Dunia Prostitusi di Banjar Kini Berkembang Pesat, Ini Ceritanya

Dunia Prostitusi di Banjar Kini Berkembang Pesat, Ini Ceritanya

Suasana keramaian di Taman Kota Lapang Bhakti Banjar saat malam hari. Photo: Hermanto/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Meski sebuah kota kecil dan hanya memiliki empat kecamatan, namun Kota Banjar tidak kalah ramai dengan kota-kota besar seperti Bandung, Tasikmalaya, dan kota-kota besar lainnya. Pembangunan infrastruktur yang terus meningkat membuat keramian kota di ujung Timur Provinsi Jawa Barat ini semakin berkembang.

Seiring dengan meningkatnya keramaian, tak dapat dipungkiri lagi bahwa dunia malam (prostitusi) di kota ini pun dari tahun ke tahun semakin berkembang. Sejumlah lokasi yang dijadikan tempat nongkrong para wanita pekerja seks (WPS) untuk mencari pria hidung belang kini bertebaran di beberapa titik keramaian.

Pantauan Koran HR di lapangan, Jum’at (11/03/2016) lalu, jika menjelang malam dapat dijumpai beberapa tempat yang dijadikan untuk transaksi WPS, seperti di kawasan Viaduc, Terminal Bis, Taman Kota Lapang Bhakti (Tamkot), dan Jalan Kantor Pos. Mereka biasanya mangkal di warung-warung kopi dan makanan ringan yang tersedia di kawasan itu.

Di tempat itulah, biasanya para pria hidung belang yang membutuhkan pelayanan plus mencari WPS untuk memuaskan hasrat biologisnya. Jika  sudah ada kata “deal” (kesepakatan), maka hotel melati pun siap digunakan.

Namun, ada pula diantara WPS yang enggan melayani tamunya di kamar hotel, dengan alasan takut terjaring razia. Mengenai tarif kencan, biasanya mulai dari Rp.100 ribu hingga Rp.300 ribu.

Saat  Koran HR mewawancarai salah satu WPS yang nongkrong di Tamkot Lapang Bhakti, Jum’at malam (11/3/2016) lalu, sekitar jam 23.00 WIB. Sebut saja Mawar (29), bukan nama sebenarnya. Dia mengaku, jika mendapatkan “tamu” kerap memanfaatkan jasa tukang ojek untuk mengantarkan ke rumah temannya yang bisa dijadikan tempat “eksekusi,” atau ke tempat kost.

“Saat melayani tamu, biasanya “main” di rumah teman atau di tempat kostan, karena saya engga mau di hotel, takut kena razia,” tutur Mawar, yang mengaku pernah dua tahun menjadi penghuni lokalisasi Kalijodo Jakarta.

Dari Tamkot Lapang Bhakti, selanjutnya HR menyusuri kawasan Jalan Kantor Pos. Di sana HR juga berhasil menemui seorang WPS yang tengah nongkrong di sebuah warung kopi sekitar jam 01.00 WIB dini hari.

Sebut saja Melati (28), bukan nama sebenarnya. Dalam perbincangannya dia mengaku dirinya terjun di dunia hitam sudah tiga tahun lalu, yakni semenjak bercerai dengan suaminya. “Sejak tiga tahun lalu saya menjadi begini. Hal ini saya lakukan demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Mawar, jika saja ada pekerjaan yang layak, dirinya pun ingin bekerja seperti pada umumnya, mendapatkan uang yang halal, karena sebenarnya dia tak menginginkan pekerjaan di dunia hitam.

Berbeda dengan Melati, di tempat yang sama, HR pun berbincang dengan WPS lainnya, sebut saja Anggrek (26). Dengan mulut bau alkohol, dirinya menuturkan bahwa terjun ke dunia hitam karena tuntutan gaya hidup dan ingin disebut gaul seperti kehidupan di kota-kota besar. Dia pun mengaku dalam semalam dapat melayani tiga hingga lima pria hidung belang.

“Sudahlah jangan usil, enjoy saja dengan kehidupan masing-masing, yang penting saya tidak merugikan kalian,” ujar Anggrek, dengan nada sedikit sewot.

Sementara itu, salah seorang Mami (germo) yang meminta identitasnya tidak dikorankan, mengatakan, dalam dunia prostitusi sudah pasti sasaran para WPS adalah pria hidung belang berkantong tebal atau biasa disebut gadun. Mulai dari pengusaha, pegawai swasta, hingga oknum pegawai negeri sipil (PNS). “Ya jelas lah sasarannya uang, kalau anda mau juga bisa,” ujarnya, kepada HR, sambil tertawa dan setengah promosi.

Si Mami juga mengaku kalau dirinya hanya menyediakan WPS sesuai dengan permintaan “Si Bos” (sebutan lain pria hidung belang). Sedangkan, para wanita yang menggeluti dunia prostitusi ini rata-rata akibat himpitan ekonomi yang kini semakin sulit.

“Mereka seperti itu karena tuntutan ekonomi, apalagi sekarang mencari kerja sulit, sementara kebutuhan hidup terus bertambah,” imbuhnya.

Perkembangan pesat suatu daerah, jika tanpa dibarengi dengan banyak lapangangan pekerjaan. Akan ada yang mengambil jalan pintas dengan menjadi pekerja seks. (Hermanto/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles