Petani di Purwaharja Banjar Terancam Gagal Panen

Petani di Purwaharja Banjar Terancam Gagal Panen

Saluran irigasi yang mengalirkan air dari gunung ke Sungai Citanduy maupun ke Cijolang, tampak meluap ke jalan dan lahan pesawahan. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Ratusan hektare sawah di wilayah Lingkungan Siluman Baru, tepatnya di Blok Pulomajeti, Kelurahan Purwaharja, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, teredam banjir, selama sepekan terakhir ini. Para petani di wilayah tersebut terancam gagal panen.

Sahidin, salah seorang warga RT.02, RW. 03, Lingkungan Siluman Baru, mengatakan, ketika musim hujan tiba, areal pesawahan di lingkungannya selalu terendam banjir. Selain luapan air sungai yang turun dari gunung, Sungai Citapen yang dangkal juga menjadi penyebab terjadinya banjir.

“Para petani di sini mengeluhkan kebiasaan buruk ini. Katanya ada kabar sama Pemkot Banjar mau dibikin danau untuk objek wisata, tapi tak ada kabarnya lagi sampai sekarang. Kalau tidak ada kejelasan antara penyelamatan sawah dan pengalihan fungsi lahan sawah yang kerap kebanjiran menjadi objek wisata, maka selamanya petani di sini merugi,” tutur Sahidin, kepada Koran HR, pekan lalu.

Hal senada diungkapkan Ruskanda (56), warga RT.18, RW.09, Lingkungan Siluman Baru, Kelurahan Purwaharja. Menurutnya, saat hujan turun, saluran irigasi yang mengalirkan air dari gunung ke Sungai Citanduy maupun ke Cijolang, meluap ke lahan pesawahan. Akibatnya, jalan dan rumah penduduk sekitar pun tak luput dari terjangan banjir.

“Rumah saya saja sudah tiga hari kena banjir sampai ke dalam. Sawah saya juga sama terendam. Biasanya paling 10 tahun itu 2 kali atau 1 kali terjadi banjir seperti ini. Tapi akhir-akhir ini malah sering banjir, bahkan lebih parah lagi karena air sampai ke rumah,” kata Ruskanda.

Selain di wilayah Lingkungan Siluman Baru, banjir juga merendam sedikitnya 60 hektare areal pesawahan dan rumah warga yang ada di wilayah Desa Raharja, Kecamatan Purwaharja.

Esih (70), salah seorang warga yang rumahnya tepat berada di sekitar Sungai Citapen, mengaku, setiap kali rumahnya terendam banjir, dirinya kerap harus bersusah payah membersihkan sampah di depan halaman rumahnya.

“Kalau Sungai Citapen tidak dangkal, sepertinya hal ini tidak bakal terjadi, walaupun sawah seperti biasa terendam banjir,” ucap Esih.

Sementara itu, Kepala Desa Raharja, Hasim, menyebutkan, areal pesawahan yang terkena banjir saat musim penghujan luasnya sekitar 60 hektare. Sedangkan, sawah yang rawan kekeringan mencapai 80 hektare dan sawah produktifnya hanya 40 hektare.

“Inti persoalan yang dihadapi oleh para petani di Desa Raharja dan Purwaharja adalah dangkalnya Sungai Citapen. Ketika tidak dilakukan pengerukan oleh pemerintah, maka hal ini akan terus terjadi,” tegasnya.

Selain dangkal, aliran Sungai Citanduy secara posisi dengan areal pesawahan sama tingginya. Akibatnya, ketika Citanduy meluap, maka banjir pun datang. Tapi, bila Sungai Citapen dikeruk, maka pembuangan air ke Sungai Cijolang pun akan lancar.

“Warga saya sudah beberapa kali mengusulkan, bahkan mengirim surat ke Presiden Jokowi, tapi sampai saat ini tidak ada tanggapannya sedikitpun,” ujar Hasim.

Dia berharap kepada pihak terkait yang konsen terhadap pengaturan air, serta pemerintah daerah dapat memperhatikan kondisi di daerah Kecamatan Purwaharja, khususnya di Raharja. (Muhafid/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles