Pria di Kota Banjar Ini ‘Sulap’ Pelepah Pisang Jadi Karya Seni Unik

Pria di Kota Banjar Ini ‘Sulap’ Pelepah Pisang Jadi Karya Seni Unik

Sasmanto tengah merampungkan kerajinan miniatur perahu layar dari bambu yang dipesan konsumennya. Photo: Muhafid/HR

Berita Banjar, (harapanrakyat.com),-

Sebagian orang menganggap pelepah pisang hanyalah sampah biasa. Namun, di tangan Sasmanto (39), warga RT. 4, RW. 2, Dusun Sinargalih, Desa Langensari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, pelepah pisang bisa menjadi sebuah karya seni yang bernilai ekonomi.

Hanya dengan bermodalkan lem kayu, kanvas atau kardus bekas maupun GRC, Sasmanto dapat membuat sebuah lukisan dari pelepah pisang yang ditempelkan pada kanvas atau kardus maupun GRC sesuai gambar yang akan dibuat.

“Modalnya cuma lem kayu sama kanvas, atau kardus maupun GRC, gimana pesanan. Kanvasnya saya lumuri lem kayu, setelah itu pelepah pisangnya saya tempelkan sesuai gambar yang akan dibuat. Setelah kering, baru dilumuri lem kayu lagi agar mengkilap. Bagusnya diberi pernis, tapi saya jarang pakai,” tuturnya, kepada Koran HR, saat ditemui di rumahnya, Senin (21/03/2016) lalu.

Casper, panggilan akrab Sasmanto, bersama sang istri, Risnawati (40), sehari-harinya berjualan minuman segar di Alun-alun Langensari, dari jam 15.00 WIB-21.00 WIB. Sisa waktunya dihabiskan untuk melukiskan imaginasinya dengan pelepah pisang.

“Sejak 12 tahun lalu saya mulai menekuni pekerjaan sampingan ini. Sebetulnya berawal dari desakan ekonomi, makanya saya harus memutar otak untuk mendapatkan rupiah demi menyambung hidup,” ujarnya.

Selama itu, pasang surut penjualan lukisan pelepah pisang dialaminya. Selain peminat yang sedikit, juga dirinya pernah dibohongi oleh oknum pegawai pemerintah di Kota Banjar yang menjanjikan lukisannya akan dipamerkan dalam sebuah event. Tapi sayang, puluhan lukisannya dibawa, namun uang maupun lukisannya tidak ada yang kembali.

“Kalau sekarang alhamdulillah, ada saja yang pesan lukisan pelepah pisang. Harganya vatiatif, tergantung pesanan,” tukasnya.

Selain lukisan dari pelepah pisang, Casper juga membuat miniatur perahu layar yang terbuat dari bambu. Dengan bermodalkan beberapa bambu berukuran sekitar 40 centimeter, Sasmanto menyusun bambu yang telah dibelah tipis.

Bila kerangka miniatur perahu layar sudah berbentuk, lalu diamplas hingga setiap sisinya menjadi halus, selanjutnya baru dipernis supaya halus. Kalau sudah bagus, tinggal diantar ke pemesan.

“Pembelinya masih terbatas, hanya yang memesan saja yang saya buatkan. Saya juga mempromosikan melalui media sosial facebook,” katanya.

Menurut Sasmanto, membuat miniatur perahu layar memang paling rumit. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal butuh waktu hingga 4 hari. Mengenai harga sebuah miniatur perahu layar, dirinya mematok dari Rp.200.000 sampai Rp. 300.000.

Istri Sasmanto, Risnawati, mengatakan, bahwa kegiatan suaminya itu tanpa ada yang mengajarinya ataupun sebelumnya mengikuti pelatihan. Saat mulai membuat kerajinan tersebut, Sasmanto hanya bermodalkan informasi yang didapat mulut ke mulut, bahwa kerajinan berdaya jual cukup lumayan bisa dibuat dari bahan yang murah, yakni lukisan pelepah pisang maupun miniatur perahu layar dari bambu.

“Anak saya semakin besar, otomatis kebutuhan semakin meningkat. Makanya suami saya sekarang kesibukannya bertambah. Kalau masalah bantuan dari pemerintah saya tidak terlalu berharap. Saya mengikuti prinsip suami saya, bahwa jeratan kemiskinan tidak boleh menghalangi seseorang untuk berkarya,” kata Risnawati.

Sementara itu, Roni, warga Muktisari yang hendak memesan miniatur perahu layar kepada Sasmanto, mengaku memesan barang tersebut untuk dipajang di rumahnya. karena selain unik, kerajinan tersebut juga terbuat dari bahan yang murah menjadi barang bernilai jual ekonominya lumayan tinggi.

“Sebenarnya kalau saja kerajinan yang dibuat Sasmanto ini dikembangkan lagi dengan dukungan dari pihak yang bisa mengakomodir, saya yakin kerajinan hasil limbah maupun bahan murah dapat berkembang di Banjar. Syukur-syukur dapat dijual ke luar daerah,” ujar Roni. (Muhafid/Koran-HR)

KOMENTAR ANDA

Komentar

Related articles