Warga Parungsari Banjar Resah, Bantaran Citanduy Terus Longsor

Marsimin (55), warga RT.8, Lingkungan Parungsari, Kelurahan Purwaharja, Kota Banjar, menunjukkan bantaran Sungai Citanduy yang terus mengalami longsor akibat tergerus arus air. Photo: Hermanto/HR.

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Warga Lingkungan Parungsari, khususnya yang berada di wilayah RT.8 dan RT.12, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar, kini kembali resah. Pasalnya, bantaran Sungai Citanduy di wilayah tersebut terus mengalami pengikisan akibat banjir dan tergerus arus sungai.

Saat ini, bantaran sungai di lokasi itu dalam kondisi sangat kritis, dimana jarak antara bantaran dengan tanggul kini hanya menyisakan 5 meter. Pantauan HR di lapangan, ada beberapa titik lokasi bantaran sungai yang terus mengalami longsor.

Otang (61), warga setempat, mengatakan, dulu, jarak antara bantaran sungai dengan tanggul kurang lebih sekitar 15 meter, tapi kini hanya menyisakan 5 meter. Jika hujan turun, tanah di tepian sungai terus mengalami ambrol atau longsor, sehingga warga pun merasa resah.

“Bantaran sungai kini semakin parah, jarak antara sungai dan tanggul yang sebelumnya 8 meter, kini hanya menyisakan 5 meter. Kalau tidak cepat ditanggulangi, lama-lama tanah tersebut terus longsor hingga ke tepi tanggul,” tutur Otang, kepada HR, Selasa (09/02/2016).

Keresahan serupa diungkapkan warga lainnya, Marsimin (55). Dirinya mengaku cemas melihat kondisi longsoran yang terus bertambah, karena semakin hari, longsoran makin meluas. “Saya khawatir jika air sungai meluap dapat memperparah longsoran menjadi luas, dan lambat laun bantaran sungai pasti akan hilang,” kata Marsimin.

Sementara itu, Ketua RT.8, Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Suparno (53), menambahkan, setiap bulannya bantaran Sungai Citanduy mengalami longsor. Dirinya sudah beberapa kali melaporkan hal ini ke pemerintah kelurahan untuk selanjutnya disampaikan ke pihak BBWSC. Tapi, hingga sekarang belum juga ada realisasinya.

“Tahun 2013 memang sudah ada yang mengukur bantaran sungai di lokasi tersebut, tetapi sampai saat ini belum ada kelanjutannya. Malahan tanah yang dulu diukur oleh petugas dari BBWSC, kini sudah tidak ada akibat tergerus arus sungai,” tuturnya.

Menurut Suparno, pepohonan yang berada di sekitar bantaran, seperti jati, bambu, dan loa, semuanya hanyut terbawa arus sungai. Kini tinggal ilalang dan beberapa pohon bambu saja yang masih bertahan.

Warga berharap, pemerintah segera menanggulangi permasalahan tersebut. sebab, bukan tidak mungkin, dengan seringnya terjadi longsor, lambat laun bantaran sungai akan cepat habis, dan warga khawatir air sungai meluap dan menjebol tanggul. (Hermanto/Koran/HR)

KOMENTAR ANDA