Mengembalikan Banjar Kota yang Tak Pernah Tidur

Mengembalikan Banjar Kota yang Tak Pernah Tidur

Salah satu sudut keramaian di Jalan Letjen. Soewarto yang dulunya dikenal dengan nama Jalan Merdeka, menjadi pusat keramaian di Kota Banjar. Photo: Nanang Supendi/HR          

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Siapa yang tidak kenal Kota Banjar, sebuah kota kecil yang semasa masih masuk wilayah Kabupaten Ciamis dikenal kota yang tak pernah tidur. Alasannya, tentu karena kehidupan malamnya selalu hidup sebagai daerah perlintasan arus barang dan manusia antar provinsi di Selatan pulau Jawa. Baik melalui transportasi darat berupa mobil, maupun jalur kereta api.

Berdasarkan informasi yang dihimpun HR di lapangan, bahwa selain sebagai daerah perlintasan barang dan manusia, Banjar juga menjadi tempat singgahnya orang luar untuk sekedar menikmati hiburan malam yang tersedia di kala itu.

Kini, Kota Banjar telah berusia 13 tahun. Sejak menjadi daerah otonom dengan dipimpin duet Walikota Herman Sutrisno, dan wakilnya, Akhmad Dimyati, kemudian dilanjutkan kepemimpinan Ade Uu Sukaesih dan Darmadji Prawirasetia, hasil pembangunannya memang diakui terbilang sukses, terutama infrastruktur fisik.

Namun, pembangunan sektor ekonomi masih berjalan lamban. Imbasnya, diakui atau tidak kehidupan malam seolah berhenti, suasana kota menjadi redup, sehingga Banjar bagaikan kota mati.

Menurut salah seorang aktivis mahasiswa PMII, Wahidan, bahwa keberhasilan pembangunan fisik saat ini diibaratkan Kota Banjar masih menjadi “gadis seksi tanpa buruan lelaki.”

Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat Kota Banjar, drh. H. Yayat Supriatna, menyebutkan, pusat-pusat keramaian di Banjar tempo dulu begitu hidup. Bahkan, hingga malam hari aktivitasnya terus berjalan, seperti naik turun barang dan orang melalui transportasi mobil dan kereta api.

“Dulu kereta jurusan Banjar-Kroya masih ada, jurusan ke Pangandaran juga masih ada. Tak terkecuali bis-bis besar membumi atau terminal bis hidup, yang sekarang jadi GBI. Nah, artinya Banjar ini dulu memang banyak gudang-gudang, seperti gudang garam dan barang kebutuhan pokok lainnya,” tuturnya, kepada Koran HR, pekan lalu.

Makanya, lanjut Yayat, di Banjar ada nama Jalan Gudang yang sekarang berubah nama menjadi Jalan R. Hamara Effendi. Dengan demikian, kegiatan ekonomi di Banjar kala itu setiap harinya selalu ramai selama 24 jam. Di jalan tersebut juga terdapat Bioskop Kenanga, yang sekarang akan diubah menjadi plaza.

“Pusat keramaian lainnya yaitu di Jalan Merdeka, sekarang Jalan Letjen Soewarto. Di situ juga tersedia hiburan berupa pentas sandiwara dan ada gedung Bioskop Saudara yang sekarang menjadi Toserba Yogya. Kedua bisokop yang ada di Banjar suka memutar film midnight show, yaitu diputar jam 00.00 WIB,” terang Yayat.

Selanjutnya, untuk penginapan atau hotel, dulu memang banyak. Namun, sekarang sebagian ada yang gulung tikar karena sepi pengunjung. Untuk sekelas losmen pun bertebaran di Jalan Stasiun atau Jalan Buntu, tapi sekarang tidak ada lagi.

“Pengunjung hotel dan penonton hiburan di Banjar banyak yang datang dari luar kota, seperti dari Majenang, Pangandaran, Ciamis dan daerah lainnya. Jadi, Banjar tempo dulu ramai dan kehidupan malamnya jalan,” ujarnya.

Namun, kata Yayat, dengan keramaian tersebut, tentu ada dampak negatifnya, yaitu usaha prostitusinya pun ikut jalan. Bahkan, dulu di Banjar terkenal ada germo bernama Uyut Ita yang berada di Bobojong, sekarang Jadimulya. Kemudian di Jalan Baru, tepatnya depan kantor Dinas Kesehatan, ada germo bernama Uyut Rashim.

“Alhamdulilah, sekarang tidak ada. Namun, untuk mengembalikan Banjar sebagai kota yang tak pernah tidur, harus disiapkan mengatasi dampak negatif atau diminimalisir usaha prostitusinya.

Menurut Yayat, jika dikembalikan seperti dulu, memang agak sulit karena kereta jurusan ke Pangandaran sudah ditutup. Untuk menghidupkannya lagi, minimal kereta wisata, tentunya harus didorong ke Kementrian Perhubungan dan seizin pemerintah provinsi.

Terlebih Pangandaran sudah jadi daerah otonomi, jangan sampai Banjar hanya sebagai kota lintasan saja, tetapi arus barang dan orang lebih dihidupkan, karena arus barang/orang sangat menentukan menumbuhkan perekonomian.

Selain itu, lapangan udara yang ada di Kecamatan Langensari, juga perlu dihidupkan kembali, minimal untuk penerbangan komersil, seperti adanya pesawat wisata jurusan Banjar-Pangandaran.

“Dengan begitu, insya Allah Banjar akan terwujud sebagai kota transit yang sebenarnya, dan wisatawan pun akan tertarik kembali untuk singgah ke Banjar,” ujar Yayat.

Kemudian, taman yang ada di Banjar, seperti Taman Kota Lapang Bhakti yang sekarang ini hanya digunakan sebagai tempat nongkrong saja, perlu dioptimalkan lagi pemanfaatnya. Misalkan sebagai tempat para seniman Banjar menampilkan kreativitasnya, minimal setiap malam Minggu.

Degradasi keramaian atau pertumbuhan ekonomi di Kota Banjar, mesti diatasi untuk diupayakan menggeliat dan harus didongkrak kegiatan ekonominya. Investor difasilitasi sebaik mungkin agar mau membangun kegiatan bisnisnya di Banjar.

Kemudian, usaha perhotelan yang saat ini bisa dibilang kolaps karena sering dirazia, bagaimana mampu berkembang dan bisa tumbuh hotel baru. Serta pergudangan yang dulu berjalan, sekarang mampu diaktifkan kembali. Jangan sampai pergudangan berpindah ke Kabupaten Ciamis atau Pangandaran.

Begitu pula penataan kota harus terus dilakukan dengan pentingnya penempatan zonasi atau wilayah pertumbuhan ekonomi. (Nanks/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles