Sepenggal Cerita Seniman Wayang Kulit di Banjar yang Terlupakan

Sepenggal Cerita Seniman Wayang Kulit di Banjar yang Terlupakan

Mbah Parikun (64), seniman wayang kulit, warga Dusun Sindangmulya, RT.2, RW.11, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar. Photo: Muhafidz/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Banjar, kota kecil dengan segala cerita yang selalu membawa seseorang kembali mengenang keanekaragaman budaya. Perkembangan zaman yang terjadi dari hari ke hari telah mengubah wajah kota ini semakin asri.

Keanekaragaman budaya yang ada di kota kecil ini adalah dua kultur budaya berbeda antara Sunda dan Jawa. Hal itu karena Kota Banjar merupakan pintu gerbang utama jalur lintas Selatan Jawa Barat, berbatasan dengan Jawa Tengah.

Tak heran, bila di Banjar ini terdapat penggiat seni yang lahir dari dua kultur berbeda, salah satunya Mbah Parikun (64), seniman wayang kulit, warga Dusun Sindangmulya, RT.2, RW.11, Desa Kujangsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

Ketika HR berkunjung ke rumahnya, pekan lalu, Mbah Parikun sedang asyik menggoreskan cat kayu pada lembaran fiber yang dibentuk sebuah wayang. Dengan peralatan seadanya, ia bentuk ratusan tokoh wayang kulit.

Dia pun menuturkan, bahwa sejak 11 tahun lalu dirinya memulai lagi membuat wayang kulit sampai sekarang. Sebelumnya, yakni sekitar 20 tahunan, ia sempat berhenti.

“Saya belum pernah sekolah, dari kecil cuma menekuni wayang. Sekarang saya membuat wayang bahannya dari fiber, karena kalau kulit mahal. Awal saya buat ketika ada pesanan dari Lombok,” tuturnya.

Sosok Mbah Parikun dikenal luas oleh para penggiat seni wayang di luar Kota Banjar. Pasalnya, hasil buah karyanya itu digemari para dalang yang ada di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Di tempat yang sama, Dede (38), anak kedua Mbah Parikun, mengatakan, membuat wayang sudah menjadi pekerjaan ayahnya setiap hari, bahkan hingga larut malam atau sampai jam 3 pagi baru selesai.

Hasil karyanya sudah terjual ke berbagai daerah, seperti Lombok, Bali, Jatim, Jateng dan warga sekitar. Bahkan, banyak dalang yang mengagumi karya Mbah Parikun, salah satunya Ki Joko Goro-goro atau KH. Abdul Rachim, S.Pd.I asal Demak. Menurut Ki Joko, secara aturan bentuk pewayangan yang dibuat Mbah Parikun paling sesuai.

Hanya berbekal alat seadanya serta jiwa seni budaya Jawa yang melekat, Mbah Parikun setiap hari membuat wayang di rumahnya. Bahkan hingga larut malam pun dilakoninya. Sejak kecil dia sudah menghafalkan semua tokoh pewayangan. Mulai karakter tiap tokoh, cerita, sampai bentuk semua tokoh secara detail ia kuasai.

“Sampai saat ini ayah saya hanya menggunakan gunting, cutter, cat kayu dan pisau untuk membuat wayang. Sebenarnya jika alatnya memadai, dia bisa menghasilkan karya yang berkelas,” katanya.

Lanjut Dede, Mbah Parikun mengakui kesulitan dalam menyalurkan hobinya itu lantaran harapannya untuk mendapatkan bantuan alat dari pemerintah tak kunjung datang. Memang dulu pernah ada yang membantu mengusahakan ke pemerintah untuk mendapat bantuan alat, tapi sampai sekarang tidak ada realisasinya.

“Pernah ayah saya ada yang menawarin pindah ke Cilacap, fasilitas hidup dan peralatan membuat wayang sudah disiapkan asal mau pindah domisili. Tawaran itu datang ketika ada satu rombongan pelajar SMA dari Jateng, membuat wayang ke Mbah. Dipenghujung pertemuan ayah saya ditawari seperti itu. Namun, belum boleh sama keluarga maupun warga,” tutur Dede.

Di tempat terpisah, Sirin (33), warga Lingkungan Sasagaran, Kelurahan Bojongkantong, Kecamatan Langensari, mengatakan, untuk melestarikan budaya, generasi muda harus mencontoh Mbah Parikun sebagai seniman.

“Selain pemuda harus mencotoh Mbah Parikun sebagai seniman, kita pun dalam hidup baiknya melestarikan budaya. Saya juga pernah membeli wayang buatan Mbah Parikun, hasilnya memang bagus,” ujar Sirin.

Sementara itu, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Kota Banjar, Ma’mun Syarif, berharap, pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap para seniman yang ada di Kota Banjar. Pasalnya, sampai saat ini perhatian pemkot terhadap seni budaya hanya sebatas melakukan sebuah event, seperti perlombaan.

“Perhatian pemerintah jangan setengah hati. Sudah banyak kasus seniman asli Indonesia yang tidak diperhatikan, malah diperhatikan oleh orang luar. Jadi, budaya bangsa yang digandrungi oleh bangsa lain, justru terbalik di rumah sendiri,” tegas Ma’mun. (Muhafidz/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles