Ini Potret ‘Buram’ Keluarga Miskin di Purwadadi dan Cipaku Ciamis

Dasiem bersama anak-anaknya sedang membereskan barang bekas (rongsokan) yang berhasil dikumpulkan Eson. Photo : Suherman/ HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Satu lagi potret kemiskinan di wilayah Kabupaten Ciamis yang luput dari perhatian pemerintah. potret kemiskinan ini terdapat di Dusun Karangtengah RT 18 RW 03 Desa Sukamulya, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat.

Keluarga pasangan suami-istri Eson (46) dan Dasiem (40) dan enam orang anak mereka yang masih kecil, kini terpaksa tinggal berdesak-desakan di sebuah gubuk reyot yang nyaris ambruk.

Dasiem (40), ditemani empat anaknya, ketika ditemui Koran HR, Sabtu (13/02/2016), mengatakan, sudah hampir sepuluh tahun ini dia bersama keluarga hidup dalam kemiskinan. Dia dan sang suami yang hanya berprofesi sebagai seorang pemulung belum bisa berbuat banyak untuk menyenangkan keenam orang anak.

“Suami saya hanya seorang pemulung, penghasilannya tidak menentu. Jangankan untuk merehab rumah yang sudah mau ambruk, untuk makan sehari-hari saja kami sudah kerepotan. Anak saya kan banyak, masih kecil-kecil lagi,” kata Dasiem.

Kepada Koran HR, Dasiem mengungkapkan, setiap hari dia harus memasak nasi sebanyak dua kilogram untuk kebutuhan enam orang anaknya agar tidak kelaparan. Kalau jatah raskin yang hanya 5 kilogram perbulan habis dia terpaksa minjam dari tetangga.

“Termasuk ketika suami tidak dapat uang, saya terpaksa harus minjem dulu sama tetangga. Soalnya kami hanya mendapat jatah raskin sebanyak 5 kilogram dalam sebulan,” kata Dasiem.

Informasi yang berhasil dihimpun Koran HR, himpitan masalah ekonomi tidak membuat pasangan suami istri ini berputus asa. Mereka tetap gigih memperjuangkan kebutuhan dan kehidupan keenam anak mereka. Bahkan, pasangan ini rela tidak makan asal buah hati mereka tidak kelaparan.

Eson dan Dasiem punya enam orang anak, dua orang duduk di bangku SMP, satu orang di SD, dan tiga lainnya masih balita. Beruntung, anaknya yang duduk di SMP dan SD sepulang dari sekolah selalu membantu orangtuanya mencari barang-barang bekas.

Ust. Ahmad Turmudi, tokoh agama setempat, ketika ditemui Koran HR, Sabtu (13/02/2016), mengungkapkan, kondisi perekonomian keluarga Eson dan Dasiem memang sangat memprihatinkan. Menurut dia, kondisi keluarga tersebut luput dari perhatian pemerintah.

“Kami sangat prihatin masih ada keluarga miskin yang luput dari perhatian pemerintah. Kami berharap, keluarga Eson mendapat bantuan rehab rumah dari pemerintah, kami juga heran, selama ini kenapa keluarga Eson tidak mendapat bantuan rutilahu seperti warga yang lain. Padahal keluarga ini masuk kategori miskin,” katanya.

Ahmad juga mengusulkan agar jatah raskin bagi keluarga Eson dan Dasiem ditambah. Dia menilai, jatah raskin yang hanya 5 kilogram sebulan itu belum memenuhi kebutuhan Eson dan keluarga.

Dari pantauan Koran HR, Eson bersama keluarganya tinggal di sebuah gubuk reyot berdindingkan bilik bambu yang kini sudah bolong disana-sini, beratap genting yang sudah bocor, dan berlantaikan tanah becek. Merekapun tidur berhimpitan di atas dipan besar yang terbuat dari bambu.

Nenek Ijoh Berharap Bantuan Pemkab Ciamis

Sementara itu di tempat terpisah, Nenek Ijoh (60), warga Dusun Desawetan Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, sudah bertahun-tahun belakangan ini hidup sebatangkara di sebuah gubuk reyot rusak dan nyaris ambruk berukuran 2 x 3 meter.

Ketika ditemui Koran HR, Senin (15/02/2016), Nenek Ijoh mengungkapkan, setiap kali turun hujan, dia terpaksa harus meninggalkan rumah dan menginap di rumah tetangga karena atap rumah miliknya bocor.

Nenek Ijoh (60), warga Dusun Desawetan Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, sudah bertahun-tahun belakangan ini hidup sebatangkara di sebuah gubuk reyot rusak dan nyaris ambruk berukuran 2 x 3 meter. Photo : Eji Darsono/ HR
Nenek Ijoh (60), warga Dusun Desawetan Desa Ciakar, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, sudah bertahun-tahun belakangan ini hidup sebatangkara di sebuah gubuk reyot rusak dan nyaris ambruk berukuran 2 x 3 meter. Photo : Eji Darsono/ HR

“Air hujan masuk ke dalam rumah dan membasahi seluruh yang ada di dalamnya. Kondisi ini sudah berlangsung bertahun-tahun. Bila sudah begini, saya sering harus menginap di rumah tetangga,” katanya.

Ijoh menjelaskan, rumah berukuran 2 x 3 meter yang ditempatinya itu berdiri di atas lahan atau tanah milik orang lain. Ijoh berharap, dirinya mendapat program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) dari pemerintah.

Kepala Dusun Desawetan, Udin, ketika ditemui Koran HR, Senin (15/02/2016), membenarkan rumah yang ditinggali Nenek Ijoh kondisinya rusak dan nyaris ambruk. Pihaknya mengaku belum bisa berbuat banyak karena Ijoh masih menempati lahan milik orang lain.

“Salah satu syarat untuk pengajuan bantuan program rutilahu harus menunjukkan bukti surat kepemilikan tanah, sedangkan rumah yang ditempati Nenek Ijoh saat ini merupakan tanah milik orang lain,” katanya.

Kaur Ekbang Desa Ciakar, Nono, ketika ditemui Koran HR, Senin (15/02/2016), menjelaskan, program bantuan stimulan perumahan swadaya (BSPS) ditujukan untuk membangun rumah tidak layak huni bagi masyarakat berpenghasilan rendah.

Senada dengan itu, Kepala Desa Ciakar, Sulaeman Nurjamal, ketika ditemui Koran HR, menuturkan, pengajuan penerimaan program BSPS sudah berulangkali diusulkan. Namun pelaksanaan BSPS diatur dalam Peraturan Mentri Perumahan Rakyat No 6 tahun 2013.

“Setiap calon penerima ditetapkan dengan SK oleh pejabat pembuat komitmen Bantuan Rumah Swadaya (PPK-BRS) wilayah atas dasar usulan yang telah dilakukan verifikasi atas kelengkapan administrasi yang menjadi prasyarat. Terkait kondisi rumah Nenek Ijoh, kami akan berusaha mencari solusi,” katanya. (Suherman/Dji/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar