Warga Sebut Proyek Sipon di Ciamis “Mangkrak”

Saluran air atau sipon yang mengalirkan air dari Sungai Citanduy wilayah Banjar ke pembuangan yang berakhir di Sungai Ciseel wilayah Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Ciamis. Photo: Muhafidz/HR.

Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),-

Meski polemik solusi penanggulangan Banjir yang melanda ribuan hektare areal pesawahan di wilayah Desa Sukamulya, Kecamatan Purwodadi, serta di Desa Kertajaya, Sukanagara dan Desa Puloerang, Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis, sudah menemukan titik terang, namun solusi tersebut masih dianggap belum tepat.

Seperti diungkapkan Poniman (64), salah seorang warga Desa Sukanagara, Kecamatan Lakbok, kepada HR Online, Kamis (18/02/2016). Menurut pria paruhbaya yang pernah mengerjakan proyek pembuatan palang pintu air di wilayah Kabupaten Ciamis pada tahun 1980 silam, bahwa wilayah Sawah Pasung, yakni areal yang banjir, sebelum tahun 1980 sudah biasa terendam banjir, namun hanya sebentar saja, tidak berlangsung lama seperti saat ini.

“Setelah pembuatan sipon atau saluran air di bawah sungai, Sawah Pasung jadi sering banjir, bahkan awet banjirnya. Kalau sebelum pembuatan sipon, airnya langsung mengalir ke Sungai Citanduy,” keluhnya.

Poniman menduga, pada saat itu pemerintah membangunnya hanya menggunakan teori semata, sedangkan survey di lapangan lemah. Selain itu, perhitungan ketinggian air yang datang dari Sungai Citanduy wilayah Banjar serta pembuangan yang berakhir di Sungai Ciseel di wilayah Kecamatan Purwodadi tidak sesuai.

“Air itu mengalir dari dataran tinggi menuju ke tempat yang rendah. Sedangkan posisi hari ini, air datang dari ketinggian, tapi di pembuangan juga sama tinggi. Makanya daerah yang rendah seperti di Sawah Pasung menjadi tempat berkumpulnya air dari Citanduy,” imbuhnya.

Menurut Poniman, proyek sipon adalah proyek mangkrak, karena di situlah akar permasalhan banjir yang kerap melanda areal pesawahan di kedua kecamatan tersebut. Sebagai solusinya, pemerintah harus melakukan pengerukan di daerah yang tinggi di jalur sungai setelah Sawah Pasung, bukan dikeruk pada sungai yang berada areal pesawahan.

“Pasalnya, jika dikeruk di areal pesawahan, sama halnya membuat lobang untuk menampung air hujan dan aliran dari Sungai Citanduy,” tegasnya. (Muhafidz/R3/HR-Online)

KOMENTAR ANDA