Ini Sepenggal Cerita Bocah Pemungut Rongsok di Kota Banjar

Ramin (15), tampak sedang menarik gerobak berisi barang rongsok/bekas yang dipungutnya di sekitar jalanan di Kota Banjar. Photo: Muhafidz/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Cengkraman kemiskinan memaksa dua bocah bekerja keras mencari barang rongsok demi sesuap nasi. Ditengah teriknya panas matahari, Ramin (15) dan adiknya, Inan (10), terlihat bersusah payah menarik dan mendorong gerobak berisi barang bekas/rongsok. Kedua bocah tersebut setiap pagi berjalan kaki sejuah 2 kilometer menuju rumah bos rongsok bernama Nono (65), warga RT.3, RW.1, Dusun Rancakole, Desa Mulyasari, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, untuk meminjam gerobak tersebut.

“Setiap pagi yaitu dari jam 7 saya sudah berangkat mencari rongsok. Rumah saya dekat Polsek Langensari,” ujar Ramin, kepada HR, saat dijumpai tengah beristirahat di sebuah pos ronda yang ada di daerah Lemburbalong, Kelurahan Pataruman.

Dia menuturkan, sambil menarik gerobak, ia dan adiknya berkeliling menyusuri jalan raya di wilayah Kota Banjar, untuk mencari barang rongsok, bahkan sampai juga ke kawasan Terminal Bis. Ramin berjalan tanpa menggunakan sendal dan tanpa membawa bekal sebotol air pun.

Ramin terpaksa bekerja mencari rongsok karena membutuhkan uang untuk sekedar makan sehari-hari keluarganya. Ia tinggal di sebuah rumah kontrakan bersama ibu dan dua orang adiknya yang masih kecil-kecil. Sedangkan bapaknya berada di Jakarta, sama seperti dirinya bekerja mencari rongsok.

“Ibu saya tidak bekerja, hanya mengurus dua ade saya yang masih kecil. Inan sekolah di SD 3 Mulyasari kelas 3, tapi sekarang tidak sekolah karena tidak punya uang buat jajan,” ucapnya.

Sementara dirinya sudah 3 tahun tidak sekolah, dan selama itu pula yang dilakukannya setiap hari hanya mencari barang bekas untuk kemudian dijual ke pengepul. Dalam satu hari terkadang Ramin mendapat Rp.20.000 atau Rp.10.000 saja. Uang hasil dari menjual rongsok itu selalu diberikan kepada Nariah, ibunya, untuk kebutuhan makan sekeluarga.

Di tempat terpisah, Nono, bos rongsok yang meminjamkan gerobaknya, mengatakan, kondisi kehidupan keluarga Ramin dan adiknya itu memang cukup memprihatinkan. Selain menjadi tulang punggung keluarganya, Ramin juga kerap “curhat” mengenai sikap ibunya yang keras.

“Ramin sering cerita ke saya, ketika dia tidak mendapatkan uang dari hasil kerjanya, maka dia tak boleh makan oleh ibunya, begitu pula adiknya, Inan. Saya kasihan, kadang saya kasih makan pagi saat mereka mau berangkat mencari rongsok,” tutur Nono.

Nono berharap, Ramin dan adiknya mendapatkan perhatian dari semua kalangan. Pasalnya, perilaku orang tuanya tidak memberikan kebebasan di masa kecil mereka. Selain itu, pendidikan yang seharusnya mereka terima, malah terbengkalai akibat cengkraman kemiskinan.

“Mendingan kalau ia sekolah, lah untuk makan saja dia susah. Saya harap dia dan adiknya dapat menikmati pelajaran di sekolah,” kata Nono.

Sementara itu, salah seorang pengepul rongsok lainnya di Desa Mulyasari, KS (50), menambahkan, keluarga kedua bocah tersebut sudah pindah kontrakan ke daerah Lingkungan Bojongsari, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

“Tadinya mereka menempati rumah kontrakan di komplek sini. Tapi sekitar 1 minggu sudah pindah,” katanya. (Muhafid/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA