Ini Kronologis Penyadap Nira di Banjar yang Dikabarkan Tewas Tersambar Petir

Ini Kronologis Penyadap Nira di Banjar yang Dikabarkan Tewas Tersambar Petir

Ilustrasi. Foto: Ist/Net

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Jemingun (56), penyadap nira, warga Dusun Kedungwaringin, Rt 03/05, Desa Waringinsari, Kec. Langensari, Kota Banjar, yang sebelumnya dikabarkan tewas akibat tersambar petir, saat mengambil nira kelapa, Kamis (10/03/2016) sore, ternyata jatuh dari pohon kelapa setinggi tujuh belas meter.

Menurut warga, penyebab kematian bapak beranak empat ini, masih simpang siur, apakah karena langsung tersambar petir, atau kaget saat mendengar petir menggelegar dan kemudian terjatuh dari atas pohon kelapa. [Berita Terkait: Penyadap Nira Tewas Tersambar Petir di Waringinsari Banjar]

“Saat kejadian tidak ada orang yang melihat persis. Karena saat itu tengah hujan lebat. Istrinya yang pertama kali menemukan korban tewas pun tidak melihat saat kejadian. Istrinya melihat suaminya tewas setelah mendengar suara benturan keras dari luar rumahnya,” ujar Sarman (47), tetangga korban, Jum’at (11/03/2017).

Menurut Sarman, saat ditemukan, korban sudah mengalami luka yang cukup parah, dengan tangan kanan patah, tangan kiri lecet-lecet dan dari kepala mengeluarkan darah. “Kami menduga korban terjatuh dari pohon kelapa karena kaget saat petir menggelegar. Karena kalau tersambar petir, harus ada luka bakar pada tubuhnya,” ungkapnya.

Sementara itu, Istri korban Siti Maria (45), sekaligus saksi mata, menyebutkan, pada saat kejadian dirinya sedang membuat kue di dalam rumah. Kemudian ia mendengar ada yang jatuh di depan rumah. Dia langsung keluar rumah dan sangat keget ketika melihat suaminya sudah tergeletak di bawah pohon kelapa. “Saya langsung menjerit ketika melihat suami sudah terkapar di bawah pohon,”ujarnya.

Sementara itu, korban keseharinnya bekerja sebagai penyadap nira atau yang lebih dikenal dengan penderes. Korban pun di lingkungan setempat dikenal ramah dan rajin adzan di masjid pada setiap subuh. Korban meninggalkan empat anak yakni, Yasin (21), Yasirun (27), Puji (19) dan Imas (15).

“Korban itu rajin adzan di mesjid, sehingga kini tidak ada lagi suara adzan subuh yang khas dikumandangkan dia,” kata Sarman. (Hermanto/R2/HR-Online)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles