P2TP2A Banjar Butuh Shelter? Ini Alasannya

Photo: Ilustrasi net/Ist.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Kekerasan terhadap perempuan di Kota Banjar naik secara signifikan. Data tersebut masih didominasi oleh kasus kekerasan anak di bawah umur. Hal itu dikatakan pendamping hukum P2TP2A Kota Banjar, Nova Chalimah Girsang, SH., MH.

“P2TP2A sifatnya pasif, sehingga data yang kongkrit ada di kepolisian. Kasus yang pernah kita dampingi hampir didominasi kasus di bawah umur,” katanya, kepada HR, Rabu (10/02/2016).

Nova juga menjelaskan, bahwa peran P2TP2A dalam menerima laporan kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan, yaitu melakukan pendampingan secara keseluruhan, baik kesehatan, pendidikan dan perekonomian.

Karena, dalam mengkaji sebuah kasus, terutama pada kekerasan terhadap anak dan perempuan, harus dipertimbangkan dari segi psikis korban. Pasalnya, bukan hanya sekedar menindak pelaku secara hukum saja, tapi jaminan untuk korban harus diperhatikan. Sehingga, P2TP2A dalam melakukan pendampingan membutuhkan keamanan terhadap korban.

“Sebenarnya kami membutuhkan jaminan keamanan dalam hal pemulihan korban. Untuk itu kami butuh sebuah shelter rumah aman bagi korban. Namun, sejak P2TP2A berdiri tahun 2010 hingga sekarang, kami mengajukan tapi justru dicoret oleh pemerintah kota,” ucap Nova.

Menurutnya, sesuai peraturan Undang Undang Nomor 35 Tahun 2014, perubahan UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan, maka kewajiban pemerintah untuk mendanai hal yang terkait dengan perlindungan anak dan perempuan.

“Seperti sekarang ini, ada kasus pemerkosaan dengan korbanya warga Banjar. Ini jelas harus ditangani secara serius. Bukan hanya diatur dalam peraturan perundang undangan ada instruksi gubernur. Kemudian, dalam instruksi Presiden pun menekankan semua kepala daerah harus mengeluarkan kebijakan tentang perlindungan anak dan perempuan,” tandas Nova.

Anggota P2TP2A Kota Banjar, Hendi Hermadi, menambahkan, alasan dibutuhkannya shelter rumah singgah untuk tempat rehabilitasi sekaligus tempat tinggal korban dalam penanganan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak, supaya korban tidak menjadi semakin traumatis.

“Shelter rumah singgah akan disterilisasi dari segala hal yang mengganggu proses hukum, dan shelter rumah singgah akan menjadi rumah yang nyaman bagi korban tindak kekerasan atau traficking perempuan dan anak,” kata Hendi. (Nanks/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA