyudi (42), mengatakan, dalam hal ini, bukan masalah Rp.500 atau Rp.1000, namun para juru parkir merasa bahwa itu memang kewajiban si pengendara untuk membayar parkir sepeda motor sebesar Rp.1000. Walaupun tidak sesuai dengan angka yang tertera di dalam karcis.

“Bukan masalah 500 atau 1000, saya rela bayar lebih mahal asalkan saya diberi karcis parkir resmi, dan membayar sesuai dengan harga yang tertera dalam karcis,” tegas Yudi.

Sementara itu, seorang juru parkir di salah satu titik perparkiran wilayah Kota Banjar, yang namanya enggan dikorankan, mengaku, selama ini dirinya memang tidak menggunakan karcis retribusi parkir. Alasannya, karena si pengendara tidak mau diberi karcis. Selain itu, si pengendara pun jika memberinya uang seribu, tapi kembaliannya tidak mau diterima.

“Tergantung orangnya, kalau memang dia minta kembalian, ya saya kasih kembaliannya. Tapi rata-rata si pengendara biasanya jarang yang menerima kembalian, mereka biasanya bilang kagok, mungkin karena cuma 500 perak,” kata juru parkir yang namanya enggan dikorankan. (Hermanto/Koran-HR)

About author

Related articles

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!