Karena Sebab Ini, Tugu Perbatasan Ciamis- Pangandaran Jadi ‘Sareukseuk’

Tugu ‘Selamat Datang’ di perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang dibangun di Jalan Raya Banjar-Pangandaran atau tepatnya di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, menuai kritik dari warga sekitar. Foto: Entang Saeful Rachman/HR

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Karena terhalang pohon besar, tugu ‘Selamat Datang’ di perbatasan Kabupaten Ciamis dengan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, yang dibangun di Jalan Raya Banjar-Pangandaran atau tepatnya di Desa Ciulu, Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Ciamis, jadi kurang elok dipandang. Bahkan, apabila dilihat dari arah Banjarsari, tulisan yang berada di tugu tersebut nyaris tak terlihat karena terhalang dahan pohon.

Sontak, pemandangan yang dinilai “sareukseuk’ atau kurang enak dipandang itu kini menuai kritik dari masyarakat sekitar. Pemkab Ciamis sebagai pihak yang membangun tugu tersebut dinilai kurang peka terhadap kondisi tersebut.

Eko Tria, warga Padaherang, menyayangkan kondisi tersebut. Menurutnya, setelah setahun tugu perbatasan itu dibangun, tampaknya belum ada upaya dari pemerintah setempat untuk membabat dahan pohon yang menghalangi pemandangan untuk melihat kemegahan tugu perbatasan tersebut.

“Saya hampir tiap hari bolak balik Banjarsari-Padaherang. Tapi sudah setahun lebih dahan pohon yang menghalangi pemandangan itu tidak kunjung dibabat. Saya hanya menyayangkan saja kemegahan tugu perbatasan jadi tidak elok dipandang,” ujarnya, kepada HR Online, Minggu (31/01/2016).

Hal senada disampaikan Dian Wahyu, Warga Banjarsari. Dia mengatakan tugu perbatasan yang merupakan pintu gerbang suatu daerah tampak tidak megah ketika pemandangannya terhalang oleh dahan pohon. “ Hanya karena terhalang dahan pohon, esensi tugu perbatasan yang dibangun dengan arsitektur cukup megah itu kini menjadi kurang bermakna,” ujarnya.

Dian berharap Pemkab Ciamis sebagai pemilik tugu perbatasan tersebut harus segera melakukan upaya. Upaya yang dilakukan, lanjut dia, yakni dengan melakukan komunikasi dan pendekatan dengan pemilik pohon agar dahan yang menghalangi pemandangan agar segera dibabat. (Ntang/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA