Musim Hujan, Pengrajin Sale Pisang di Purwadadi Ciamis “Menangis”

Siti, pengrajin sale pisang di Desa Kutawaringin, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, dibantu anaknya, tengah membuat sale pisang. Photo: Suherman/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Curah hujan yang terus mengguyur akhir-akhir ini membuat sejumlah pengrajin sale pisang di Desa Kutawaringin, Kecamatan Purwadadi, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, mengeluh. Pasalnya, para pengrajin kesulitan untuk mengeringkan pisang bahan sale.

Seperti diungkapkan, Adnan, salah seorang pengrajin sale di Dusun Buniasih, Desa Kutawaringin, saat dijumpai HR Online, Jum’at pagi tadi (19/02/2016). Dia mengeluhkan kondisi cuaca yang membuat para pengrajin sale menangis.

“Karena cuaca seperti ini, omset para pengrajin sale sekarang jadi berkurang, sebab para pengrajin kesulitan untuk mengeringkan salenya, tutur Adnan.

Keluhan serupa dikatakan Siti, pengrajin sale lainnya. Dia mengaku, musim penghujan kali ini membuat usahanya pengalami penurunan cukup drastis. Proses pengeringan sale biasanya cukup satu hari, tapi karena akhir-akhir ini cuacanya tidak mendukung, maka pengeringan membutuhkan waktu hingga satu minggu.

“Proses pengeringan kami hanya mengandalkan panas matahari. Saya membuat sale dibantu dua anak saya, dalam sehari bisa memproduksi pisang sebanyak 50 kilogram. Hanya saja saat ini untuk prosesnya jadi terlambat akibat cuaca,” katanya.

Siti juga menyebutkan, bahwa para pengrajin sale di Dusun Buniasih jumlahnya lebih dari 30 orang. Kini mereka membutuhkan perhatian pemerintah, karena selama menjalankan usahanya tersebut, para pengrajin belum tersentuh bantuan atau pembinaan dari pemerintah.

“Hingga saat ini kami belum pernah mendapatkan pendampingan khusus dari pemerintah, apalagi dapat bantuan modal. Pernah dari desa meminta foto copy KTP sambil diphoto-photo, namun hanya sebatas itu saja,” tuturnya.

Bahkan, Siti sendiri sudah ada tiga kali diphoto dan dimintai foto copy KTP, tapi dirinya pun tidak tahu untuk apa. Namun, dia sempat mendengar akan mendapatkan bantuan, tapi tidak tahu bantuannya untuk apa, karena sampai sekarang belum ada realisasinya.

“Jangan-jangan itu hanya sebatas menjual nama saja, pengajuan atas nama kelompok namun bantuannya entah untuk siapa. Tapi selama beberapa tahun saya menggeluti usaha ini, belum pernah di sini dibentuk kelompok, padahal pengrajin sale di Desa Kutawaringin paling banyak ya di Dusun Buniasih ini,” ujar Siti.

Pantauan HR Online di lapangan, pengrajin sale di Dusun Buniasih yang sudah berjalan bertahun-tahun itu kini terus bertambah jumlahnya. Selain mampu mendongkrak perekonomian, masyarakat di daerah tersebut juga lebih memilih membuat sale karena bahan bakunya mudah dicari. (Suherman/R3/HR-Online)

KOMENTAR ANDA